Pembebasan Budaya Karo

A. PERADABAN KARO

Peradaban sama dengan bahasa Inggris yang disebut civilization. Maka untuk merumuskan istilah peradaban, kita meminjam pengertian yang sudah berkembang dalam ilmu pengetahuan mengenai civilization.

Menurut Encyclopedia American, pengertian civilization telah berkembang sesuai dengan perkembangan sifat manusia dan pengendalian diri. Dalam abad ke 20 konsep ilmu antropologi tentang kebudayaan, yaitu jumlah keseluruhan perilaku manusia sebagai hasil pelajaran (learned behavior, yang berbeda dari instinctive behavior) yang memperkuat pertumbuhan manusia dalam penguasaan pengetahuan dan kecakapan yang mendorongnya untuk mencapai prilaku yang lebih luhur.

Secara lain kita dapat menyimpulkan suku Karo sebagai salah satu etnik lahir dari penyatuan perilaku manusia yang bertumbuh sesuai dengan perkembangan pengetahuan dalam bertingkah laku untuk mencapai keluhuran peradaban.

Leonardo Da Vinci, seniman dan manusia renaisans Eropa, adalah contoh utama, betapa di zaman itu kesenimanan dan keilmuan, serta keahlian teknologi dapat menyatu dalam diri seorang anak manusia, jika potensi rasa (pengamatan empiris, intuisi, imajinasi, kreativitas) dengan daya pikir (pengamatan empiris, analisis, mengembangkan teori) tidak tersendat dan terkukung seperti yang cukup lama terjadi pada manusia Indonesia (Baca : manusia Karo) sejak masa penjajahan, Orde Lama, Orde Baru hingga Reformasi yang justru menjerumuskan kebudayaan ke titik keprihatinan. Leonardo Da Vinci beruntung hidup di zaman renaisans Eropa yang membuka lingkungan baru bagi berkembangnya kreativitas manusia di zaman itu di Eropa termasuk peradabannya.

Seorang penulis bernama Dan Brown yang telah kaya dengan imajinasi Da Vinci Codenya justru telah salah mengejawantahkan maksud-maksud dari kemurnian karya seni Da Vinci itu sendiri. Dan Brown tidak menyadari dengan imajinasi kolektifnya tentang karya seni Leonardo Da Vinci telah menyeretnya pada pemahaman yang salah tentang makna Opus Dei dan Holy Grail.

Problematika yang diangkat seolah menghantam peradaban yang telah berlangsung berabad-abad. Hal ini membuat kita harus mengkaji lagi perspektif sejauh mana keberadaan karya Da Vinci dan pengaruhnya dengan perkembangan kebudayaan dan perdababan. Adakah kebohongan dibalik semuanya.

Leonardo Da Vinci seolah mengingatkan kita kembali untuk menggali lagi kebenaran akan akar dari peradaban kita. Kebudayaan Karo diungkit-ungkit kembali hubungannya dengan kebudayaan Batak (Baca : Toba). Adakah kebenaran dibalik pengkaitan dua etnik yang secara peradaban berbeda itu?

B. CIKAL BAKAL KARO

Dibanding dengan propinsi lain di Indonesia, Sumatera Utara memang unik. Disana ada tujuh suku berdiam berdasarkan pengelompokkan geografis dan etnis, Toba, Karo, Simalungun, Pakpak, Mandailing, Melayu dan Nias. lalu kemudian ditambah lagi dengan sebuah suku yang secara resmi tidak ada pengakuan keaslian yaitu Pujakesuma (Putra Jawa Kelahiran Sumatera).

Tapi mengapa dengan mudah saja kita mengatakan kalau 5 suku pertama yang tersebut diatas tergabung dalam satu nama yaitu Batak. Tapi kenapa tidak ada Batak Melayu atau Batak Nias yang secara geografis masih satu daerah.

Di dalam buku Leluhur, marga-marga Batak dalam Sejarah, Silsilah dan Legenda, Drs. Richard Sinaga menulis bahwa semua etnis Batak berasal dari keturunan Raja Batak yang merupakan cikal bakal suku Batak yang akhirnya berkembang menjadi etnis Toba, Karo, Mandailing, Simalungun, Pakpak dan Mandailing, bahkan etnis Nias juga disebutkan punya keterkaitan dengan Batak. Untuk suku Karo, beliau menulis konon dua anak laki-laki Raja Isumbaon yaitu Raja Asi-asi dan Sangkar Somalindang pergi merantau ke Dairi lalu ke Tanah Karo. Mereka itulah generasi nini karo yang merupakan cikal bakal suku Karo.

Kesimpulan yang diambil Richard Sinaga justru telah bertentangan dengan konsep ilmu Antropologi tentang peradaban kebudayaan yang disebutkan diatas. Nyaris semua ahli sejarah Karo akan cepat menyangkal apa yang dikatakan Sinaga.

Rita Smith Kipp menulis, julukan Batak dibuat oleh kolonial Belanda untuk membedakan antara mereka yang belum beragama (epithet in origin) dengan suku Melayu yang telah menjadi Muslim. Tetapi menurut orang Melayu julukan Batak ini justru negatif yaitu orang yang masih terbelakang (primitif) yang makan anjing dan babi. Hal ini mungkin saja adanya pengaruh pola politik pecah belah (devide et impera) dari kolonial untuk membedakan etnis dengan tujuan tertentu yang berkaitan dengan imperialisme.

Menurut Budayawan Karo Darwan Prinst, di dalam legenda suku Karo dikatakan bahwa sebuah kerajaan besar bernama Haru pernah berdiri di Sumatera. Kerajaan Haru inilah yang menjadi cikal bakal suku Karo.

Tengku Lukman Sinar seorang sejarahwan Sumatera Utara dalam makalahnya pada Kongres Kebudayaan Karo 1995 di Brastagi menampilkan bukti-bukti bahwa Deli Tua adalah ibukota Kerajaan Haru. Adapun bukti-bukti itu ialah Hikayat Aceh, W. Marsden Histrory of Sumatra, Tabal Mahkota Asahan, Negara Kertagama, John Anderson, Bustanussalatin, Peta Kuno dan Wan Sulong Bahar Barus. Kesimpulan makalah Tengku Lukman Sinar itu menunjukkan cikal bakal suku Karo dari eksistensi kerajaan Haru.

Belum lagi pengaruh-pengaruh imigran India (Hindu) yang datang. Beberapa bukti kebudayaan Karo dalam pengaruh Hindu adalah nama sembiring Singombak yang banyak berasal dari klan India contohnya Brahmana, Colia, Depari, Meliala dan sebagainya. Upacara agama pemena dan kepercayan filosofi agama sangat berhubungan dengan Hindu. Seperti Kerja Mbelin Paka Waluh dan Erkiker.

Beberapa sub Merga diakui datang dari beberapa daerah seperti Dairi, Toba, Simalungun. Hal ini terlihat dari adanya kemiripan merga. Tapi pendatang beradaptasi dengan peradaban yang sudah ada. Bukan malah mempengaruhi peradaban dan menjadi ispirator peradaban itu.

Jadi darimanakah datangnya Karo itu? Berbagai versi telah muncul seperti layaknya versi diatas. Seorang Antropolog Karo pernah mengatakan pada saya, seratus tahun lagi mungkin ada ahli sejarah Karo yang mengatakan kalau suku Karo berasal dari Amerika. Karena nama saya Joey Bangun sesuai ejaan Amerika. Teoritis antropologi yang sempurna.

Jadi penyimpulan terhadap suatu etnis (baca : Peradaban Karo) ini tidak bisa terburu-buru ataupun dengan sederhana tanpa menggali lebih lagi. Suatu kesimpulan-kesimpulan kerdil yang muncul akan mengguratkan perbedaan-perbedaan tentang asal muasal. Justru hal ini akan menjadi penghalang bagi kita untuk mengembangkan kebudayaan yang telah mengantar kita pada titik peradaban saat ini.

C. EKSISTENSI KARO

Pernahkah ada yang menyadari sebelum pendudukan kolonialiasme di tahun 1866 di Sumatera Timur tidak ada yang menyebut Karo sebagai Batak Karo?

Saya menyimpulkan apa yang dikatakan Rita Smith Kipp dalam bukunya The Early Years of A Dutch Colonial Mission The Karo Field adalah benar. Penamaan Batak pada Karo adalah istilah untuk menyatukan suku-suku yang belum beragama ketika itu selain Melayu (Islam).
Mulailah terlihat eksistensi penamaan Batak Karo pada masyarakat Karo. Penegasan itu semakin terlihat ketika Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) sebagai komunitas masyarakat Karo terbesar tetap eksis memakai nama itu tersebut hingga kini. Padahal nama itu merupakan warisan Belanda yang seharusnya sudah ditanggalkan sejak dulu.

Budayawan Karo seperti Masri Singarimbun, Henry Guntur Tarigan bahkan sampai Roberto Bangun pernah mempersoalkan ini pada Moderamen GBKP. Tapi nama GBKP sepertinya sudah merakyat dan kalau diganti menjadi GKP (Gereja Karo Protestan) sudah ada pula yang memakainya yaitu Gereja Kristen Pasundan (GKP).

Jadi tidak ada kata mufakat untuk itu. Biarlah Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) hanya sekedar nama yang lama yang sudah merakyat tapi sama sekali tidak mencampuradukkan keterkaitan Batak dalam eksistensi masyarakat Karo pada GBKP. Dan hampir semua jemaat GBKP mengakui hal ini.

Tanah Karo yang subur itu telah menyeret masyarakatnya pada pola kolegalitas. Superior etnik pun secara tidak langsung muncul. Contohnya, di masa dulu sekitar tahun 1960an ke bawah masih ada sebutan, “lit Tebandu?”. Suatu sebutan untuk orang Batak (baca : Toba) sebagai aron yang menunggui ladang. Hal ini menyiratkan saat itu Karo adalah tuan tanah sedangkan orang Toba adalah pekerja tanah yang digaji. Kita bisa bayangkan perekonomian Karo dibanding Toba ketika itu. Saat ini era diatas 1960an muncul lagi istilah, “Lit Jawandu?”. Sebutan ini kembali lahir untuk menunjukkan orang Jawa sebagai pekerja yang mengolah tanah orang Karo. Hal ini pula yang secara tidak langsung disebut Superior Etnik.

Selama 7 tahun saya tinggal di tanah orang Sunda. Pola hidup masyarakat Sunda hampir sama dengan masyarakat Karo. Hidup di tanah yang subur, bercuaca dingin, kreatifitas tinggi dan pola kekerabatan yang kental pada kolegalitas. Seperti orang Karo, orang Sunda tidak mau dikatakan orang Jawa padahal sebetulnya tinggal di pulau Jawa. Malah mereka menganggap remeh orang Jawa. Terlihat dari pandangan mereka bagi kaum pendatang yang datang ke tanah mereka. Mereka akan mengukung diri pada kolegalitas.

Tapi apakah kolegalitas bersifat positif? Dalam mengkaji pola kekerabatan etnik hal ini tentu mempererat dan menjaga pola tradisi sosialisasi etnik tersebut secara turun temurun.

Sedang sisi negatifnya justru hal ini mengukung kita dalam menerima perkembangan dari luar. Bahkan hal ini menuntun kita pada pola percaya tidak percaya. Yakni mempercayai sesuatu jika sudah melihat terlebih dahulu. Akhirnya memendam kita pada kepercayaan diri untuk berkembang. Tidak apa, hal ini memang membuat kita tidak berkembang secara kelompok. Tapi malah kita sudah lahir dengan jiwa single fighter. Jiwa kepribadian orang Karo ini yang membuat dia merantau kemana saja akan berhasil.

Kembali ke persoalan Batak. Di masa modern ini kita masih terkukung dengan warisan kolonialisme yang membutakan kita pada peradaban tempo dulu. Sebagai contoh orang Karo merasa mereka masih menyimpan kemurnian budayanya. Berbeda dengan Simalungun atau Pak-pak yang budayanya terintimidasi dengan budaya Toba. Sehingga kadang mereka tidak menolak kalau dikatakan Batak. Bahkan katakanlah Mandailing, mereka sudah bersatu dengan etnis yang disebut Tapanuli.

Jadi kekecewaan masyarakat Karo bisa dikatakan sudah memuncak. Apa sebab? Imbasnya pada kata Batak ini. Misalnya saja, jika ada orang Batak bikin ulah maka secara langsung Karo akan kena getahnya. Karena sudah ada kesimpulan Karo merupakan bagian dari Batak. Malah jika ada orang Karo yang berhasil di bidangnya, orang Batak memonopoli kalau hal ini adalah keberhasilan Batak. Hal ini sangat merugikan Karo. Sehingga jika ada orang Batak yang berhasil di bidangnya, orang Karo tidak terlalu bangga dan malah adem ayem saja. Toh itukan Batak bukan Karo. Akhirnya orang Indonesia dengan mudah mengatakan kalau Sumatera Utara adalah orang Batak.

Monopoli Batak ini terlihat di harian Waspada yang suatu hari yang mengatakan kalau Guru Patimpus Sembiring Pelawi pendiri kota Medan adalah keturunan Raja Batak. Penulisnya dengan mudah mencoreng-moreng silsilah tanpa mengikutkan orang Karo sebagai penyimpulnya. Jangan-jangan Pa Garamata (Kiras Bangun), pahlawan nasional dari Karo nantinya akan dikatakan dari Batak.

Saya jadi teringat kuan-kuanen Batak sama dengan Inggris. Negara Superior yang menganggap dirinya lebih unggul dibanding negara mana saja. Sehingga adanya pemaksaan bahasa Inggris menjadi bahasa Internasional. Bahkan Skotlandia, Wales, Irlandia, negara sekitarnya dipaksa untuk bersatu dalam nama Great Britain. Belum lagi mereka menganggap negara-negara pesemakmuran merupakan bagian dari mereka.

Monopoli kata Batak ini telah melahirkan suku Karo pada dilematisasi. Malah generasi muda Karo yang sudah sampai titik jenuh diombang-ambing lalu dengan mudah menarik kesimpulan begitu saja tanpa mengerti arti sejarah dan peradaban itu sendiri.

Hal inilah perlu adanya pembebasan budaya Karo pada titik dimana pengakuan jati diri sebagai Karo. Karo adalah Karo. Batak adalah Batak. Peradaban sudah berbeda. Biarlah kebudayaan Karo bebas mengembangkan citra dirinya dalam tahap yang lebih berarti lagi, Kesemrautan kebudayaan ini telah membuat kita pada perdebatan yang tidak berujung. Walau saya sudah masuk ke dalam kesemrautan ini, kiranya tulisan ini bisa meluruskan pola pikir kita semua sebagai generasi muda Karo.

Kalau hal ini semua dapat kita lakukan dengan sebaik mungkin, dengan berkat Tuhan Yang Maha Esa kita dapat menyaksikan hadirnya peradaban Karo diantara peradaban lain. Bukan lagi peradaban Batak.

Pembebasan budaya Karo ini telah mengantar kita pulang pada kemurnian peradaban kita yaitu peradaban Karo.

Sumber: http://groups.yahoo.com/group/gbkp/message/2674

About karobukanbatak

Suku Karo adalah suku asli yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Deli Serdang, Kota Binjai, Kabupaten Langkat, Kabupaten Dairi, Kota Medan, dan Kabupaten Aceh Tenggara. Nama suku ini dijadikan salah satu nama kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Kabupaten Karo. Suku ini memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Karo. Suku Karo mempunyai sebutan sendiri untuk orang Batak yaitu Kalak Teba umumnya untuk Batak Tapanuli. Pakaian adat suku Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas.
This entry was posted in Opini and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s