Mengenal Masyarakat Karo Bukan Batak

Jikalau diteliti, disetiap penerbitan buku, pasti mempunyai maksud dan tujuan (untuk itu harus disimak secara mendalam, jangan terkecoh terutama mengenai masyarakat karo, dan bagaimanapun kejadiannya kita sendiri sebenarnya yang merasakannya  sebagai orang karo, sedangkan penerbit dan pengarang buku tersebut bukan orang Karo, manalah mungkin dia memahaminya secara mendalam dan dipastikan hanya bagian luarnya saja. Selain itu apa yang melatar belakangi pembuatan buku itu sendiri tentunya ada maksud tujuan tertentu, mau diarahkan kemana benak yang membacanya sehingga persepsinya  menjadi lain dalam mengenal Masyarakat karo yang dia uraikan tersebut, sesuai dengan yang hendak dia ingin paparkan).

Dapat kta rasakan dampaknya bahwa sampai saat ini dimanapun kita berada bagi masyarakat Indonesia sampai ke jajaran pemerintahan sampai kepucuk pimpinan Pusat sapaan kepada kita orang karo disapa sebagai Orang Batak. bahkan dilingkungan   Legeslatif oleh penjabat-penjabat pemerintah sapaan itu selalu muncul.

Tidak cuma sampai disitu, namun pada bidang pendidikan, bertemu para pendidik/guru- guru, maka ternyata di sapanya juga kita sebagai orang Batak, di RT/RW kantor-kantor lainnya. Mereka tidak mengenal Orang Karo. Saya tidak merasa ploong dengan sapaan itu, akan tetapi merupakan kenyataan bahwa Kebudayaan Masyarakat Karo, bahasa Karo, Aksara Karo, Merga- Merga SILIMA di Karo, Sastra Karo, Jenis Pakaian Karo, Lagu- lagu Karo, Makanan Khas Karo, Adat Istiadat karo, Salam Mejuah- juah dari karo masih sangat kurang dikenal masyarakat suku- suku lain di Indonesia, bahkan  penulis serta peneliti Eropa, Amerika, dan Asia juga demikian.

Maafkan saya, tidak perlu masyarakat Karo sakit hati dan malu, akan tetapi mengapa demikian ironisnya? Mengapakah orang Karo didalam masyarakat Indonesia sama seperti halnya daun sirih tak bertangkai? Dalam ikatan ia berada  di dalam, tetapi tidak masuk dihitung, sebab  tak bertangkai. Istilah dalam bahasa Karo disebut “BAGI BELO LA ERTANGKE”.

Untuk itu timbul pertanyaan lebih jauh, mengapakah selama ini dari tahun 1900-an penjajah datang, ke  Karo, sampai tahun 2011 ini, masih saja sebutan kepada orang Karo sebagai orang Batak?. Benarkah orang Karo itu  mempunyai religi BATAK?  Apakah masyarakat menyadari  bahwa agama Kristen itu diturunkan melalui/ memakai bahasa pengantarnya  bahasa Ibrani? Agama Islam diturunkan  memakai bahasa ARAB ?

RELIGI BATAK itu memakai  bahasa pengantarnya bahasa Batak? Sejak datangnya sampai kini di Pusuk Buhit, UGAMO  MALIM atau PARMALIM (BATAK?)  adalah kepercayaan. Apakah masyarakat Karo dan luar Karo memahami bahwa masyarakat Karo di dataran tinggi ,maupun  masyarakat Karo di dataran rendah belum pernah  memeluk RELIGI BATAK?

Siapakah yang menyapa dan menyebut masyarakat Karo itu sebagai  Batak Karo?  Mengapakah  dalam bahasa asing  ada organisasi  keagamaan  menyebut wadahnya Batak Karo  Bata,s  atau dalam bahasa Indonesia Batak Karo? Benarkah para peneliti, pengarang, penulis menyakini akan tulisannya pada karyanya itu bahwa bahasa Toba hanya lain logat dengan bahasa Karo ? Demikian pula alat kelengkapan buah akalnya  dalam  kebudayaan cukup jauh bedanya, akan tetapi mengapa suka disama-sama kan?

Dari mana asal muasal Karo? Apakah menurut etimologi bahasa oleh peneliti dari Eropa, Amerika, Asia, dan Pribumi? Betulkah penulisan dalam buku antropologi bahwa Batak itu sebuah Suku Batak? atau Ras? Apakah  dasarnya disebutkan Suku Batak terdiri dari Sub Suku, yaitu Suku Karo, Toba,  Pakpak, Simalungun, Angkola, dan Mandailing ?

Apakah benar Suku  Batak itu terdiri dari banyak logat-logat bahasa, yaitu logat Karo, logat Toba, logat Pak pak, logat Simalungun, logat Angkola, dan logat Mandailing?

Benarkah hanya perbedaan logat? Bukankah ini merupakan sebuah perbedaan bahasa? Pernahkah diuji kebenarannya bahwa ini hanya cuma perbedaan logat-logat saja? Disadarikah oleh masyarakat luas bahwa bahasa Karo adalah  bahasa kesatuan orang karo terdiri dari logat Gunung/Karo Jahe, logat Kenjulu, logat Jahe-jahe ?

Ketiga logat dalam  bahasa Karo ini, jika diuji didalam satu pesta adat perkawinan yang rumit dan unik, maka mereka akan tetap memakai bahasa Karo  dengan logat-logat yang berbeda. Namun dalam suatu pesta perkawinan seorang Karo dengan seorang Toba , atau dengan seorang Mandailing, atau Pak-Pak, atau seorang Simalungun atau seorang dari Angkola  merundingkan emas kawin dalam sebuah adat? Mungkin kacau balau? Penulis belum pernah mendengarnya, tetapi perkawinan itu sudah ada dan disaksikan ternyata mereka memakai bahasa Indonesia dan bukan bahasa Batak.

Mengapa demikian? Bukankah hal ini suatu bukti bahwa bukan cuma perbedaan logat diantara bahasa Karo, Toba, Simalungun, Pak-Pak, Angkola, dan Mandailing? Akan tetapi benar perbedaan bahasa yang tidak saling mengerti. Karena perbedaan bahasa  tersebut agar tidak merusak jalannya musyawarah pada sebuah pesta, maka dipakailah bahasa Indonesia

Jika yang mengerti satu tiga orang,itu bukan ukurannya. Sama juga kalau ada satu dua kata bahasa serupa, bukan ukuran satu ras, demikian juga nama. Masalah itulah sebenarnya mendorong hati nurani kita di Group SAPO HOLLAND ini  untuk mendalaminya  dalam segala informasi untuk diambil sari patinya, sehingga dapat melestarikan Kebudayaan kita orang Karo “bagi oratna” dan diharapkan dapat menjadi bermakna bagi seluruh masyarakat Karo dimanapun dia berada.

Melalui Group SAPO HOLLAND yang notebene berada pada situs jejaring sosial Facebook ini dan bisa diakses sedemikan rupa dari mana saja, sehingga  orang karo semakin dapat dikenal oleh masyarakat dunia. Saya bertanya, karena ada sementara orang yang menyamakan “Dalihan Na Tolu” dengan “Rakut Sitelu”.

Jika diteliti, Dalikan  di rumah asli orang Karo, maka daliken itu ada LIMA (5). Saya sangat ingat betul bahwa dua + dua +  satu (ditengah agak lebih besar) = lima. Jika memasak, kuali dapat dinaikan dua sekali gus. Oleh sebab itu saya tidak mengerti, jikalau Rakut Si Telu, disamakan dengan Dalihan Na Tolu dan apabila dilaksanakan atau di sama-samakan , dalam pelaksanaan adat perkawinan  orang Karo, apa yang dimaksudkan RAKUTNA SI TELU dengan DALIHAN NA TOLU, sangat mungkin kacau balau, karena rumusannya sangat berbeda.

Contohnya teori TRIAS POLITICA oleh Montesque jika disama-samakan dengan PANCASILA, sebagai dasar melaksanakannya Pemerintah ,akan sangat berbeda (?). Begitu juga  mengenai tutur, dimana pada Masyarakat Karo  sangat tebal artinya “garis ayah” dan “garis ibu” sebab dilaksanakan secara berbarengan (Parental atau Bilateral). Jadi bukan  hanya  Patrilineal akan tetapi juga Matrilineal.

Sumber: Facebook.com

About karobukanbatak

Suku Karo adalah suku asli yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Deli Serdang, Kota Binjai, Kabupaten Langkat, Kabupaten Dairi, Kota Medan, dan Kabupaten Aceh Tenggara. Nama suku ini dijadikan salah satu nama kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Kabupaten Karo. Suku ini memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Karo. Suku Karo mempunyai sebutan sendiri untuk orang Batak yaitu Kalak Teba umumnya untuk Batak Tapanuli. Pakaian adat suku Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas.
This entry was posted in Opini and tagged , . Bookmark the permalink.

71 Responses to Mengenal Masyarakat Karo Bukan Batak

  1. Handry Sisingamangaraja XIII says:

    Kalo karo bukan batak,, yg batak siapa???
    Apa toba batak???
    Fakfak batak ???
    Lalu bagaimana dengan mandailing???
    Dan simalungun???
    Saya menganggap Batak seperti kisah nabi Ibrahim as yg mempunyai dua anak yaitu Ismail as dan Ishak as. yang kemudian menjadi dua bani besar yang kini berbeda negara dan itu saling bermusuhan dalam berbicara agama dan kebiasaaan… Padahal mereka satu garis keturunan yaitu sang bapak nabi Ibrahim as. Mungkin hal itu bisa terjadi mengingat manusia pertama adalah sang nabi adam yang telah melahirkan bermacam-macam ras didunia ini dari yang sipit, kulit hitam, rambut pirang, hidup mancung dan lain-lain. Apa sich yg menyebabkan karo memiliki marga? mengapa tulisan kuno di sumatera hampir sama?? Dan kenapa Horas pun ada di karo??? tolong beri saya pengetahuan lagi…

  2. dimana-mana kalo karo pake mejuah-juah lae..

  3. david.tarigan says:

    karo ya karo , tole artinya tambah nak ,mejuah juah

  4. evran_tarigan says:

    gk bgitu ngerti, tp ini topik bagus, apalagi slama ini sy jarang kumpul dgn komunitas Karo,

  5. Bernat Padang says:

    Kemungkinan Karo itu lebih mirip ke Pakpak ataupun sebaliknya.
    Ada beberapa istilah di Karo yang sama atau mirip dengan Pakpak.
    1. Njuah njuah ==== Mejuah juah ; yang jelas keduanya tidak menggunakan kata Horas.
    2. Silih = silih
    3. Turang = turang
    4. Impal = Impal
    5. Enda = enda
    6. Simenguda ==== Singudanguda
    7. Bagendari === genduari, Ue === Oe dll

    • tanah dairi (Pak-fak) adalah daerah pemekaran silih !, jadi semua marga yang ada dipak-pak adalah marga yang ada di Toba !, Sinaga=Brutu, Padang=Situmorang, Kaloko= Sihaloho (Silalahi) dll. dan tidak ada orang pak-pak yang mengelak itu !. dalam setiap ulaon paradaton, merga2 itu semua sudah tahu posisinya.
      Bahasa pak-fak emang agak mirip dengan Karo, itu mungkin karea dairi Lebih dekat dengan lingkungan karo.

    • BS says:

      Jika ditinjau dari segi sifat, bahasa serta dialek, kebiasaan, dan banyak hal lagi! Karo, Pak-pak(Dairi), Gayo, dan Alas. Mungkin dapat juga membentuk satuan etnisitas tersendiri. Namun, jika dipaandang ke Toba, Simalungun(tapi dialeknya lebih dekat ke Karo), Angkola, dan Mandailing mereka juga sangatlah sama dalam segala hal.!

  6. permana sinukaban says:

    mejuah-juah,
    Boleh saja orang mengatakan bahwa Karo termasuk Batak, tapi mayoritas rakyat karo merasa bahwa mereka bukan Batak. Karena dari segi budaya, adat, istiadat bahkan bahasa sangat berbeda dengan Batak. Tetapi perlahan dan pasti orang2 sudah mulai mengenal Suku Karo karena dimanapun orang karo selalu membawa nama suku karo bukan suku batak. Tentunya untuk pengukuhan ini dibutuhkan peran Gereja. karena sampai saat ini Gereja kristen karo masih disebut GBKP (gereja batak karo Protestan). seandainya gereja mengubah nama menjadi Gereja Karo Protestan atau nama lainya asal menghilangkan kata Batak maka saya percaya Suku Karo akan menemukan kembali Jati Diri sebagai suku tersendiri tidak menjadi “Belo si la ertangke”.

    bujur

    • Batak ?? siapa ? Toba Bukan Batak, Toba adalah Toba!!, dan orang Toba tidak boleh mengatakan dirinya sajalah Batak !!. “Belo la ertangke” ini adalah filosofi Karo yang artinya sangat dalam !! yang tidak saya kira tidak cocok kalau dikaitkan dengan penolakan Karo agar tidak disebut Batak !, silahken banyak bertanya sama yang lebih tua !, atau mungkin bisa mencari sejarah mengapa GBKP bukan GKP ??

      • LEmboto says:

        Saya ingin bertanya….kata “batak” itu sebetulnya artinya apa ya? kenapa bisa muncul kata batak?

      • BS says:

        Penggunaan kata “Batak” terutama di masa kolonial Belanda, digunakan untuk mendiskreditkan sekelompok masyarakat yang dalam buku “Riwayat Poelaoe Soematra” karangan Dja Endar Moeda (1903); “Adapoen bangsa jang mendoedoeki residetie Tapanoeli itoe, ialah bangsa Batak namanya. Adapoen kata “Batak” itoe pengertiannja; orang pandai berkuda. Masih ada kata “Batak” jang terpakai, jaitoe “mamatak”, jang ertinja menaiki koeda. Kemoedian hari orang perboeatlah kata itoe djadi kata pemaki kepada bangsa itoe�”
        Dari versi ini terlihat, penggunaan kata “Batak” yang kemudian dibubuhi nuansa negatif itu, berlaku bagi setiap kelompok masyarakat yang secara administratif bermukim di persekitaran Tapanuli (Silindung-Humbahas-Toba-Samosir) yang melakukan perlawanan terhadap Belanda. […]

        “Akuisisi” Gereja dan PKI
        Menurut Lembaga Penelitian dan Studi GBKP seperti dikutip penulis dari www. Permatabethesda.com, perkabaran Injil di Karo, dibagi atas dua kurun waktu. Pertama tahun 1890-1906 yang disebut waktu Permulaan. Kurun waktu kedua disebut masa Penanaman dan Penggarapan (1906-1940).
        Bisa dikatakan, penginjilan di Karo, tak disengaja. Awalnya merupakan strategi Belanda untuk memuluskan aksi dagangnya di Karo. Waktu itu, keberadaan Belanda ditentang habis-habisan karena mengambil tanah rakyat untuk ditanami tembakau.
        Untuk meredamnya, Belanda melakukan pendekatan agama, yakni pengabaran injil. Upaya itu berhasil. Lantas, Kepala Administrasi Deli Mij, Mr. J.T. Cremer, mengadakan perjanjian dengan Nederlandsche Zending Genoothchac (NZG), sebuah zending yang ada di Belanda untuk mengirim tenaga-tenaga tambahan Pengabar Injil ke Deli.
        Melihat dinamika itu, sejak 1939 upaya untuk memandirikan Karo mulai dirintis. Pada 1940, dikirimlah dua guru injil pribumi, masing Palem Sitepu dan Thomas Sibero ke sekolah Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) di Sipaholon. Keduanya menyelesaikan studi pada pertengahan sidang Sinode Pertama, yang menetapkan nama Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) di Sibolangit tanggal 23 Juli 1941.
        Sebelumnya, Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) yang dirintis Nommensen (Jerman) sendiri, dianggap simbol keberhasilan kerja misionaris di Tanah Batak, sekaligus merupakan Kristen Lutheran yang pertama ada di Tanah Batak. Euforia kejayaan Jerman mengkristenkan Batak yang sarat herois ini, kemudian diberlakukan bagi kelompok-kelompok masyarakat Kristen lain, termasuk Karo. Bisa disebut, masyarakat Kristen Karo yang �bentukan� Belanda, itu “diakuisisi” Jerman menjadi Batak.
        Setelah fase itu, perkembangan GBKP, menurut Juara, tak serta merta pesat. Banyak masyarakat Karo yang belum memilih Kristen sebagai afiliasi keyakinannya. Di antaranya, masih menganut ajaran-ajaran yang bercikal pada tradisi leluhur mereka. Kemudian meletuslah pemberontakan PKI tahun 1965. Dalam rangka pembumihangusan PKI, pemerintah menyusup ke daerah-daerah, terutama yang masyarakatnya belum menganut identitas agama resmi versi pemerintah.
        Kesan yang dihembuskan pemerintah waktu itu, menyiratkan PKI identik dengan masyarakat yang belum mengenal agama dan mesti dibantai. Stereotif itu memaksa kelompok masyarakat tradisi Karo harus menganut salah satu agama. Karena kedekatan emosional, mereka kemudian memilih GBKP sebagai identitasnya. Sejak itu, jemaat GBKP membludak, sehingga berkembang mindset, setiap Karo yang Kristen adalah GBKP. GBKP sudah pasti Batak.
        Bagaimana pun penggalan-penggalan kisah ini merupakan sekelumit sejarah yang mengiringi perjalanan Karo sebagai Batak.[…] Batak hanyalah sebuah induk, predikat umum yang menjelaskan Karo, Toba atau Simalungun yang mapan. Mestinya semangat identitas masing-masing tak perlu ditanggapi secara “buta”, sembari juga perlahan-lahan menghapus hegemoni dan klaim-klaim yang cenderung membuat kita primordial.

        (diskusi yang disampaikan Juara Ginting, Medan dan pernah diterbitkan di Analisa, Juli 2010)

      • teger says:

        perna d bahas soal gbkp, klo d ubah menjadi gkp sudah lebih dulu ad d dftar gereja pgi…

    • BS says:

      Yang saya tahu, dulu beberapa tokoh Karo seperti: Payung Bangun, Roberto Bangun, Masrin Singarimbun, dll pernah melakukan gugatan, akan tetapi dengan beberapa pertimbangan khususnya keamanan posisi Karo kala itu, mengingat banyaknya tokoh-tokoh Karo yang dikaitkan dengan PKI(walau tidak pernah dibuktikan) seperti: Ulung Sitepu (Pa Timur, mantan GUBSU), penegasan Brigjen. Selamat Ginting akan kesetianya terhadap Soekarno dan ajaranya(MARHENISME), dll membuat ini segera dipatahkan dan digugurkan.

  7. immabeta says:

    kalo mnurut aku pak-pak tu gabungan antar smua suku yg da di sumatra utara
    sebagian bahasanya dari toba dan sbagian dari karo

    dan kalo soal karo trmksud batak atw tidak, aku jg msi bingung…………
    karena gak bsa d pungkiri memang ada kmiripan bhsa karo dengan batak-batak yg laen, seperti simalungun, pak-pak dan toba

    • Benar, ada kemiripan antara bahasa Toba, Pak-pak dan Karo, tetapi tidak bisa serta-merta disamakan (diserumpunkan). Kalau soal kemiripan bahasa, bahasa Sunda jauh lebih banyak yang mirip kata dan maknanya -bahkan ada kata yang sama persis maknanya dengan bahasa Karo- bila dibandingkan dengan bahasa Toba. Saya tahu persis hal itu, karena saya sudah 19 thn tinggal di Bandung dan istri saya seorang Sunda asli yang keluarganya semua tinggal di Bandung. Contoh; “pulang” (bahasa Karo dan Sunda memakai kata “mulih”, “nenek” sama-sama memakai kata “nini”). Apakah karena kesamaan tersebut membuktikan, bahwa Sunda sama dengan Karo? Saya kira tidak!

  8. Kapan Batak bersatu iya ???

    • BS says:

      Tanya Sibayak Lingga, Pa Sendi atau Raja Kelelong Sinulingga.! Yang mungkin kasena sudah tertarik dengan Kristen kala itu dan kedekatanya dengan pemerintah kolonial, membuatnya tidak jarang diundang(mungkin diperalat) Lembaga-lembaga Missi(misi rahasia kali… Hahahaha…) untuk memberi ceramah didepan masyarakat umum akan pentingnya persatuan Batak(melawan dominasi dan pengaruh Islam/Melayu).
      Hahaha….

    • secara mayoritas susah karena perbedaan sfat/karakter.

    • Elkana Sasta Gurusinga says:

      Coy….. Karo BUKAN Batak……. Koq ngeyel kali kau coy…..!!!

  9. benyamin sembiring says:

    Salam,

    Karo Bukan Batak! Nampaknya ini masih dalam perdebatan, hampir semuanya berargumentasi sesuai dengan seleranya. Untuk yang mendukung/memprakarsai Karo Bukan Batak silahkan dicari bukti bukti secara ilmiah, kalo perlu di buat riset riset yang bisa membuktikan ke arah sana. Supaya kita tidak asal bunyi.
    Sbg contoh, info yang saya dengar, penemu kota Medan Guru Patimpus, apakah orang karo sampai dibuktikan bahwa dia adalah orang karo yang tak terbantahkan, katanya dilihat dari genetika. Jadi Guru Patimpus Sembiring Pelawi adalah orang karo TIDAK TERBANTAHKAN.
    Saran saya, buat riset riset yang bisa membuktikan Karo bukan Batak, terbitkan dijurnal jurnal ilmiah, kemudian presentasikan diberbagai pertmuan ilmiah, sehingga kita betul betul yakin tentang statement ini bahwa Karo Bukan Batak. Jika tidak dilakukan, maka para pendukung karo Bukan Batak sesungguhnya akan membuat jurang, memprovokasi pecahnya persatuan, menanamkan rasa kebencian dll.
    Mari kita bangun diskusi yang lebih beribawa.

    Bujur.

  10. LEmboto says:

    karo bukan batak…karo adalah karo…kalau begitu akan muncul lagi pernyataan simalungun bukan batak…pakpak bukan batak….toba bukan batak…jadi batak itu apa ya?

  11. BS says:

    Perbedaan antara penulis asing dan lokal hanya pada rasa dan sumber. Mereka(asing) cenderung hanya mangakui fata meteri yang tampak dan kelihatan nyata(seakan nyata, dinyatakan)., sama(seakan sama selanjutnya disamakan)… Namun, pernahkan mereka merasa? Atau memahami(mencoba)? Tidak kan! Sehingga, mereka(asing) tidak jarang hanya kebagian dari fase-fase akhir dari sebuah kejadian.

    Sama halnya dengan polemik identitas Batak! Mereka(asing) hanya berpatok pada satu kisah(si raja batak..???). Namun, pernahkan dicari tahu sipa si raja batak itu? Mana tau siraja batak itu sebenarna si Tarigan(Si Raja Umang)…! Mereka(asing), hanya melakukan penelitian(pada umumnya) untuk keperluan ” skripsi, tesis, desertasi, atau sekedar refrensi” jadi, kebutuhan skripsi, tesis, dst sudah terpenuhi,, ya! GAME OVER!

    JADI SAYA HARAP ANDA2 MENGERTI MAKSUD SAYA!

  12. kita orang karo bukan orang Batak…
    tp setiap saya buka website mengenai tanah karo,yg dipermasalahkan pasti Mengenai Karo bukan batak.
    saya sangat setuju itu karena Batak identik dengan Toba,Tp klo identik dengan Karo sah-sah saja orang karo orang batak.
    MIsalnya ContoH Kota Medan…
    Pendiri Kota medan Adalah patimpus sembiring orang kita karo,dan kawasan medan adalah kawasan tanah karo….
    tP kenapa klo setiap orang Datang keMedan mengatakan HoraS Melainkan Bukan MEJUAH-JUAH….
    dARI situ kita sudah rugi besar,dan masalah yg lain orang batak sudah banyak mengklaim sebagian dari orang karo..
    Misal nya lagu-lagu karo,DLL.
    Saya Sangat berharap,Bukan cuma saya melainkan kita ini semua..
    Mudah2an suatu saat Ada diadakan konfrensi Mengenai Batak dan karo,Supaya rakyat karo lebihhh dikenal orang dan makin maju.

    adi lit kata ku si salah bas tulisen enda mindo maaf aku(Bapa/Nande/Turang/Senina)

    “SUKU KARO SUKU YANG DISEGANI DAN DITAKUTI”

    Mejuah-juah Kita Kerina

  13. bebas says:

    saya engk setuju disbut sebagai orng batak,,,, waktu kemari saya pergi ke kalimantan,papua sulawesi,jawa bali dan malaysia, ada yang bertanya pada saya, km orng mana dan suku apa, di bertanya pada saya , saya berkata saya orng medan suku karo,,, setelah tu di bilang sama saya horas,, dan saya berkata bukan horas tapi mejuah juah, trus dia berkata lg jadi kamu bukan orang batak ya,, saya bukan orng batak tapi orang karo, mari kita memperkuat budaya kita sebagai orng karo, bukan sebagai batak.,, yang di setiap acara batak mau pun di tv atau pun layar lebar.di gunakan selalu horas tidak pernah di bilang mejuah juah,,, sedangkan penemu medan adalah orng karo,

    • Karomedan says:

      bebas pas kel cakapndu
      aku pei i kalimantan ei megati kataken kalak horas ntah pei kalak batak kam
      saja denga keras kukataken man teman ndai
      aku kalak karo
      batak ras karo berbeda jauh
      aku lapadah lebuhndu lae
      tapi lebuh saja aku impal ningku man teman ndai

      ei maka pas kel cakapndu harus dari kita menberitahuken man teman2ta bahwasana kita labo batak, karo adalah karo

  14. bukhori ginting says:

    mejuah-juah

  15. yayan says:

    guru patimpus

  16. mejuah juah kita kerina…

    sepertinya memang kita harus lebih cermat meneliti karena seluruh masyarakat karo dan sekitarnya akan sangat terbantu dengan kepastian karo itu batak atau karo itu karo…
    tetapi dari bebarapa buku sejarah yang saya baca tidak pernah ada atau jarang yang mengaitkan tentang karo dan batak…

    lalu timbul pertanyaan yang aneh jika memang karo itu batak mengapa ada gep antara kedua suku ini? karo yang tidak mengenal banyak tentang batak dan batak yang juga bisa dikatakan tidak mengenal banyak karo..

    tetapi hal yang mungkin juga menguatkan batak adalah adanya beberapa marga yang sama yang terdapat dikaro. tetapi harus digaris bawahi juga bahwa hanya beberapa marga yang ada didaerah karo dan anehnya ketika dintanya kepada pemilik marga mereka mengatakan tidak lebih banyak dari yang mengatakan ya…

    banyak polemik memang. tetapi saat saya masih kanak-kanak setiap saya bertanya kepada orang-orang tua baik ibu, ayah saudara lain maupun kakek nenek dengan tegas mereka mengatakan kita ini bukan batak tetapi karo…

    aneh memang jika kita bukan batak mengapa selama ini ada istilah batak karo??
    dan satu pertanyaan yang muncul mungkin yang dikatakan batak itu apa sih sebenarnya? apakah itu suku, perkumpulan, ras dll. tetapi yang jelas batak saat ini kita katakan adalah suku

    jika kita lhat dari kultur, ataupun dari hal yang tampak memang masyarakat karo jelas berbeda dengan masyarakat batak. dan anehnya lagi jika memang karo itu batak mengapa sejarah yang tertulis di masyarakat batak tidak banyak yang membahas karo? baik itu mengapa menjadi kultur baru, mengapa adat mereka jauh berbeda, mengapa masyarakat karo sendiri begitu memisahkan diri mereka dari masyarakat batak??

    dalam hal \”tarombo\” atau yang disebut karo adalah \”tutur\” juga sangat berbeda. siapa yang kita panggil silih, impal, senina, abang, adik, bapa, nande, bibi dll. dari ilmu peninggalan leluhur juga sangat berbeda karena masyarakat karo itu memang menurut orang tua disana ahli dalam pengolahan bambu. hampir semua peralatan orang karo jaman dulunya berasal dari bambu baik itu kuran, ketang-ketang, ukat, selimar, surdam, dll. sedangkan dari masyarakat batak tidak sebanyak karo….

    yah.. memang masih butuh waktu untuk membuktikan itu tetapi kita tidak perlu emosional menanggapi hal tersebut.

    mejuah-juah kita kerina….

    • karodis says:

      silih, impal,senina abang adik,.dll. itu namanya perkadekaden si 12, bukan tutur. Kalau tutur itu senina sipemeren, sepengalon, siparibanen, kalimbubu, puang kalimbubu, anak beru, anak beru menteri, anak beru singikuri.

  17. Shaik Sumatra says:

    Karo adalah suku yang jauh lebih tua dari suku2Batak yang ada di SUMUT ,… hal ini di buktikan dengan penemuan Kerangka Manusia Purba di Gayo yang diperkirakan berumur 3500 Tahun dan DNA nya adalah DNA suku Karo,….. Jadi bisa saja orang PAK PAK,TOBA dan SIMALUNGUN adalah Keturunan dari Orang KARO,… ibaratnya Abraham adalah orang Parsi,… namun keturunannya adalah orang Arab dan Orang Yahudi,… karena sudah terjadi Asimilasi yang Ribuan Tahun,…. Yang saya ceritakan ini adalah Fakta Ilmiah,…. Bukan Dogeng seperti sejarah Marga,…. Jadi Kita harus pasang Logika dan Ilmiah,… Jangan Percaya Dongeng TAROMBO,..yang sama sekali tidak Ilmiah,…. Jadi Kalau orang Karo bukan Batak sudah terbukti secara Ilmiah,… Kenapa Bukan Batak karena Orang Karo sudah ada Ribuan Tahun Sebelum adanya Siraja Batak,…. Orang Karo dan Orang Gayo sama sam Tuanya,…. Jadi Kalak Karo dan Urang Gayo jauh lebih dekat daripada Halak Batak ,…. Penelitian Ilmiah lain Menunjukkan bahwa Bahasa Karo termasuk Bahasa yang Sudah Tua( Bahas Purba) di Nusantara,sama dengan Bahasa Gayo,… Kalau Bahas Batak ( Khususnya TOBA) masih jauh lebih Muda dari Bahas Karo,…. dan Persamaan Bahasa PUrba Karo dan Gayo Banyak Persamaan ,…. dan Penuturan Irama Bahasa/Lagu Karo hampir sama dengan Bahasa Gayo dan Sunda ( Sama sama Bahasa Purba) di Nusantara,….. Ini ilmiah dan Fakta bukan Dongeng,…

    • tungkot says:

      Yang dikatakan suku tua ialah suku2 yang mempunyai huruf sendiri dan tidak semua suku di Indonesia ini mempunyai huruf sendiri.

  18. Henri J Ginting Munthe says:

    saya ingin menanggapi sedikit tentang karo bukan batak…….
    kalau dilihat dari garis keturunan, orang batak menggunakan garis keturunan marga yg diambil dari ayah/bapak, sama halnya dengan suku karo. Tapi disini justru ada perbedaan yg sangat mencolok antara suku karo dan suku batak, dmana suku batak mengikuti garis keturunan atau marga itu pada awalnya adalah merupakan nama dari anaknya pada jaman dahulu. Saya ambil contoh marga SILALAHI yg notabene adalah nama sang ayah yg bernama RAJA SILAHI SABUNGAN. Raja Silahi Sabungan memiliki 7 org putra dan 1 org putri yg pling bungsu. Anak I bernama LOHO RAJA yg selanjutnya dikenal sbgi marga SIHALOHO, anak II bernama TUNGKIR RAJA yg selanjutnya dikenal dgn MARGA SITUNGKIR, anak ke III dst. Sebagai perbandingan, org karo mengikuti garis keturunan dari ayah tpi asal muasal marga org karo bikan berasal dari nama2 anak dari seorang ayah atau bapak yg selanjutnya dikenal dengan istilah marga.
    dari sini kita bisa ambil kesimpulan bahwa itu adalah suatu bukti bahwa org karo bukan batak.

  19. swandi sigiro says:

    setelah sore,baru mencari jati diri,
    knp ga dari dulu,,,,???
    kemana aja selama…??
    horas….
    horas….
    horas,,,,

    • Ruben says:

      Soalnya selama ini karo selaluu mengekor sm yang mengaku Batak dan utk menyelamatkan diri di perantauan selalu mengaku Batak..sekarang mereka sudah banyak yang merantau dan mau memisahkan diri karena selalu dibawah bayang2 Batak yang lainnya.

    • Elkana Sasta Gurusinga says:

      bodoh sekali pernyataan anda bro!!

    • Elkana Sasta Gurusinga says:

      Ini lagi orang TOLOL!! Bodoh kali kau coy……. Bangsa Indonesia saja……dulunya sebelum 17 Agustus 1945…..setelah ratusan tahun dijajah….akhirnya mempertegas jati diri diantara bangsa2 didunia. Nah Karo BUKAN Batak adalah salah satu kebanggaan kami sebagai Kalak Karo….dan kami tidak mau dijajah dalam bayang2 Batak, banyak bagian2 budaya Karo diklain sebagai adat istiadat dari budaya Batak!!

  20. Elkana Sasta Gurusinga says:

    Kalak Karo labo Kalak Teba….kita Kalak Karo punya kemandirian sendiri dan terpisah dari Batak (menurutku Batak itu adalah sebutan pihak asing saat itu).

  21. Elkana Sasta Gurusinga says:

    kenapa aku katakan seperti itu,,,,karena aku tidak mau Kalak Karo selalu dbawah bayang2 kata Batak didalam setiap aspek kehidupan di negara ini. Kami punya identitas tersendiri. Masalah adanya bbrp kesamaan dalam budaya merupakan suatu proses peradapan dalam bertetangga antar suku2 yg ada di Sumatera Utara. Kalau kita melihat ada kesamaan bahasa……apakah bisa kita katakan kita ini orang belanda?? krn ada bbrpa kesamaan bahasa belanda yg digunakan di indonesai ini!! Perbedaan merupakan keberagaman adat istiadat yang ada di Indonesia Bhineka Tunggal Ika!!

  22. Asep Satriana Adinegoro says:

    Menjuah-juah & Horas
    Dari Koment Teman-teman yang saya baca maka timbual lah pertanyaan?
    1. Mengapa Orang Batak Tidak terima kalo Orang Karo mengatakan dirinya bukan Orang Batak?
    Itu bisa dilihat dari koment” bang Daud, Bang Ruben dan lain-lain

    2. Apakah merugikan bagi Orang Batak jika Orang Karo terpisah dari Orang Batak?

    3. Jika Orang Karo Bukan Batak kenapa sampai sekarang belum di deklarasikan, soalnya kalo tidak dideklarasikan sampai kapan pun Orang Karo akan disebut Orang Batak oleh orang luar karena Sumtera Utara Indentik dengan Batak di mata negara ini?

    kesimpulan saya untuk sementara dalam koment” diatas::
    jelas sekali orang batak tidak terima kalo orang karo di sebut bukan batak, saya pikir kalo seandainya tidak merugikan bagi orang batak jika orang karo terpisah dari batak tidak perlu kita debatkan, ya kita terima aja toah orang karo undah melakukan kajian” yang menunjukan mereka buakan batak, ato jangan-jangan jika orang Karo terpisah dari batak merupakan kerugian besar bagi orang batak?
    #Mangga di jawab?

    saya bukan orang karo juga bukan orang batak tetapi dari koment” yg saya lihat orang batak tidak terima kalo orang karo terpisah dari batak

    maaff jika ada kata” yang salah, saya hanya ingin tahu karena saya bayak berteman dengan orang karo maupun orang batak(Toba)

    • Robin G Munthe says:

      Dideklarasikan atau tidak, itu hanya soal strategi. Diskusi, kajian dan publikasi melalui media sosial dan kontak sehari-hari (dan melalui buku nantinya) juga sangat efektif. Lama-lama media cetak dan jurnalis TV juga akan mencari referensi dari media sosial sebelum menulis berita. Sosialisasi KBB akan berlangsung dlm jangka panjang.

  23. Yogi gintings says:

    setuju dengan pendapat saudara Asep ada baiknya qt suku karo mendeklarasikan bahwa qta memang bukan batak dan bukan bagian dari suku Toba supaya sebutan batak terhadap karo tidak lagi melekat dalam diri qta suku karo
    mejuah juah man banta kerina

  24. M.Sitepu says:

    Karo tetap Karo dan tdk ada kata “batak” itu harga mati!

    • mita br ginting says:

      Mejuah-juah kita krina
      Ɣά̲̣̥n̅ƍ sudah saya plajari mengenai karo bukan batak.

      Dr buku Ɣά̲̣̥n̅ƍ saya baca KARO DARI JAMAN KE JAMAN jilit 1
      Mengatakan bahwa ,,, menurut penyelidikan,setelah hancurnya kerajaan haru wampu,kerajaan lingga timur raja,kerajaan haru deli tuwa, pada abad ke 16 akibat agresi bala tentara kesultanan aceh kewilayah bangsa haru maka sejak itulah pecahnya bangsa haru menjadi beberapa suku bangsa. Yaitu suku bangsa karo,simalungun,pakpak,alas,gayo,singkel,dan keluat.

      Dr sini sudah jelas bahwa karo bukan batak,Kαrnα karo berasal dari kerajaan haru sedangkan suku batak …..??dan suku batak toba kt tau bahwa identik dengan wilayah sekitar danau toba.

      Ɣά̲̣̥n̅ƍ membuat kata batak adalah orang belanda, itu |)! Buat untuk julukan bagi org2 Ɣά̲̣̥n̅ƍ memakan babi.
      Jadi karo bukan batak :)
      Bujur ras mejuah-juah

  25. Albert Eduard says:

    Marilah kita memelihara warisan Nenek Moyang Kita yaitu Persatuan dan Kesatuan.
    Bangsa yang maju selalu memikirkan ha-hal yang Besar dan Bermanfaat.
    Horas, Mejuah-juah, Njuah-juah, Jahobu.

  26. Nana Saragih says:

    Saya baru saja membaca Sekumpulan Bahasan Politik KARO BUKAN BATAK.

    Hmmmm …. masalah apalagi ini, pikirku.
    janganlah asal emosional, GBKP adalah Gereja Batak Karo Protestan, sebuah lembaga terbesar di kalangan Karo jelas memproklamirkan bahwa Karo itu Batak.

    Seharusnya GKBBP : Gereja Karo Bukan Batak Protestan.

    Itu saja kok dipersoalkan, lawan kita Negara Asing, tumbuhkan Rasa Nasionalis.
    Jangan Picik kawan … Kita bagian dari Batak. Batak bukan memalukan justru membanggakan.

    Hayooo … Indonesia ( Semua Suku ) Majukan Bangsa ini.
    Hal hal kecil jangan dibuat Masalah. Dulu kita dipecah belah oleh Belanda.
    Sekarang masa Kita yang mau memecah belah diri kita sendiri.

    • GBKP baru ada semenjak tahun 1941, sementara Karo sudah jauh lebih lama eksis dari itu, yaitu sebelum masehi (SM). Kalau memang dianggap GBKP adalah sebagai cerminan bahwa Karo adalah Batak, kenapa Simalungun membuat nama Gerejanya bukan Gereja Batak Simalungun? Begitu juga dengan Pakpak Dairi, Angkola dan sebagainya…

      Dengan adanya gerakan Karo Bukan Batak, bukan berarti kami tidak nasionalis, dan karena kami menggap bahwa kami bukanlah bagian dari Batak sehingga gerakan mulai ditabuh, dan dengan demikian, maka sudah barang tentu, bahwa kami merasa tidak bangga sama sekali dengan eksitensi Kebatakan itu…

    • Robin G Munthe says:

      Bagimu ketegasan identitas hal kecil, bagi kami hal besar. Jangan pake sudut pandangmu menilai orang lain.

      • Robin G Munthe says:

        Lagipula jemaat GBKP yang sekitar 300.000 orang tidak bisa dianggap mewakili keseluruhan orang Karo global yang berjumlah sekitar 1 juta jiwa. Batak sama sekali tidak memalukan buat kita jika kita yakin diri kita Batak. Masalahnya kita yakin diri kita Karo, lalu mengapa kita hrs mengatakan kita Batak ?

  27. Nana Saragih says:

    Kalau Bukan Batak jangan Pakai Margalah.

    Hapus saja Marga dan Borunya.

  28. “saya mengutip dari bu nana saragih ”
    Itu saja kok dipersoalkan, lawan kita Negara Asing, tumbuhkan Rasa Nasionalis.
    Jangan Picik kawan … Kita bagian dari Batak. Batak bukan memalukan justru membanggakan.

    kenapa gak di persoalkan ya di persoalkan lah buk ini menyangkut harga martabat dan jati diri orang karo.. Karena yang tau karo itu suku karo itu sendiri.
    walaupun berbeda pa salah nya kalau memang beda. Karena perbedaan itu indah,
    Tanpa menghilangkan rasa bhineka tunggal ika.

    BUJUR Ras mejuah-juah

  29. Robin G Munthe says:

    Kalau soal GBKP pakai saja kata “BANI” sebagai pengganti “BATAK” maka akronimnya tetap GBKP = Gereja Bani Karo Protestan. Di Perjanjian Lama kata “Bani” sering kali dipakai menunjuk suku-suku Israel (Yakub). Bani = Suku=Kaum=Etnis. Yang penting adalah kemauan dan ketetapan hati para pemimpin GBKP untuk berubah.

  30. BATAK dalam kamus dapat di artikan Perampok, Penyamun atau pengembara ….dari catatan perjalanan marcopolo dll BATAK diartikan orang primitif , kanibal bahkan RAFFLES mengatakan sudah menjadi kebiasaan orang tua yang sudah tidak mampu bekerja di makan, begitu juga penjahat tertentu akan di mkan mentah atau di panggang……? dari catatan dan bukti sejarah BATAK dapat dikatakan panggilan atau sebutan kepada orang atau suku yang primitif dan kanibal ? jadi apa yang bisa dibanggakan dengan kata kata BATAK ?

  31. GKBBP gereja karo bukan batak protestan.. he he he he he he.. mantab tu….

  32. daeng silaban says:

    Ada orang Karo yang berasal dari India… Ada juga orang Karo yang berasal dari Toba…. Orang India pergi ke Tanah Karo… Orang Toba pergi ke tanah Karo… Keduanya mempunyai posisi bargaining yang sama… Keduanya membentuk masyarakat yang baru… ok.. boleh-boleh aja… Kata GBKP tak perlu diubah cuma artinya Gereja Batak & Karo Protestan…setuju… udah..nggak usah ribut-ribut…

  33. ginerik says:

    BATAK : yang kemudian dibubuhi nuansa negatif itu, berlaku bagi setiap kelompok masyarakat yang secara administratif bermukim di persekitaran Tapanuli (Silindung-Humbahas-Toba-Samosir) yang melakukan perlawanan terhadap Belanda. orang KARO sebenernya ingin menghilangkan atau meniadakan kata Batak, karena kami kalak karo tidak dijajah lagi dan sudah merdeka. inilah hebatnya kami, tapi suku-suku lain yang ada di dalam batak tidak ingin kita lepas karena takut terjadi ketimpangan. saya rasa mereka juga takut, suku mereka berdiri sendiri oleh sebab itu mereka masih mempertahankan kata batak dalam suku mereka, tidak seperti kalak karo yang selalu bilang “aku kalak karo”. menurut saya Pendiri GBKP adalah orang yang pada saat masa penjajahan memiliki loyalitas tinggi pada negara dan suku batak. GBKP merupakan salah satu bukti bahwa pendahulu-pendahulu kami ikut andil dalam memperjuangkan NKRI. karena kami sudah tidak di jajah oleh siapapun saya pun mengatakan “aku kalak karo la batak”

    mejuah-juah man banta kerina
    bujur…….

  34. Raja BANGUN (cucu Cawir Bangun - Penampen Narigunung) says:

    Mejuah Juah Kita Kerina Ibas Lindungen Dibata sierkuasa i doni enda,
    Maaf semuanya, sekali lagi saya memohon maaf sebesar besarnya, disudahilah petentangan ini dengan segala dalih dan mulailah dengan bersikap nasional ( seperti 28 Oktober 1908 ), yang penting mari kita ciptakan rasa nyaman, aman dan kondusif agar terealisasikannya menuju masyarakat yang berpendidikan, berakal dan berbudi yang luhur

    • Robin G Munthe says:

      Raja Bangun, penegasan jatidiri tidak menyalahi konteks nasionalisme. Cobalah luas dan dalamkan wawasan kebangsaannya.

  35. Maskut Tambunana says:

    santabi…numpang koment. Penyebutan “Batak” bagi Karo,Toba,Mandailing,Fakfak,Dairi,Simalungun dll menurut saya dilatarbelakangi tujuan dari dua pihak yang berkepentingan.yaitu :1.Kita sama-sama tahu dulu kita dijajah oleh pihak asing,khususnya Belanda.Bisa saj ini merupakan strategi Belanda untuk melemahkan perjuangan suku-suku yang tersebut di atas dengan cara menghancurkan fanatisme
    sukuisme diantara pejuang daerah tersebut
    2.Atau sebaliknya ini merupakan kesepakatan diantara pemimpin suku-suku tersebut untuk membentuk suatu kekuatan besar melawan pihak penjajah,semacam pemersatu gitu.
    Denikian menurut say…Horas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s