Belajar way of thinking Karo Lanjutan

“Seh sura-sura tangkel sinanggel”

 Seh sura-sura = tercapai cita-cita

Tangkel sinanggel = muncul kesusahan

Friedrich Hegel (1770-1831) bisa dikatakan pertama menjelaskan dialektika dalam pikiran, terkenal dengan sebutan thesis-antithesis-synthyesis. Dialektika pikiran ini atau dialektika pada umumnya,  di kontinen Eropah telah menjadi kultur intelektual sejak Hegel, tetapi tidak disinggung di dunia anglo-saxon Inggris maupun Amerika. “seh sura-sura tangkel sinanggel” adalah dialektika pikiran Karo Kuno, pastilah sudah ada jauh sebelum Hegel lahir, karena ini menggambarkan cara berpikir Karo sejak dulu secara tradisional begitu lahir Karo dan bahasanya. Berlainan dengan Hegel dan filosof Eropah pada umumnya, filosof Karo tidak menuliskan dalam buku, tetapi hanya terdapat secara lisan dari mulut kemulut turun temurun dan sampai sekarang masih berjalan cara itu. Mungkin juga ada tertulis dalam goresan kayu atau bambu seperti tulisan Guru Patimpus sebagai  pendiri kota Medan, tetapi barang-barang itu tidak tahan lama.

Seh sura-sura tangkel sinanggel menggambarkan satu proses dalam kehidupan manusia dimana sura-sura atau kebahagiaan cepat atau lambat tak terelakkan pastilah akan digantikan oleh kesusahan (sinanggel). Sura-sura dan Sinanggel adalah satu kesatuan tetapi bertentangan, dan dalam proses yang sama bisa dikatakan saling berjuang berhadap-hadapan dan saling menyisihkan. Inilah yang dikatakan dalam bahasa kultur intelektual Eropan (kontinen) dengan istilah proses perjuangan  segi-segi bertentangan dari suatu hal-ihwal, atau thesis-antithesis-synthesis kata Hegel. Atau lebih sederhana dengan istilah kontradiksi.

Istilah yang ditemukan Hegel sedikit sangat rumit, dalam tingkatan pemikiran sekarang sudah bisa disederhanakan dengan istilah yang bisa dimengeri oleh semua, misalnya dengan sebutan tenang-kacau-tenang lagi, atau order-disoder-order. Bisa dipahami juga 250 th lalu bagaimana rumitnya menggambarkan dan mengartikan proses ini bagi Hegel. Karenanya bagi saya juga sesuatu yang mengherankan mengapa Karo Kuno memahami dan mengartikan proses ini sangat sederhana dan bisa dimengeri oleh semua: surasura-sinanggel-surasura lagi, atau kebahagiaan-kesusahan-kebahagiaan lagi. Kebahagiaan yang kedua ini sudah tidak lagi sama dengan kebahagiaan pertama, karena sudah berkwalitas lebih tinggi. Itulah juga sebabnya maka dikatakan ada perkembangan atau kemajuan atau kontradiksi mengakibatkan perubahan dan perkembangan.

Hegel memakai istilah synthesis, ini memang mengandung pengertian yang lebih lengkap karena disini dia mengatakan hal-hal yang bertentangan tadi telah melebur jadi suatu yang baru (synthesis), walaupun  belum juga ada pernyataan kwalitas yang baru. Dalam dialektika pikiran Karo seh sura-sura tangkel sinanggel, tidak disebutkan terusan dari sinanggel ke sura-sura lagi. Barangkali orang Karo Kuno menganggap itu sudah dengan sendirinya karena manusia hidup selalu dengan sura-sura dan kedatangan sinanggel sama sekali tidak berarti sura-sura lenyap, tapi tetap muncul lagi. Dan sinanggel pun tetap saja datang lagi setelah itu. Jadi surasura-sinanggel-surasura sudah merupakan axioma dialektika pikiran manusia Karo Kuno.

Apa yang terjadi dalam proses itu?

Pertama, dialektika pikiran ini menunjukkan proses yang berkelanjutan. Kedua, adanya segi-segi bertentangan dalam perjuangan yang saling menyisihkan. Ketiga bahwa perjuangan itu akan menghasilkan sesuatu yang baru dengan kualitas lebih tinggi.

Kalau saya bikin contoh konkret misalnya sura-sura tadi adalah cita-cita berumah tangga atau perkawinan, biasanya tidak lama setelah itu akan datang sinanggel bertubi-tubi dan tidak jarang juga menghasilkan perceraian sebagai puncak sinanggel. Disini proses ini bisa dituliskan lebih sederhana yaitu tenang-cekcok-tenang lagi. Ketenangan yang terakhir ini sudah lebih tinggi dari yang pertama karena kualitas ketenangan sudah lebih tinggi. Misalnya karena sudah lebih banyak saling mengerti dari pengalaman cekcok yang pertama dst dst.

Dalam pemerintahan Orla Soekarno ada puncak kebahagiaannya (sura-suranya), kemudian datang sinanggelnya disingkirkan oleh Soeharto. Soeharto juga dalam prosesnya ada puncak sura-suranya, kemudian datang sinaggelnya karena disingkirkan rakyat. Kalau kita lihat proses hubungan antara rakyat dan pemerintah (demokrasi), prosesnya ialah demokrasi-antidemokrasi-demokrasi lagi. Demokrasi dalam tingkat reformasi jauh lebih tinggi secara kwalitas dari demokrasi ditingkat Orla.

Apakah harus ada antidemokrasi supaya tingkat demokrasi bisa lebih tinggi? Saya persilahkan kepada pembaca untuk menjawabnya.

MUG

Sumber: http://groups.yahoo.com/group/komunitaskaro/message/19147

About karobukanbatak

Suku Karo adalah suku asli yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Deli Serdang, Kota Binjai, Kabupaten Langkat, Kabupaten Dairi, Kota Medan, dan Kabupaten Aceh Tenggara. Nama suku ini dijadikan salah satu nama kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Kabupaten Karo. Suku ini memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Karo. Suku Karo mempunyai sebutan sendiri untuk orang Batak yaitu Kalak Teba umumnya untuk Batak Tapanuli. Pakaian adat suku Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas.
This entry was posted in Opini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s