Pemenang, Pecundang dan Penjiplak

karo

Simbisa (Panglima) Perang Suku Karo Tempo Dulu (Tropenmuseum)

Oleh MU Ginting

Kita punya perang masing-masing, sungguh benar, dan perangnya tak terhindarkan. Perang bukan hanya tembak-tembakan dan bunuh-bunuhan tentu. Bentuk ini hanyalah bentuk tertinggi perkemangan kontradiksi. Tapi dalam bentuk apa saja yang lain sangat banyak. Bisa dalam keluarga, bisa antara suami istri, antara anak dan orang tua dsb atau kalau kita sudah biasa mengexpresikan di milis dengan istilah KONTRADIKSI atau PERTENTANGAN. Dan hebatnya milis kita ialah bahwa perang atau pertentangan atau kontradiksi ini adalah tenaga penggerak perubahan dan perkembangan, dan dengan sendirinya KEMAJUAN, PROGRES.

Siapa panglima perang ini? Masing-masing kita sendiri, tak mungkin orang lain, karena perang ini adalah yang dihadapi tiap orang, tiap manusia. Dan sejarahnya nanti dibaca jauh setelah kita meninggalkan dunia ini. Tidak tergantung perangnya besar atau kecil, tapi tetap ada yang mengingatnya atau yang mencatatnya.

Bayangkan kalau tiap orang Karo (panglimanya) bisa memenangkan setiap perangnya terutama yang ada sangkut pautnya dengan kemajuan dan perkembangan Karo seperti ancaman kepunahan Karo secara kultur dan daerah,  maka perang ini akan bersifat kolektif serentak dan kemenangan adalah milik bersama etnis/kultur Karo. Ini sekarang bisa terlihat dalam mobilisasi gerakan Karo Bukan Batak (KBB).

Ada atau tidak ada perang itu? Tiap panglima (tiap orang) harus menjawab lebih dahulu (mental kita). Tiap panglima tentu melihat adanya perang dan selebihnya bagaimana menghadapinya. Kalau tak melihat, berarti dia sudah mundur duluan sebelum menghadapi. Ini tentu tanda kemunduran, atau pecundang karena sudah kalah duluan. Kalau semua panglima ini jadi pecundang, Karo punah, tak terhindarkan.

Banyak contoh etnis-etnis bakal punah, panglimanya tak melihat perang, tentu tak siap perang dan menerima saja serangan orang lain/luar. Kepunahan etnis tinggal tunggu. Orang bilang kalian ‘Batak’, monggo saja atau pura-pura tidak dengar, menyingkir ketempat tidur. Orang bilang kalian sub-etnis Batak dan kami Batak, monggo juga. Atau kalian Aceh atau sub-etnis Aceh, monggo juga. Pendeknya tak ada perang, walaupun sudah tahu kalau itu adalah politik dan disinilah dilahirkan calon pecundang.

Kalian ‘kalah telak’, monggo juga. Tak dijawab apa-apa. Kalau kalian punya jenderal 30, kami 100 ini kalian kalah telak katanya, monggo juga. Padahal kalau disimak sedikit saja kalau mereka mau menang mestinya punya jenderal lebih dari 6×30 orang sebab mereka 6x lebih besar. Siapa sebenarnya yang kalah telak?

Orang ini kan cuma ‘kai pe belasina’, tapi kita kalah karena tak mau perang tadi. Bagaimana kalau orang tipe ‘kai pe belasina’ bisa mengalahkan orang Karo? Masih adakah orang yang tak bisa mengalahkan orang Karo?

Yang betul ialah ‘war’ ini harus dihadapi. Inilah yang betul dan ini pula sifat panglima yang sejati. Cara menghadapinya, sebagai panglima tentu punya taktik dan strateginya masing-masing. Tapi harus dihadapi. Menghadapinya dimilis kita bilang ialah, ‘Katakan apa yang harus dikatakan, tulis apa yang harus ditulis, bikin apa yang harus dibikin’, maka kemudian disinilah dilahirkan calon pemenang.

Bilang-Bilang Sebagai Sastra Istimewa

“Semua jenis yang ditulis dengan aksara Batak bisa ditemukan di Karo (turi-turin, obat-obatan, ramalan, kalender, dll), sedangkan bentuk sastra tulisan yang satu ini, yang disebut Bilang-bilang, tidak didapati di tempat lain” demikian yang pernah dikatakan oleh Juara R Ginting.

Bilang-bilang ini memang bentuk sastra yang sangat istimewa. Semacam gugahan hati yang mendalam dilukiskan dalam kata-kata atau expresi perasaan orang Karo. Dan juga sangat tipikal Karo, tak akan dimengerti oleh etnis lain, tak mungkin dipahami. Seperti lagu/nyanyian Karo dikatakan ‘orang nangis’. Tandanya kultur, way of thinking sangat jauh berbeda.

Dan bilang-bilang dituliskan dalam huruf-huruf atau Surat Karo, tak mungkin dalam  Aksara Batak (sekiranya aksara Batak itu ada), karena perasaan dan mulut Karo ada ca, mba, nda, dimana huruf-huruf ini tidak ada dalam aksara 4 suku lainnya (Pakpak, Simalungun, Toba, Mandailing).

“Sekiranya Aksara Batak itu ada ” atau tentative kata Juara R Ginting, sangat masuk akal kalau akan timbul pertanyaan siapa yang pertama menciptakan dan siapa yang menjiplak? Atau hanya mungkin satu yang menciptakan dan 4 suku lainnya njiplak, atau ada satu tukang jiplaknya untuk semua.

Cobalah perhatikan ‘indung surat’ Karo. Semua sama pada 5 suku, tetapi  hanya pada suku Karo yang lengkap dengan huruf ca, mba, nda. Bagaimana kok serentak bisa sama ‘indung suratnya’ pada 5 suku?  Mungkinkah 5 suku serentak dan bersamaan menciptakan alfabet yang sama?

Memang mungkin dalam sejarah ilmu pengetahuan seperti fisika atau astronomi dua orang ahli yang tinggal berjauhan bisa punya kreasi (ciptaan, penemuan) yang persis sama. Tapi tidak mungkin dalam bikin huruf-huruf atau aksara seperti Surat Karo.

Saya teringat ungkapan “exuberant cultural borrowings” oleh Susan Rotgers dalam buku POWER AND GOLD, bagaimana antara kultur-kultur zaman lalu saling meminjam dan menirukan, tetapi juga mengakui sebagai ciptaan kulturnya sendiri. Susan Rotgers tulis dalam buku buku POWER AND GOLD, Susan Rotgers, Barbier-Mueller Museum Geneva:

“Other ‘Karo’ pieces are used by Simalungun and northen Toba Batak as well, who claim the designs as part of their own ancestral culture. In fact, Karo metal jewelry traditions thwart any rigid attempt to divide the map of Indonesia into clear-cut ethnic home lands with definite artifacts. Karo culture, in othe words, is a document of Sumatra’s history of shifting political systems and exuberant cultural borrowings.”

Dalam hal ini bagi Susan Rotgers sangat jelas siapa yang meminjam dan mengakui miliknya pula alias penjiplak.

Ada zamannya dimana kultur dan artifaknya ‘saling meminjam’, dan kemudian mengakui sebagai miliknya, karena dulu tak ada hukum atau peraturan yang berlaku soal perlindungan hak cipta seperti sekarang. Bahkan sekarang bisa dibongkar kembali siapa yang menjiplak apa dan dari siapa, seperti artifak Karo diatas. Pasti juga bisa berlaku dalam soal Surat Karo, siapa yang ‘meminjam dan mengakui sebagai haknya’ dan siapa yang pencipta. Karena tak mungkin tercipta di lima tempat secara serentak dan persis sama semua (indung surat dan yang lengkap dengan huruf ca, mba dan nda hanya di Surat Karo).

Uli Kozok salah satu penulis Surat Batak, mengenai arus (arah) perkembangan huruf ini berpendapat dari ‘selatan ke utara’ artinya dari Batak ke Karo. Setelah penemuan Kebayaken (budaya tertua didunia yang pernah ditemukan dengan DNA Gayo dan Karo), arah ini sudah tak berlaku. Arus perkembangan kebudayaan jadi bertukar arah dari Utara ke Selatan atau dari Gayo/Karo ke Batak.

Sumber: Milist Infokaro, Juli 2013

Posted in Opini | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Dari Jong Sumatera ke Jong Batak menuju Jong Karo

mejuah-juah

Mejuah-juah adalah salam khas Suku Karo dengan latar Monumen Guru Patimpus Sembiring Pelawi, Pendiri Kota Medan

“Tiada satu pun di antara kedua pihak berhak mencaci maki pihak lainnya oleh karena dengan demikian berarti bahwa kita menghormati jiwa suatu bangsa yang sedang menunjukkan sikapnya.” Demikianlah pernyataan Sanusi Pane tentang akan dibentuknya perhimpunan pemuda-pemuda Batak yang kemudian disepakati bernama “Jong Bataks Bond.”

Pernyataan itu bersumber dari Nationalisme, Jong Batak, (Januari, 1926). Dalam naskah itu, Sanusi Pane menyampaikan gagasannya bahwa perhimpunan bagi pemuda-pemuda Batak bukan berarti upaya pembongkaran terhadap de Jong Sumateranen Bond (JSB). Tetapi sebaliknya, menumbuhkan persaudaraan dan persatuan orang-orang Sumatera. Karena itu, Sanusi Pane mengingatkan agar tak ada caci maki antara kedua belah pihak. Semua harus saling menghargai dan menghormati sebagai sesama bangsa, lebih-lebih sebagai sesama Sumatera.

Dan perhimpunan Jong Bataks Bond bukanlah “perhimpunan tandingan” terhadap JSB. Walaupun banyak yang mengatakan bahwa disamping sentimen nasionalis, motif-motif duniawi lebih memainkan peranan dalam usha mendirikan perhimpunan yang khas Batak, yaitu jengkel dengan keadaan Jong Sumateranen Bond yang selama beberapa tahun berada dalam keadaan limbung, dan menolak dominasi Minangkabau. Ada “suasana menekan” di dalam perhimpunan itu, ada “sikap menahan diri” antara sesama anggota klub (Aminoedin Pohan, JB, 1926).

Namun, sebagaimana yang dikatakan Sanusi pane, berdirinya perhimpunan pemuda-pemuda Batak lebih pada tumbuhnya persatuan yang lebih besar di antara orang-orang Sumatera. “Sekali memilih dalil bahwa kekuatan suatu bangsa sebagian terdapat dalam kebudayaannya maka dengan berpikir secara konsekuen kami telah sampai kepada kesimpulan bahwa suatu Jong Bataks Bond mempunyai hak untuk berdiri.” Demikianlah Sanusi Pane menegaskan.

Selanjutnya, ia tak lupa mengingatkan kepada pemuda-pemuda Batak ihwal komitmen dasar dalam sebuah perhimpunan: “Jika kita ingin agar perhimpunan ini berumur panjang, maka jangan sekali-kali kita memasuki perhimpunan ini dengan pertanyaan keuntungan apakah yang akan kita peroleh, melainkan dengan pertanyaan apakah yang dapat kita berikan. Janganlah kepentingan kita sendiri menjadi pendorong kita untuk menjadi anggota, melainkan rasa cinta terhadap rakyat Batak, yang menantikan tuan-tuan sebagai anak-anaknya dan cinta terhadap cita-cita Pemuda Sumatera.”

***

Ketika kita berbicara Karo Bukan Batak (KBB), kenapa ada pula suara-suara saudara kita dari kalangan Batak itu, bahwa orang Karo khususnya para penggiat KBB telah mengingkari keberadaan Jong Bataks Bond, dimana orang Karo juga dianggap sebagai bagian dari Jong Batak selama ini? Menelisik pernyataan Sanusi Pane sebagai salah satu pendiri Jong Bataks Bond diatas, maka terkait keberadaan KBB selama ini, seharusnya tidak ada lagi saling caci maki antara Karo maupun Batak, sebab KBB sendiri adalah bagian dari persatuan yang lebih besar di antara orang-orang Karo yang notebene adalah bagian dari Sumatera.

Posted in Sejarah | Tagged , | 1 Comment