Keruntuhan Tirani Mayoritas

Adi pemerintahan turun temurun (selama-lamanya) dikuasai/didominasi etnis mayoritas, bagekape legislatifna, judikatifna atau polisi-polisina ras pendidikan kesehatan keriinana didominasi etnis mayoritas, lanai bo kapken lit gelarna sideban selain permanent tirani mayoritas.

Man kalak minoritas hadiahna simbelin sada ngenca emkap permanent stress atau stresss untuk selam-lamanya. Ma enggo sinanami atau tetap denga ngenanami. Tetap denga ningku perbahan gundari kita enggo ibas perdalanen ngapusken permanent stress enda, termasuk ikut berusaha kalak mayoritasna sendiri i Sumut, perjuangan Protap kalak Batak bagepe perjuangan Sumtra kalak Mandailing. Arah enda me dalanna engkai maka kita patut janah harus mendukung perjuangan kalak mayoritas enda bas soal pemekaran.

Dikalangan kalak Batak melala kang simenentang Protap, emkap kalak Batak yang masih menginginkan tirani mayoritas dan stress minoritas, ertina menerusken situasi de facto sekarang. Kalak Mandailing simenentang Sumtra emkap mereka yang masih merindukan dan ingin meneruskan ‘kerajaan lama Mandailing’ di Sumut, ertina turun temurun jadi gubernur Sumut kalak Mandailing sejak kemerdekaan. Dua golongan penentang Protap dan Sumtra enggo semakin kurang, pertama sebab semakin banyak melihat apa yang mereka mau pertahankan, kedua emkap tuntutan pembebasan kalak minoritas seiring ka ras ethnic revival dunia atau culutural revival dunia.

Sebab sidebanna si la kalah pengintgna emkap perubahan zaman. Kontradiksi pokok dunia enggo berubah dari perjuangan dua blok ke perjuangan untuk keadilan seluruh dunia. Ibas siperpudi enda si menonjol emkap ethnic revival atau perjuangan pembebasan etnis-etnis dunia terutama si minoritas dari ratusan tahun penindasan kultur (etnis), ekonomi bagepe kekuasaan politikna. Ibas soal kontradiksi pokok dunia gundari enda, keadilan atau ketidakadilan me kapken si menonjol. Keadilan semakin deras dituntut dan diperjuangkan, dipihak lain ketidakadilan semakin jelas terlihat dan semakin susah untuk disembunyikan.

Isekin gundari si pang gembar-gembor ngataken ‘kepentingan bangsa’ atau ‘persatuan dan kesatuan nasional’ tipe Orba adi etnis-etnis minoritas tetap dikucilkan dari hak-haknya seperti Gayo, Alas, Singkil di Aceh dilarang mekarkan diri, dimana orang Aceh/GAM menipu Pusat karena Pusat tidak mengerti soal etnis-etnis dan daerahnya di Aceh?

Atau Karo Bangun Purba atau Juma Tombak dimana Pusat ditipu oleh pendatang Tapanuli di Sumtim? Atau gerakan penduduk asli Sumtim Deli/Serdanghulu tetap dihalangi oleh bupati pendatang Amri Tambunan? Berapa lama lagi orang-orang ini bisa mengelabui mata penduduk asli dan mata Pusat atau mata dunia? Ruang gerak orang-orang yang ingin mempertahankan ketidakadilan lama ini jelas semakin sempit.

Dizaman era dua blok, ini semua tidak keluar karena semua kontradiksi lainnya tunduk dibawah kontradiksi pokok ketika itu emkap perjuangan antara dua blok. Persatuan nasional (Soviet) nina penguasa komunis Rusia, semua orang tunduk (yang dibawah bloknya). Persatuan dan kesatuan nasional, nina diktator Soeharto, semua orang tunduk demi ‘kepentingan bangsa’.. Sekarang siapa yang tunduk. Sekarang keadilan lebih dipentingkan dari persatuan nasional, sebab tak akan pernah ada persatuan kalau tidak ada keadilan, semua orang sudah mengerti.

Di Sumut hanya Karo (etnis) yang mungkin mendobrak ketidakadilan lama ini, ketidakadilan yang diperkukuh oleh kontradiksi pokok dunia ketika itu. Karo mungkin, karena Karo adalah contoh tipikal penindasan minoritas di Sumut, tersingkir terus menerus dari kekuasaan walaupun korbannya paling banyak dalam mengusir penjajah dari Sumtim, dan daerah-daerahnya sebagian besar sudah diasak teman satu nusa satu bangsa. Lagi pula Karo mungkin, karena Karo masih punya daerah untuk jadi propinsi, contoh propinsi pembebasan dari tirani mayoritas. Bakal jadi contoh bagi semua etnis-etnis minoritas di Sumut, di Sumatra dan Indonesia.. Daerah-daerah sperti Singalorlau, Berastagi, Langkathulu, Tigalingga-Tanehpinem (daerah Karo yang dibagikan ke Taput), Deli/Serdanghulu (daerah Karo yang dibagi-bagikan ke semua etnis pendatang di Sumut) + daerah Karo yang dibagikan ke Aceh (beberapa kecamatan di Aceh Tenggara.

Cabup Karo mendatang harus bikin agenda pemekaran ini sejak awal sebagai kontrak sosial, jaminan pembebasan dan perkembangan Karo, masa depan Karo.

Perjuangan Karo ini mungkin, karena sifat-sifatnya yang unik dalam perjuangan, sudah terlihat dalam perjuangan mengusir penjajah tanpa pamrih, terlihat dari siapa yang menikmati kekuasaan di Sumut kemudian setelah merdeka. Jerih payah Karo tidak ada yang mengingat, termasuk orang Karo sendiri. Tetapi sekarang keunikan kita sudah berkembang, keadilan bukan hanya untuk dinikmati orang lain, tetapi untuk kita sendiri juga harus diperjuangkan.

Keunikan lainnya ialah orang-orang Sumut sendiri sangat dinamis luar biasa, terlihat dari perubahan pikiran atnis-etnisnya, termasuk yang mayoritas. Batak melihat ketidakadilan atas minoritas dengan mekarkan propinsi sendiri (Protap) begitu juga orang Mandailing dengan mekarkan propinsi sendiri (Sumtra) meninggalkan cita-cita lama turun-temurun jadi ‘raja’ Sumut. Kedinamisan ini berarti semua kita memberikan kesempatan atau saling memberikan kelonggaran untuk memenuhi needs masing-masing etnis, dalam soal politik, ekonomi dan kultur-budaya. Maka ningku penduduk asli Sumut luar biasa. Bandingkan misalnya dengan orang Aceh yang sampai sekarang masih berusaha mempertahankan penipuan lama atau kekuasaan lamanya seperti yang sudah mau dihilangkan oleh orang Mandailing jadi raja turun-temurun Sumut sejak kemerdekaan. Salut Sumut!.

Perjuangan propinsi Karo banyak tantangan. Tetapi dengan perjuangan bersama etnis-etnis asli lainnya (Batak, Mandailing, Melayu) yang sudah siap, persoalannya jauh lebih ringan. Sinergi kekuatan antara etnis-etnis ini bahkan akan mengagumkan pemerintah Pusat sendiri, dan seluruh Indonesia. Kota Medan seperti pernah tersinget di milis, punya pemikiran tersendiri, dan keistimewaan tersendiri pula. Dalam pemikiran semula Karo temasuk dalam Sumtim, tentu tidak ada soal kota Patimpus Medan. Dengan Propinsi Karo dan Melayu, kemana Medan yang nota bene dikelilingi propinsi Karo. Banyak solusi terpikirkan, a.l. jadikan Medan daerah istimewa, dipimpin seorang gubernur seperti Jakarta. Kota pertama di Indonesia sebagai propinsi dan bahkan di seluruh dunia cuma Medan.

Ini juga mengejutkan, Pusat dan dunia. Keunikan orang-orang Sumut termasuk itu. Needs semua etnis terpenuhi disitu, kecuali mungkin Pusat. Kota pantekken Karo Patimpus jadi kota istimewa didunia. Etnis-etnis lain juga sangat merindukan, tetapi tidak merindukan jadi ibu kota Karo atau Melayu. Kota multietnis dan multinasional terus hidup sebagai kota metropolitan, kota Patimpus!

Sumber: http://groups.yahoo.com/group/komunitaskaro/message/14259

About karobukanbatak

Suku Karo adalah suku asli yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Deli Serdang, Kota Binjai, Kabupaten Langkat, Kabupaten Dairi, Kota Medan, dan Kabupaten Aceh Tenggara. Nama suku ini dijadikan salah satu nama kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Kabupaten Karo. Suku ini memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Karo. Suku Karo mempunyai sebutan sendiri untuk orang Batak yaitu Kalak Teba umumnya untuk Batak Tapanuli. Pakaian adat suku Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas.
This entry was posted in Opini and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s