Tanggapan Tulisan Tentang Film “Anak Sisada” di Situs Harian Analisa

Pada tanggal 27 Juni 2011 situs Harian Analisa (analisadaily.com) mempublikasikan opini seorang penulis yang bernama Manguji Nababan, S.S. yang berjudul Film “Anak Sasada” dan Pelestarian Bahasa Batak.

Berikut adalah tulisan yang dipublikasikan oleh situs Harian Analisa berjudul Film “Anak Sasada” dan Pelestarian Bahasa Batak selengkapnya:

Bahasa Batak Mulai Menghilang? Kepunahan sebuah bahasa adalah ancaman serius akan keberlangsungan sebuah Budaya. Bahasa sebagai warisan leluhur, bagian dari kebudayaan yang perlu dilestarikan.

Bahasa Batak juga tidak luput dari keadaan itu, jika tidak segera di tanggulangi. Kekwatiran itu akan teratasi jika kita mau mem-fungsionalkan bahasa itu dengan cara memaksimalkan manfaat bahasa kepada penggunanya. Fakta dan fenomena nyata sikap berbahasa Batak terutama orang Batak di perantauan adalah sesuatu yang menarik untuk diperbincangkan.

Di kota-kota besar, penggunaan Bahasa Batak tiap tahun berangsur berkurang. Anak-anak Batak yang lahir di perantauan, barangkali tidak lagi mengganggap Bahasa Batak sebagai “bahasa ibu” nya. Sedangkan bagi orang tua yang tinggal di perantauan, Bahasa Batak adalah bahasa Ibu kedua, setelah bahasa Indonesia sebagai Bahasa pertama. Bagi anak-anak Batak, Bahasa Batak dirasakan tidak memberi manfaat yang berarti bagi dirinya, justru merugikan jika terpengaruh akibat logat dalam komunikasi sehari-hari.

Sesuatu perlu dilestarikan jika sesuatu itu bermanfaat dan apapun itu akan ditinggalkan jika tidak bermanfaat. Demikian pula dengan Bahasa Batak. Di kampung, Bahasa Batak, hingga kini masih dipergunakan secara luas. Untuk masyarakat kampung, Bahasa Batak masih fungsionalal, masih memberi manfaat untuk komunikasi praktis.

Di perantauan, khususnya di kota-kota besar, Bahasa Batak tidak banyak lagi digunakan, kecuali pada acara-acara adat. Di kalangan keluarga Batak sudah jarang dipergunakan, terutama antara orang tua dan anak-anaknya.

Di gereja-gereja Batakpun sudah ada acara ibadah yang menggunakan Bahasa Indonesia. Apalagi di lingkungan sekolah dan tempat kerja, Bahasa Batak hanya digunakan di kalangan kerabat dekat, yang sama-sama lahir di kampung, itupun pengunaanya sudah campu-aduk dengan Bahasa Indonesia.

Sederet fenomena di atas, fakta yang membuat kita gundah, jika kita masih mempunyai self belonging terhadap eksistensi bahasa dan budaya kita. Sebab, kata kunci lestari atau tidak sebuah bahasa ditentukan frekuensi pemakaian bahasa oleh pemilik bahasa itu sendiri. Jika demikian, mungkinkah suatu kelak B ahasa Batak mengalami nasib yang tragis punah?

Penyebab Berkurangnya Pemakaian Bahasa Batak

Belakangan ini banyak dari suku Batak tidak pandai berbahasa Batak (Toba, Angkola/Mandailing, Simalungun, Pakpak Dairi dan Karo). Fenemona ini, banyak kita jumpai di kalangan menengah ke atas, sedangkan yang masih kental menggunakannya pada umumnya berasal dari kelompok menengah ke bawah. Ada beberapa faktor penyebabnya, di antaranya:

Pertama, faktor keluarga yang kurang membiasakan berbahasa Batak antara orang tua dan anak-anaknya di rumah. Bagi sebagian orang Batak yang tinggal di kota, ada anggapan tidak modern jika menerapkan bahasa Batak di rumah, sehingga amatlah keliru jika anggapan berbahasa daerah adalah milik orang kampung.

Kedua, Pengaruh pergaulan dan lingkungan sosial. Penyebaran etnis Batak di seantero nusantara mengurangi intensitas penggunaan Bahasa Batak, sehingga lingkungan masyarakat yang heterogen memberi pengaruh kuat terhadap orang Batak untuk tidak menggunakan bahasa daerahnya.

Ketiga, Kurangnya partisipasi (tidak di ikutkan) anak muda Batak dalam acara-acara adat, sehingga anak-anak muda sering beranggapan, urusan adat adalah urusan orang-orang tua. Padahal, acara seperti ini bisa digunakan sebagai wadah untuk memperkenalkan anak-anak terhadap penggunaan bahasa Batak.

Keempat, akibat terjadinya perkawinan antar suku, sebab keluarga tersebut cenderung memilih Bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari di rumah. Dampaknya pada anak-anak yang jarang mendengar, hingga berujung tidak mampu lagi berbahasa Batak.

Kelima, Kurangnya sosialisasi lembaga adat, lembaga pendidikan, perkumpulan marga untuk menggairahkan kaum muda agar mencintai bahasa daerahnya.

* * *

Film “Anak Sasada”, Film Pertama Berbahasa Batak Toba. Terminologi Batak (mengacu; orang, suku, bahasa ) kini, tidak lagi menggambarkan denotasi yang jelas. Dalam fase perkembangan (mamompari) orang Batak terbagi menjadi: Sub etnis Batak- Toba, Angkola/Mandailing, Simalungun, Karo dan Pakpak Dairi.

Berbicara tentang Batak, istilah itu mengacu pada suku-suku yang bermukim secara dominan di lima daerah geografisnya. Bahasa Batak dalam Film Anak Sasada adalah Bahasa sub-etnis Toba yang terdiri dari dialek: Humbang, Samosir, Silindung dan Uluan.

Alasan penetapan Judul Film anak sasada menjadi Putra Satu-Satunya/Putra Tunggal bukan anak satu-satunya, adalah karena pengertian anak dalam bahasa Batak adalah Putra/laki-laki. Dalam bahasa Indonesia anak, berarti; laki-laki dan perempuan.

Di tengah makin redupnya upaya pembinaan sastra Batak, kehadiran Film Anak Sasada adalah alternatif upaya pemertahanan bahasa sastra dan budaya Batak. Segmen budaya menonton, yang menggeser budaya membaca adalah gagasan cemerlang dalam pembuatan film ini.

Film berdurasi 60 menit ini, mengandung nilai-nilai moral dan pesan budaya yang kuat, juga kemasan Bahasa Batak yang berisi petuah-petuah dan kata-kata bijak dari para leluhur. Mulai dari anjuran merantau ‘mangalului ampapaga na lomak’ ajaran hormat terhadap tulang dan menyelipkan tradisi meratap ‘mangandung’, merupakan sastra lama adalah komitmen nyata terhadap pelestarian budaya Batak.

Pembagian sastra lisan Batak: Umpama/Umpasa dan andung-andung, Tonggo-tonggo, Torka-torkanan/huling-hulingan, Torsa-torsa dan Tontonan/Sitontonon.

Sitontonon adalah lakon yang dibawakan di atas pentas atau di tempat terbuka. Dalam hal ini, film salah satu bentuk sitontonon yang dipermodren dalam tampilan audio Visual. Dalam tampilan dialog, unsur-unsur sastra lisan di atas diperkenalkan dalam pembuatan film anak sasada.

Hambatan Pemeran dalam Melafalkan dialog.

Pemeran film Anak Sasada yang tidak saja dari kalangan orang Batak, sedikit menyulitkan dari segi tataran linguistik, yang meliputi; pengucapan, ketepatan artikulasi, dialek yang mempengaruhi terhadap keserasian akting dengan pelafalan dialog.

Dalam bahasa Batak, tidak selamanya apa yang dituliskan itu yang diucapkan. Skenario yang dirancang dengan sisipan pesan moral yang sarat dengan kosa kata arkais sering menyulitkan pemeran untuk memahaminya. Andung sebagai sastra lama yang di tampilkan dalam scene kematian ibu Sabungan, juga tak luput dari kesulitan yang diperankan tokoh Rotua. Dalam memperdengarkan andung, dia harus trampil memilih bahasa andung, tinggi rendahnya suara, mimik pengucapan dan tarikan nafas.

Hambatan beberapa pemain dalam melafalkan dialog disikapi dengan diskusi pra-shooting melalui latihan yang berulang-ulang dan juga menerjemahkan bahasa Batak ke dalam bahasa Indonesia. Kerjasama antara Penulis scenario, sutradara dan penyelaras bahasa juga terbangun dalam pembuatan film ini. Dalam proses Shooting Film Anak Sasada, Sutradara sering menseving beberapa diolog yang akan dipilih menjadi dialog yang dituangkan dalam pengeditan film.

* * *

Kemerosotan Pemakaian Batak Toba terutama di kalangan generasi muda Batak adalah ancaman serius terhadap keberlangsungan Budaya Batak. Anggapan haram, malu dan kolot jika ber- BBT adalah sikap yang merugikan terhadap kelestarian Bahasa Batak. Ancaman kepunahan sebuah bahasa akan berdampak terhadap lahirnya pengarang dan peminat Sastra Batak Toba, Tidak mungkin membina sastra tanpa memahami Bahasa Batak Toba.

Kehadiran film Anak Sasada yang akan diluncurkan tanggal 27 Juni 2011 ini, kita harapkan menjadi salah satu upaya untuk pelestarian bahasa dan budaya Batak Toba. Selain itu, kita mengharapkan kebijakan pemerintah untuk mencantumkan kembali pelajaran Bahasa dan sastra daerah sebagai materi ajar di sekolah yang didiami etnis Batak.

Seharusnya kita malu jika keturunan kita tidak lagi berprilaku dan berpola pikir sesuai dengan identitasnya, yaitu kebatakannya. Maju tidaknya suku Batak tergantung bagaimana orang Batak sendiri mengupayakannya. Hendaklah kita menjadi sosok yang berperan dalam memajukan budaya sendiri.

Atas tulisan tersebut banyak tanggapan yang dilontarkan warga Karo melalui mailinglist (milist) Karo yang berlamat di http://groups.yahoo.com/group/tanahkaro, dan berikut adalah tanggapan-tanggapan tersebut:

Tanggapan Pertama dalam Ilustrasi yang menggambarkan percakapan diantara dua orang yang membahas mengenai Bahasa Batak. Adapun tokoh dalam percakapan tersebut adalah bernama Mantiki dan Pajagohon. Berikut adalah percakapan selengkapnya:

Mantiki: Adakah bahasa Batak, Pajagohon?
Pajagohon: Tentu saja ada, lae.
Mantiki: Adakah bahasa Toba, Jagohon?
Pajagohon: Ada, jelas ada.
Mantiki: Apakah itu Toba?
Pajagohon: Salah satu sub etnis Batak, lae.
Mantiki: Berbedakah pemakai bahasa Batak dengan pemakai bahasa Toba?
Pajagohon: ????
Mantiki: Adakah bahasa Austronesia, Jagohon?
Pajagohon: ?????
Mantiki: Adakah bangsa atau suku bangsa Austronesia, Jagohon?
Pajagohon: ????????????
Mantiki: Apa itu Karo, Jagohon?
Pajagohon: Sub etnis Batak, lae.
Mantiki: Apakah semua orang Toba bisa berbahasa Batak, Pajagohon?
Pajagohon: Tentu saja, lae Ginting
Mantiki: Apakah semua orang Karo bisa berbahasa Batak, Jagohon?
Pajagohon: ??????????????????
Mantiki: Apa bedanya bahasa Toba dengan bahasa Batak, Jagohon?
Pajagohon: Dang hadong, lae.
Mantiki: Ini kucatat semua percakapan kita tadi. Kau baca sekali lagi. Dan, renungkan!
Pajagohon: Unang muruk ho, lae Ginting. Na marmeam-meam do hita, kan?
Mantiki: Adakah bahasa Batak, Jagohon?
Pajagohon: Na marhata Batak do ahu to ho, dang i lae Gitting? I do hata Batak.
Mantiki: (Arah apai pe ajang anak enda. Gusgus min kurumna e maka tehna sekali)

Tanggapan lainnya yang tidak kalah menarik mengenai tulisan berjudul Film “Anak Sasada” dan Pelestarian Bahasa Batak yang ditulis oleh seorang putra terbaik Karo yang juga berprofesi sebagai Wartawan sekaligus praktisi Pendidikan, Juara R. Ginting adalah sebagai berikut:

Saya membayangkannya begini (impal kami Bp. Sampaguita Purba mungkin menangkap riilnya juga). Mereka sempat mensorak-soraikannya sebagai film berbahasa Batak pertama. Bagi mereka bahasa Batak adalah itu yang kalau ke kita mereka bilang bahasa Batak Toba. Lalu si penulis artikel mengirim ke redaktur Harian Analisa dengan alamat email sirajabatak@yahoo.com yang pemiliknya adalah Idris Pasaribu bebere Ginting. Lalu, Idris yang sekarang ini mulai disbukkan dengan perfilman Sumut, berkata kepada penulis: “Kau ulas sedikit mengenai Batak di tulisanmu ini. Kalau kau bilang film pertama berbahasa Batak, berarti kau menganggap Karo bukan Batak. Sudah banyak film berbahasa Karo dalam bentuk VCD.”

Pontang pantinglah si kawan membuat konsep Batak. Terasa dalam tulisannya, ulasannya terlalu memanjang ke soal Batak padahal dia hanya mau menunjukkan betapa luar biasanya pembuatan film ini. Kalau kita ikut alur tulisannya, tak tampak lagi pesan apa yang mau dia sampaikan. Kalau dia bilang bahasa Batak sudah mengkhawatirkan, tak jelas mengapa film Anak Sasada bisa dikatakan sebagai penawarnya. Kecuali kalau dia katakan bahasa Toba yang mengkhawatirkan. Kalau dia anggap film-film serupa berbahasa Karo menjadi penawar terhadap terancamnya bahasa Batak, mengapa baginya Anak Sasada menjadi berita penting sedangkan Anak Mami karya Joey Bangun tidak penting? Sebelum Joey Bangun sudah ada Hendri Bangun dengan film dramanya yang berbahasa Karo. Jawabannya, yang terjadi pada orang Karo tak ada kaitannya dengan Batak kecuali bila sudah menjadi kebanggaan nasional apalagi internasional.

Akibat terlalu memaksakan kehendak yang satu itu, sampai-sampai penulis mendiskusikan terlalu banyak (atau lupa mendelete setelah disuruh redaksi tulis ulang), tentang pengertian anak dalam bahasa Batak. Kata dia, anak berarti anak laki-laki sedangkan untuk anak perempuan adalah boru. Kalau memang begitu, bagaimana bertanya dalam bahasa mereka: “Berapakah anak anda?” Mengapa pula ada “anak bawa” dan “anak boru”? Apakah istilah boru sasada berarti anak satu-satunya yang kebetulan perempuan atau dia punya beberapa anak tapi hanya satu diantaranya perempuan? Bagaimana pula membedakan antara seseorang yang punya anak tunggal dan kebetulan adalah laki-laki dengan seseorang yang punya beberapa anak tapi hanya satu laki-laki? Tapi, tetap menjadi keheranan, mengapa dia merasa perlu mengulas itu.

Bagi saya yang bertahun-tahun bekerja sebagai editor sebuah media cetak dan telah banyak membimbing skripsi sarjana, tampak sekali tulisan itu sudah bongkar pasang dari pembahasan utama tentang film itu (sebagai resensi film), lompat ke soal cakupan Batak dan pilihan terakhir adalah kekhawatiran tentang bahasa Batak sehingga tak jelas lagi ujung pangkalnya. Sempoyongan.

Seperti yang dikatakan oleh M.U. Ginting berkali-kali dan digaungkan terus oleh Alexander Firdaust, inilah hasilnya Karo Ngerana. Mereka sudah tidak percaya diri lagi, Dalam perasaan mereka, Batak adalah yang berbahasa ibu hata Batak. Ketika mereka ikut alur perasaan seperti itu, mereka berbenturan pada efeknya bahwa dengan perasaan seperti itu mereka secara tidak langsung mengatakan Karo bukan Batak.

Heit, tunggu dulu. Mereka punya kepentingan untuk mengatakan Karo adalah Batak. Mereka korbankan kebebasan mereka sendiri untuk mengkotak-katik klassifikasi Batak. Menjadi salah tak mengapa yang penting efek politisnya. Itu yang saya rasakan dalam tulisan itu.

Saya jadi teringat pada sebuah diskusi di buku biografi “Sitor Situmorang: Penyair Danau Toba” yang ditulis oleh Sitor sendiri. Dia dikirim orangtuanya bersekolah ke Balige dari kampungnya Harian Boho (di sisi luar Danau Toba tak jauh dari Bakkara). Di Balige, dia diejek teman-temannya sekelas karena memakai gelang kaki emas tanda keturunan raja (Ingat, Sitor adalah hula-hula langsung dari Sisingamaraja XII). Dia menangis dan mengatakan pada ibunya tidak mau lagi ke sekolah. Tak banyak cingcong, ibunya langsung menggergaji gelang kaki itu dan melepaskannya dari kaki Sitor.

Dalam ulasannya, Sitor menggunakan peristiwa itu sebagai bukti bagaimana orang-orang Batak begitu mudahnya melepaskan tradisinya demi mencapai sebuah tujuan di masa depan. Itu terjadi di masa anak-anak Sitor yang sekarang mungkin sudah berumur sekitar 90 tahun.

Saya melihat penulisan yang kita bahas inipun begitu mudahnya menggantikan Toba dengan Uluan dan mencuatkan Toba ke atas untuk merangkul Samosir, Humbang, Silindung dan Uluan. Dengan begitu, Batak bisa merangkul Karo, Simalungun, Pakpak, Mandailing, dll. Beda dengan Karo, sitek saja penjelasenta la bagi sietehna sedekah enda, enggo mis nderkuh tempa-tempa pan arimo atena.

Gawatnya, mereka berpolitik, kita mempercayai cerita politik mereka sebagai realitas kebudayaan. Kita bisa menjadi korban karena tidak mengetahui kebudayaan sendiri dan juga tidak mengetahui kebudayaan mereka tapi tetap tidak terbuka pada kawan sesuku. Sudah jelas peralihan nama dari Gereja Karo menjadi Gereja Batak Karo Protestan beralasan politik (sungkun ketua moderamen sigundari ras kerina mantan ketua moderamen adi la kena tek), kita tetap tutup telinga seolah-olah ucapan Karo bukan Batak adalah mengancam eksistensi GBKP. Rukurlah kita mbages-mbages, pergunakan pemeteh si lit, ula perasaan lae saja,

Sumber Tulisan:
1. http://www.analisadaily.com
2. http://www.groups.yahoo.com/group/tanahkaro

About karobukanbatak

Suku Karo adalah suku asli yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Deli Serdang, Kota Binjai, Kabupaten Langkat, Kabupaten Dairi, Kota Medan, dan Kabupaten Aceh Tenggara. Nama suku ini dijadikan salah satu nama kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Kabupaten Karo. Suku ini memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Karo. Suku Karo mempunyai sebutan sendiri untuk orang Batak yaitu Kalak Teba umumnya untuk Batak Tapanuli. Pakaian adat suku Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas.
This entry was posted in Opini and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s