Menonton Karo di Opera Batak

Inilah mungkin pertama kali keterlibatan Karo di Opera Batak (mudah-mudahan saya memang tidak salah). Keterlibatan Karo ini didasarkan dan kemudian menjadi alasan kalau cerita ‘Si Jonaha’ juga ada di Karo tapi dengan judul ‘Si Jinaka’. Sementara di Simalungun cerita itu berjudul sama dengan Toba yaitu ‘Si Janoha’.

VERSI OPERA BATAK

Serupa tapi tidak sama, itulah yang bisa saya lihat dari pementasan Opera Batak karya Thompson Hs di Taman Budaya Medan Sabtu lalu. Pertunjukan ini diawali oleh penampilan kelompok musik tradisional Karo Brevin Tarigan Cs dan kemudian datanglah tokoh Si Jinaka versi ‘Opera Batak’. Dalam gambaran pertunjukan ini tokoh Jinaka dengan keluguannya suka menipu Mamanya (baca : kalimbubu). Dengan berbagai keluguannya dia berhasil menipu pamannya itu. Merasa ditipu akhirnya Mamanya menjualnya dengan orang-orang Toba sewaktu dia kalah berjudi.

Orang Toba yang kemudian mengambilnya lalu dipanggil Jinaka dengan sebutan ‘Kila’. Karena ketidak adanya kesamaan bahasa, maka antara Jinaka dan Kila Toba itu dipakai dialog bahasa Indonesia. Karena kesebalan Kila Toba itu pada Jinaka, akhirnya dia meninggalkan Jinaka diikat sendirian di pohon. Seseorang lewat, dengan akal bulusnya Si Jinaka menipu orang lewat itu dengan mengatakan alasan kalau dia diikat karena tidak mau dikawini dengan anak Mamanya yang cantik, Jika orang itu mau diikat maka dia akan dikawini dengan anak Mamanya. Maka maulah orang itu. Setelah mengikat orang itu maka Si Jinaka kabur. Orang baru yang diikat itu tidak menyangka akan bertemu dengan paman Si Jinaka si Kila Toba itu.

VERSI KARO

Masri Singarimbun menulis cerita Si Jinaka dalam buku ‘Beru Dayang Jile-Jile’ terbitan Yayasan Merga Silima justru berbeda seperti yang digambarkan di Opera Batak. Tokoh Si Jinaka disini digambarkan sudah berumah-tangga sementara di Opera Batak masih lajang. Rumah tangga Si Jinaka yang terkenal di kampungnya yang pemalas membuat orang-orang terheran karena tanpa bekerja pun ladang si Si Jinaka bisa panen.  Lalu orang bertanya kenapa tanpa bekerja pun ladang Si Jinaka bisa panen. Lalu kata Si Jinaka karena ‘cuan’ miliknya yang keramat karena bisa bekerja sendiri. Cuan yang berarti cangkul kecil berkepala miring. Maka ada orang yang mau tahu membeli cuan membeli cuan itu dengan harga mahal. Tapi kata Si Jinaka dengan syarat, cuan itu tidak boleh disentuh oleh lalat.

Namun yang terjadi bisa ditebak. Cuan itu tidak bekerja seperti yang dikatakan Jinaka. Orang yang membelinya itu kemudian mengadukannya pada Raja Kuta. Jinaka berdalih pasti cuan itu pernah disentuh oleh lalat tanpa diketahui oleh pemiliknya yang baru itu. Akhirnya Raja mengatakan kalau Jinakalah yang benar.

Selain Masri Singarimbun, tokoh Jinaka ini pernah dituliskan oleh Henry Guntur Tarigan dalam laporan skripsinya berjudul ‘Sastra Lisan Karo’ dan juga yang terakhir menuliskan budayawan Mandailing yang baru saja pergi Z. Panguduan Lubis, “Certa Rakyat Karo” terbitan kelompok Kompas Gramedia : Grasindo terbitan 1997.

KARO DI OPERA BATAK

Selain perbedaan cerita dan versi yang kemudian ‘pertemuan yang dipaksakan’ antara cerita Si Jinaka versi Karo, Si Janoha versi Simalungun, dan Si Janoha versi Toba, penggambaran Si Jinaka Karo tidak jelas menggambarkan kebudayaan Karo secara utuh. Misalnya saja di tarian pembuka yang ditarikan oleh seorang penari wanita, tudung yang dipakai begiru ‘lepes’ sehingga secara kostum tradisional kok bisa tudung Karo itu seperti tudung Minang. Dari seorang yang terlibat di Opera Batak mengatakan pada saya, tudung itu dibuat tanpa melibatkan seorang penata kostum Karo.

Di musik awal yang dimainkan oleh kelompak D’Tadisi oleh Brevin Tarigan Cs terlihat ketimpangan antara suara ‘endek’ pong dan gung saat memainkan sarune. Mungkin untuk orang awam hal ini tidak terlalu berpengaruh. Namun dari apresiasi ketradisian Karo hal ini menjadi rancu mengingat penampilan musik tradisional ini ditampilkan di depan penonton lintas etnis. Mungkin saja alasan Brevin pada saya bahwa tidak adanya monitor sound di panggung dan kurangnya jumlah mike untuk pemain tradisi menjadi faktor kelemahan. Alasan Brevin menjadi lumrah karena diawal pertunjukan musik yang terdengar di loudspeaker dominan suara gendang singindungi dibanding instrumen lain.

Logat dan penggunaan bahasa Karo yang tidak pas dan cenderung dipaksakan oleh pemain-pemain Si Jinaka versi Karo. Berhubung pemainnya hanya 1 orang Karo dan yang lainnya adalah lintas etnis hal ini kemudian menjadi kendala. Namun kalau itu menjadi tontonan Nasional, bisa saja orang Karo yang punya tradisi dan kearifan lokal menjadi malu.

Karo dan Simalungun hanya mendapat tempat tampil 15 menit sementara Toba lebih 1.5 jam. Mungkin Karo dan Simalungun hanya jadi pelengkap dalam Opera Batak karena memang ini adalah acara Batak dan 2 etnis lain adalah tamu.

Yang menarik tentu saja di satu adegan saat tokoh si Janoha menghadap seorang raja. Raja itu berpakaian ala Sisingamangaraja. Cara penghormatannya layaknya raja-raja di Jawa. Kalau saya tidak salah menebak, itulah gambaran “SI RAJA BATAK”.

Sumber: http://groups.yahoo.com/group/komunitaskaro/message/18689

About karobukanbatak

Suku Karo adalah suku asli yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Deli Serdang, Kota Binjai, Kabupaten Langkat, Kabupaten Dairi, Kota Medan, dan Kabupaten Aceh Tenggara. Nama suku ini dijadikan salah satu nama kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Kabupaten Karo. Suku ini memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Karo. Suku Karo mempunyai sebutan sendiri untuk orang Batak yaitu Kalak Teba umumnya untuk Batak Tapanuli. Pakaian adat suku Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas.
This entry was posted in Opini and tagged , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Menonton Karo di Opera Batak

  1. thompson hs says:

    koreksi
    1. saya belum tahu siapa yang catat ini, yang dicatat tidak detail; “sijonaha” disebut sijanoha.
    2. urutan cerita dari karo ke simalungun dan berakhir di toba sepertinya tidak diperhatikan dengan cermat, karena mungkin yang dikuasainya cuma cakap karo dan bahasa indonesia.
    3. versi dalam pertunjukan opera batak yang kami lakukan berdasarkan studi referensi dan versi yang kami temukan. dan garapan ini merupakan hasil pelatihan PLOt di siantar pada 2008 lalu. saya sebagai penulis teksnya menemukan versi karo dan simalungun berdasarkan catatan almarhum z. pangaduan lubis dan beberapa dari versi toba di perpustakaan saya. soal temuan versi ini nampaknya tidak ada konfirmasi kepada saya, maka subjektivitas yang dilakukan sudah terjadi.
    4. soal melibatkan ahli kostum dari karo, sebelumnya sudah dimungkinkan melalui keterlibatan sanggar tinuang. tapi kehadiran kelompok d’tradisi (brevin tarigan) terbatas pada iringan musikal karo.
    5. sentimen karo-toba sudah saya perhatikan sejak lama seperti model merengek-rengek. tapi ketika setiap garapan opera batak tidak melibatkan orang non-toba, maka opera batak itu sering dianggap kerjaan orang toba saja. (tapi kenyataan historisnya orang toba memang lebih progresif untuk menjunjung nasion kebatakan itu — yang lain pintar merengek-rengek dan cenderung mau ambil untung saja dari nasion kebatakan.
    6. garapan “sijonaha” adalah upaya baru dari PLOt, karena cerita ini dalam versinya masing-masing di karo, simalungun, toba, dan sub-kultur lainnya bukanlah cerita asli; tapi cerita yang datang dari pengaruh luar –mirip dengan cerita pak belalang dalam cerita rakyat melayu dan owgless di eropa. upaya kami menggunakan bahasa karo, simalungun, dan toba hanya karena kecintaan untuk belajar. kalau yang sudah pintar-pintar itu biasanya akan sombong dan picik! hehehe…
    7. silahkan memajukan karo tanpa mindset kebatakan. tidak merugikan kami sebagai orang pertunjukan.

  2. ronal burian.. says:

    percayalah klien orang karo,selagi klen perpikir seperti ini,kta tinggal menunggu waktu bahwa karo akan lenyap dan hilang..

  3. ronal burian.. says:

    seharusnya klien bersukur dan berterimakasih kpd org batak,karena mengangkat nama klien di setiap event2..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s