Renungan Ketiga : Karo Bukan Batak

Sanga kunjungen rombongen Presiden RI, SBY, ku sada ingan pengungsi i Kabanjahe. Sanga si e ndai aku ije sebagai peliput (wartawan). Sebelah ingan pengungsian ah ndai lit sada rumah. Rempet enterem reh danak-danak (umur anak-anak SD). Seh kenca SBY ras rombongenna ku ingan pengungsian, reh me nina dandak-danak ah ndai ersorak: “Horas!!! Horas!!! Horas!!!”

Mari sirenungken mbages-mbages. Perenungenku bagenda (ban ka perenungenndu terhadap fakta sinikuturiken e ndai). Saya menduga keras, danak-danak enda enggo iprogram oleh seseorang atau sekelompok orang untuk melakukan itu. Jelas bukan spontanitas (tak sekalipun mereka mengucapkan mejuah-juah dan mereka semua adalah anak-anak Batak yang tinggal di Kabanjahe).

Pertanyaan, untuk apa seseorang atau sekelompok orang memprogram seperti itu? Jawabannya, agar terkesan bahwa di Kabanjahe sendiri orang-orang menyapa SBY dengan HORAS. Kesan yang diharapkan, setidaknya, kata HORAS juga “punya gigi” di pusat kekuatan politik Karo (Kabanjahe).

Bagaimana orang-orang Karo menanggapinya saat itu? Tak ada yang peduli karena mereka sibuk hendak bersalaman dengan SBY beserta rombongan. Saya tidak berani menegur anak-anak itu karena itu adalah hak mereka. Tak ada hukum atau aturan yang mereka langgar.

Renungannya, setidaknya bagi sang pemogram (saya tetap percaya anak-anak itu tidak spontan dan tak punya jangkauan wawasan politik sejauh itu untuk melakukannya secara sengaja tanpa ada yang memprogram), melakukan hal itu adalah penting “untuk unjuk gigi”. Di pihak lain, kalak Karo cenderung la mediate dalam hal-hal seperti itu. Dalam persaingan etnis, khususnya dalam perpolitikan nasional, kekurangpedulian Karo terhadap hal-hal “kecil” seperti itu adalah kerugian bila semua kita begitu.

Labo dalih anggap teman gia kami “bandit” tah pe kurang dahin. Suatu saat orang akan merasakan hasilnya, kita telah menyediakan diri menjadi benteng dari serangan-serangan “tak kentara” seperti itu. Usur-usur saja dahindu kerina adi kurang akapndu nggerakna ndahiken sidahiken kami enda, tapi ula min kita lupa, bagi katangku ndai: “Aku la pang ngelarang danak-danak ah ndai perbahan ia la melanggar hukum entah pe aturen.”

Janah aku la pang ngatakensa ma danak-danak ah ndai: “Sudah diracuni kau semua.” Entah pe: “Saya melihat gerakanmu hanya emosional.” Apalagi mengatakan: “Bodoh kali kau semua.” La aku pang ngerana bage. Ise kin aku enda sipang ngerana bage man kalak? (Tahu diri, dong).

Sumber: http://dir.groups.yahoo.com/group/infokaro

Baca Juga:

Renungan Lanjutan Tentang Karo Bukan Batak

Renungan Tentang Karo Bukan Batak

About karobukanbatak

Suku Karo adalah suku asli yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Deli Serdang, Kota Binjai, Kabupaten Langkat, Kabupaten Dairi, Kota Medan, dan Kabupaten Aceh Tenggara. Nama suku ini dijadikan salah satu nama kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Kabupaten Karo. Suku ini memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Karo. Suku Karo mempunyai sebutan sendiri untuk orang Batak yaitu Kalak Teba umumnya untuk Batak Tapanuli. Pakaian adat suku Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas.
This entry was posted in Opini and tagged . Bookmark the permalink.

5 Responses to Renungan Ketiga : Karo Bukan Batak

  1. manta depari says:

    labo kita kalak batak pal,,,
    kita lalap nge kalak karo

    ola kin mela-melai kalakkaro kam,,lalit pendirien ndu!

  2. MUG says:

    Enda sada bukti adi Karo bukan Batak atau Batak bukan Karo. Adi Karo enda Batak engkai maka gegehina ka je ngataken horas. Engkai maka la ngataken ‘mejuah-juah pak SBY’. Maksaken Karo adalah Batak sama saja dengan maksakan Pakpak adalah Karo begitu juga Alas adalah Karo karena bahasanya 60% sama dengan Karo. Tapi sangat angkuh dan tak sopan, tak mengormati sesama etnis kalau orang Karo berani bilang Pakpak atau Alas adalah Karo. Saling menghormati penting tapi masih perjuangan. Dan kita akan terus berjuang.
    MUG

  3. harapan ferry y tarigan says:

    Aku merga tarigan dan istri saya dari tasikmalaya (sunda ), Kalau orang tanya istri saya suamimu batak dengan sangat gamblang istri saya mengatakan suami saya orang KARO dan juga anak saya , tdk pernah mengatakan mereka orang BATAK , selalu mengatakan mereka orang KARO , walau pun mereka sama sekali tidak bisa berbahasa KARO . Marilah kita bangga sebagai putra/putri dari daerah KARO , dan Mejuah-juah tidak sama dengan HORAS.

  4. karodis says:

    Batak identik dengan Tapanuli tah pe kalak toba. Tapi adi batak identik dengan Karo. Kuakaplabo lit persoalan karo bukan batak me bage??? wkwkwkwk ada2saja kape

  5. Emaka ula bere kalak teba nukur taneh i Tanah karo gelah ula ngasak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s