Masyarakat Karo Tidak Pernah Berkepercayaan Batak

Tanah Karo  adalah terletak mulai dari selatan tepi Danau Toba bagian Timur laut  terbentang luas ke utara samapai ke Selat Malaka  dan dari sebelah barat mulai dari perbatasan   Aceh sampai  keperbatasan Simalungun di sebelah tenggara  dan timur.
Daerahnya disebelah barat dan selatan bergunung- gunung , termasuk bagian- bagian  dari Bukit Barisan atau dataran tinggi, sedangkan bagian utara  dan timur adalah dataran rendah. Sebagai batas dari  dataran tinggi dan rendah ini terletak gunung- gunung  tinggi yaitu Gunung Sinabung ( 2451 M diatas permukaan Laut ) sebalah  barat dan Gunung Sibayak (2060 M  diatas permukaan laut) sebelah timurnya.

Perkampungan Karo di Namorambe (Deli Serdang Sekarang) Tahun 1880-1890

Sungai yang terbesar di tanah Karo ada 2 (dua) yang pertama  bernama  Sungai Wampu  yang bermuara ke Selat malaka . Sungai ini berasal dari Lau Biang (Sungai Anjing) didataran tinggi Karo dan dan yang kedua Sungai Simpang yang bermuara Singkil di lautan Indonesia  di pantai  Pulau Sumatera bagian barat Aceh selatan. Sungai ini berasal dari Lau Jandi dan Lau Bengap, Renun  menjadi Sungai Simpang kanan dan Sungai simpang kanan bergabung dengan sungai simpang kira dan hasil penggabungan ini menjadi simpang kiri (Rawe Alas) yang berasal dari dataran tinggi Tanah Karo.

Kedua muara sungai ini sangat erat sekali hubungannya dengan suku  Karo. Muara sungai Simpang adalah tempat mendaratnya  pertama kali nenek moyang orang-orang Karo, baik yang datangnya dari perbatasana Buram dan Thailand maupun yang datangnya dari Maderas India Selatan, seperti merga Sembiring Meliala  dan lainnya. Sedangkan Muara Sungai Wampu terkenal dengan  Kerajaan AROE atau AROE wampu (Kl 1200 – 1505) , sedangkan  pada priode itu di Tapanuli ada pula kerajaan Batak dengan segala kepercayaannya itu yang diperintah oleh seorang raja dengan gelar Sori (Seri), Manga (Maha besar) Raja (Raja)  berkedudukan di Sianjur Sagala Limbong Mulana (sekarang disebut tempat itu Tanjung Bunga).

Kerjaaanya orang Karo didataran rendah pantai Selat Malaka sudah berdiri selama  14 generasi. Pada Abad  ke-XIX, Tanah Karo dataran rendah ini terbagi menjadi kesultanan Langkat dan Tanah Deli, serta tanah-tanah di kedua kesultanan ini  dibagi- bagi oleh pemerintah Belanda  menjadi tanah-tanah Konsesi selama 99 tahun. Berlainan halnya dengan dataran tinggi Karo dimana daerah ini pada Abad 19  penduduknya masih hidup dialam merdeka dibawah pemerintahan setempat secara regional yakni : Sibayak- Sibayak dengan sistim Pemerintahan Adat dibawah pengaruh pemerintahan Aceh.

Pada tahun 1128, daerah dataran rendah Karo  atau lazim juga disebut  Karo Jahe,  telah masuk pengaruh agama Islam  dari Kesultanan Daya Pasae  ber-mazhab Syi”ah  Fathimiah yang berpusat dimuara Pasai Aceh, sedangkan di daerah  dataran Tinggi  Karo atau  Pegunungan pada Abad ke XIX  tersebut diatas penduduk Karo belum ada yang memeluk agama Islam, kecuali seorang  Raja dari Kerajaan JUHAR, yaitu Sebayak Kaeisar (Kaisar panggilan tenteranya, tentera jawi yang terdiri dari orang-orang Singkil, Alas dan Gayo  berasal dari daerah Aceh dan kesemuanya telah beragama Islam).

Tiga bersaudara lelaki putra dari JUHANG (panggilan JUANG) TARIGAN dan ibunya beru Sebayang dari Rumah Jahe Perbesi, bersama istrinya bernama Paras beru Sebayang dari Kuala/Singalorlau dan seaorang anaknya Sebayak Juan (Pa Jalapi). Dan inipulah latar belakang sejarah mengapa merga Tarigan Sibero dari Kerajaan Juhar ini oleh pemerintah Belanda dikucilkan karena Belanda Khuatir pengaruh Aceh yang melawan tetap ada di Kerajaan ini kemudian hari  sehingga Sibayak Kaisar adalah salah seorang sahabat dari Sultan Daut dari Kerajaan Aceh dan Sultan ini menganjurkan  supaya Sibayak Kaisar memeluk agama Islam, maka inilah orang Karo di dataran Tinggi yang pertama menjadi Islam dan meninggalkan kepercayaan agama pemena asal kata Bergu  suatu sekte agama Hindu Ciwa.

Pada permulaan  abad XX  tahun (1904-1905) seluruh dataran tinggi Karo ini peraktis telah diduduki oleh tentera Belanda dan Kapten  Coleijn menjadi penguasa perang daerah militer (Militair Gezaghebber) didataran tinggi Karo dan sebelumnya telah mengetahui keadaan raja- raja dan rakyatnya di daerah ini dan  Poortman mantan Controleur Sipirok di daerah Tapanuli diangkat menjadi Reggeringsgemachtigde Belanda  di dataran tinggi Karo dan menetapkan  Kabanjahe sebagai  ibu kota dataran tinggi ini.

Poortman dari Sipirok membawa baginda Johannes Pohan seorang guru Zending dan menerpakan menjadi manteri  Polisi  di kabanjahe dan keduanya berjasa untuk menegakkan Pax Newerlandica disamping  Law and Order di daerah ini.

Sumber: Facebook Ngajarsa Sinuraya Bre Bangun

Foto: Tropenmuseum

About karobukanbatak

Suku Karo adalah suku asli yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Deli Serdang, Kota Binjai, Kabupaten Langkat, Kabupaten Dairi, Kota Medan, dan Kabupaten Aceh Tenggara. Nama suku ini dijadikan salah satu nama kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Kabupaten Karo. Suku ini memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Karo. Suku Karo mempunyai sebutan sendiri untuk orang Batak yaitu Kalak Teba umumnya untuk Batak Tapanuli. Pakaian adat suku Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas.
This entry was posted in Sejarah and tagged , . Bookmark the permalink.

14 Responses to Masyarakat Karo Tidak Pernah Berkepercayaan Batak

  1. tobabukanbatak says:

    sebaiknya nama batak dihilangkan aja, yang ada toba, mandailing, karo, pak-pak, dairi , simalungun DLL karena mereka semua sangatlah berbeda.

    • orangbatak says:

      Saya tidak setuju dengan istilah “suku Toba” karena yang ada adalah suku Batak. Memang ada istilah “halak Toba” tetapi itu dimaksudkan untuk menyebut suku Batak yang mendiami daerah Toba, membedakan mereka dari suku Batak lain yang mendiami daerah Silindung (halak Silindung), Samosir (halak Samosir), dan Humbang (halak Humbang). Toba, Silindung, Samosir, dan Humbang bukanlah subetnis Batak, lebih tepat disebut daerah bagian Tano Batak.

      • RGM says:

        sepenuhnya setuju dengan istilah Suku Batak. Contohnya HKBP = Huria Kristen Batak Protestan, bisa dibilang sbg “flag carrier”nya orang Batak. Jika ada pertanyaan ” Suku/orang apa yg bergereja di HKBP ?” Jawabnya jelas “Suku/orang Batak”. Repot kalo jawabanya “Suku/orang Toba” saja. Nanti org Silindung, Humbang dan Samosir bisa marah2

  2. selayang pandang says:

    klu menurut tulisan diatas, ada kemungkinan beberapa suku di sumatera utara tercipta dari berbaurnya suku bangsa lain,
    terciptanya karo, melayu, tapanuli atau yg lainya, cuma karena julukan saja?

  3. LinggaKurungmanik says:

    selama GBKP masih pake B, selamanya orang Karo itu orang Batak. Jadi reformasi diri sendiri dulu kalau mau jadi ‘kalak karo’.

    • “Diri sendiri?”

      Saya dan ratusan bahkan ribuan orang Karo lainnya juga kristen dan bukan GBKP dan besar juga populasi Karo yang penganut Islam, dan sebahagian kecil Hindu, Budha, dan aliran kepercayaan lainnya yang mengaku Karo adalah Karo(bukan “B”). Apakah gara-gara GBKP kami juga harus menjadi batak selamanya? E, rukur-lah kita nake!😀

      • Jadi, tidak usah tunggu/paksa mereka(GBKP) mereformasi diri mereka(karena itu bukan urusan kita). Salam KBB. Biarkan saja mereka menjadi “Batak” dan kita juga terus mempertahankan identitas/diri kita menjadi “Karo” tanpa embel-embel “B”.

        Mejuah-juah Tuhan Yesus Si Masu-masu.😀

    • orangbatak says:

      Kalau boleh usul, tetap GBKP, B-nya menjadi “bersatu”. Jadi kepanjangannya Gereja Bersatu Karo Protestan. Kalau diinggriskan menjadi Protestant Karo United Church. Maaf kalau tidak berkenan, saya bukan Karo dan bukan anggota GBKP.

  4. safrizal sembiring says:

    Kuciptakan kamu bersuku-suku dan berbangsa agar kamu saling mengenal.

  5. will says:

    yg benar karena perjalaan vasco de gama coba kamu teliti tumbuh tumbuhan batu dan lain lain kayaknya baru aja ada indonesia ada karena mereka. tapi kepercayaan suku karo jaman dahulu bahwa orang bule itu bukan manusia

  6. Suprie says:

    GBKP jangan dihapus…setidaknya GBKP menjadi gereja untuk orang karo yang punya istri atau masih ada hubungan darah dengan batak toba,mandailing atau atau batak lain.

  7. edhie says:

    nanti kita ganti GBKP jadi GSKP aja………..Gereja Suku Karo Protestan (GSKP), supaya jangan ada “B” lagi…..karena makna B sangat jelek…..bangsa eropa menjuluki orang pegunungan dahulu dengan Batak…..karena Batak artinya adalah orang perimitif yang tinggal dipedalaman gunung-gunung…………jd jgn bangga dengan kata Batak wahai suku di sumatera utara…..kita sudah di hina oleh bangsa eropa…dengan julukan Batak bagi semua suku yg tinggal dipegunungan sumatera utara, jd pakailah dengan nama suku masing2, Toba, Karo, simalungun, Pakpak, Mandailing

  8. Masyarakat biasa says:

    Mari silahkan menilai sendiri, dengan penilaian akal masing-masing (Tuhan yang menciptakan)…semuanya berpaling kepada Tuhan yang mencipta semua yang ada diatas bumi. Jadi masalah suku dan asal muasal manusia adalah “Rahasia Tuhan” sebagai Pencipta dan yang empunya. tidak ada satu manusiapun yang tau, (sbg contoh; Umur dari Bumi ini saja tidak ada yang pernah tau dan membuktikan, semua hanya perkiraan yang dibuat manusia semata).
    Salam Damai…dan mari kita jaga selalu Kebudayaan dan Bahasa kita masing-masing untuk menyembah Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s