Tanggapan Berita Kompas: Wali Kota dan Ketua DPRD Akan Diulosi

Ini sekedar catatan buat penulis Pingkan E Dundu dan Benny N Joewono pada Kompas Sabtu, 4 Juni 2011hal: Wali Kota dan Ketua DPRD Akan Diulosi.  Khususnya dalam mengunakan istilah DIULOSI, kata ULOS berasal dari suku Batak Toba yang artinya KAIN ADAT TOBA (khusus Toba/Tapanuli), jadi dengan istilah DIULOSI sama dengan DIBERIKAN KAIN ADAT TOBA/Tapanuli.  Toba atau secara umum sikenal dengan TAPANULI adalah salah satu suku yang mendiami daerah bawah atau tengah keselatan dari Sumatera Utara yang sama sekali berbeda dengan Karo, baik adat, budaya yang ditandai dengan beda dalam BAHASA yang ngak nyambung sama sekali, beda adat perkawinan yang jika ada orang KARO kawin dengan TOBA/Tapanuli, maka pada acara adatnya dilakukan terpisah, karena memang tidak nyambung. Juga pakaian adat yang diugunakan dan juga rumah adat yang berbeda.

Judul di atas membuat MESUI TAKAL (dalam bahasa karo yang artinya sakit kepala) membacanya, karena judul dan isinya tidak nyambung sama sekali. Kalau dalam adat KARO seharusnya kedua penulis memakai istilah Diosei/DiUisi atau lebih baik ditulis AKAN DIKENAKAN PAKAIAN ADAT KARO. Jadi dalam diskusi di milis orang KARO banyak yang komplain, kenapa ditulis tanpa mengetahui dengan benar apa yang ditulis, apalagi sebagai judul.

Jadi tidak benar Wali Kota dan Ketua DPRD Akan Diulosi, tapi yang benar Wali Kota dan Ketua DPRD Akan Dikenakan Pakaian Adat Karo, atau Wali Kota dan Ketua DPRD Akan Diuisi/Iosei. Dalam hal ini Karena orang Karo memiliki pakaian Adat yang disebut UIS, misalnya UIS GARA, Uis nipes, Buka buluh dan sebagainya dapat di google berbagai jenis pakaian adat Karo.

Untuk itu kedepan atas nama Orang Karo, penulis meminta agar lebih hati-hati dalam menulis sebuah suku bangsa, apalagi Karo memiliki karakter yang sangat berbeda dengan Tapanuli atau Toba. Sehingga terkadang gerah juga jika semua disama ratakan, orang karo berpenduduk tidak banyak didunia ini tidak lebih dari 2 jt jiwa dan memilki aturan adat yang cukup terjaga dengan baik, dan memilki perasaan yang  khas. Kalau di Jawa Karo itu selembut orang Sunda seperti Sunda yang ngan dipangil Jawa, demikian juga Karo engan dipangil Batak.

Karo memiliki latar belakang yang panjang, sejarah Kerajaan ARU yang menunjukkan eksistensi Karo secara sejarah nusantara pada jaman Sejarah Majapahit hingga saat ini.  Dibandingkan istilah BATAK yang dipakai oleh orang-orang Belanda, yang gagal masuk kedaerah KARO, dan akhirnya masuk di 1900 dengan misi Agama Kristen melalui suku Toba yang lebih dahulu telah masuk Kristen. Oleh karena itu sampai sekarang SEBAGIAN BESAR ORANG KARO TIDAK SUKA DAN TIDAK MENGAKU DIPANGIL BATAK. Karo sudah eksis jauh sebelum istilah Batak oleh Belanda dinyatakan.

Karo memiliki falsafah yang tinggi, terkenal dengan kemampuan membaca hari dan ilmu nujum lainnya. Gurumbelin (DUKUN BESAR) Pa Timpus Sembiring Pelawi pendiri kota Medan merupakan Orang Karo yg berasal dari  daerah yang subur, yang dapat diartikan memilki kekuatan sedari dulu dan jaya pada masannya. Karo memiliki filosofi dalam pembentukkan nama (link).

Orang Karo dikenal sukses karena sunguh memiliki kemampuan dan keunikan.  Orang Karo dapat menjadi Jendral karena dedikasi dan prestasinya demi bangsa Indonesia. Orang bisa belajar dari Jendral Jamin Ginting dengan kesetiaannya kepada NKRI. Orang Karo dapat meraih profesor walaupun hanya bergelar S2 (Profesor, S2) karena memilki prestasi diatas kebanyakan profesor doktor sekalipun. Contoh Robinson Tarigan, dengan bukunya tahun 2005, yang sdh cited orang lebih dari 60 kali menjadi referensi nasional, dan jurnalnya internasional yang dihasilkannya sendiri 2005, dicited orang dibelahan dunia. Dapat di check di link google scholar, berapa paper Int. Ponis Tarigan, yang adalah seorang profesro. Lihat pemusik natural JASA TARIGAN, dengan prestasi mendunianya (semua dapat di klik di google). Pecatur Cerdas Barus, bukan seorang yang sempurna dengan pendidikan yang memadai namun dapat merai Grand Master catur, itu merupakan petunjuk dasar bahwa Karo memiliki tribe dengan keunikan tersendiri.

Orang Karo tidak akan menjual harga dirinya hanya demi sebuah jabatan, apalagi dengan melakukan kejahatan, karena filsafat orang karo “menjadi terbuang” itu benar-benar diterapkan, jika melangar kebiasaan Karo misalnya istilah KAWIN SUMBANG/ Kawin semarga. Orang seperti ini benar-benar di usir dari kampung.

Demikianlah contoh dari kearifan orang Karo, dan dengan tidak mengurangi rasa simpatik dengan saudara-saudara Toba/Tapanuli, dan semoga saja, kedepan kedua penulis dapat belajar dulu dari perbedaan ini agar tidak menyesatkan. Pada dasarnya apa yang ditulis di link dikompas di atas merupakan sebuah bentuk keteledoran yang mungkin tidak penting bagi sekelompok orang, namun sangat penting dan prinsif bagi sebagian besar orang Karo. Salam Pengetahuan dan Ketelitian.

Sumber: http://sosbud.kompasiana.com/2011/06/04/catatan-untuk-pingkan-e-dundu-dan-benny-n-joewono-dalam-tulisan-wali-kota-dan-ketua-dprd-akan-diulosi/

About karobukanbatak

Suku Karo adalah suku asli yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Deli Serdang, Kota Binjai, Kabupaten Langkat, Kabupaten Dairi, Kota Medan, dan Kabupaten Aceh Tenggara. Nama suku ini dijadikan salah satu nama kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Kabupaten Karo. Suku ini memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Karo. Suku Karo mempunyai sebutan sendiri untuk orang Batak yaitu Kalak Teba umumnya untuk Batak Tapanuli. Pakaian adat suku Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas.
This entry was posted in Opini and tagged , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Tanggapan Berita Kompas: Wali Kota dan Ketua DPRD Akan Diulosi

  1. TIDAKADASUKUBATAK says:

    disinilah kesalahan si penulis menyesatkan bahwa asal nama batak/battech/battier itu dikeluarkan bukan di 1900 melainkan telah disebut oleh marco polo di tahun1290-an, jauh sebelum penjajah belanda datang ke tapanuli ! dan memang sifak toba dan karo sangat berbeda, jika ada segelintir pihak toba yang mengklaim bahwa si patimus itu berasal dari toba, maka yang disalahkan adalah orang yang mengklaim tersebut dan bukan seluruh orang toba. dan lagi saya juga menyalahkan jika ada orang dari pihak karo yang menyatakan toba dengan dialek tebba di karo yang berarti rakus ! sungguh lah pincang arti kata tersebut, bagaimana jika saya menyebut karo adalah keok atau keong maka anda semua tidak terima kan, jadi kita sama-sama menghormati.

  2. tobabukanbatak says:

    walaupun ada beberapa orang toba yang merasa medan itu miliknya itu tidak dapat dibenarkan, jika dilihat sejarah perkampungan medan yang didirikan oleh si guru patimus hanya wilayah kecil yang dihuni 300 orang, pembangunan pun berlanjut setelah medan dikuasai kesultanan melayu, dan akhirnya kota medan mendapat dana pajak dari hasil sawit di wilayah tapanuli dan minyak, gas di pangkalan brandan untuk pembangunan. mungkin benar karo punya hak di medan tetapi hak untuk wilayah yang berhunikan 300 orang itu yang dibangun oleh si patimus sembiring dan sisanya medan dibangun oleh orang luar karo dan inilah faktanya ! seharusnya dicari tau wilayah yang mana yang dibangun perkampungan yang 300 orang itu , nah itulah hak tanah orang karo dan bukan seluruh wilayah medan, bukan dari pajak kalian medan dibangun oiy, sadar diri kenapa. untuk acara adat bagi walikota medan mungkin tidak bisa sepihak orang toba mengklaim karena bukan hak toba, tetapi untuk karo yang merasa berjasa, dan merasa punya hak di medan ya wilayah yang dihuni 300 orang yang dibangun si patimus itulah hak tanah orang karo dan bukan seluruh medan mestinya diterjunkan wilayah mana yang dibangun oleh si patimus yang awalnya berhunikan 300 orang itu biar tuntas kepemilikan orang karo untuk tanah 300 orang itu. dan juga acara memberi ulos untuk ketua DPRD ya sah-sah saja toba mau bikin acara karena toba juga bagian dari wilayah prov sumut. dan acara tersebut semua puak suku di tapanuli berhak memberi acara adat sebagai penghormatan mau itu toba,pak-pak,mandailing dll, jika ada di pihak karo yang menyatakan puak suku karo tapanuli yang berhak membuat acara untuk ketua DPRD itu salah besar karena kalian hanyalah satu diantara 6 puak suku di tapanuli ! harus adil semuanya.

  3. Glori Sembiring says:

    Lagi para toba berisik x.
    Buat sana kampung mu setenar Medan.
    Banyak x alasan mu dana sini lah situ lah.
    Ekekekeke..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s