Mengapa Natal Nasional Partai Demokrat Digelar di Karo?

Berikut adalah pemberitaan tentang perayaan Natal Nasional Partai Demokrat yang akan digelar di Kabupaten Karo , yaitu tepatnya di, Lau Kawar dan Stadion Samura Kabanjahe, Kabupaten Karo 12 Januari 2013 mendatang.

Natal Nasional Partai Demokrat akan digelar pada 12 Januari 2013 di Lau Kawar dan Stadion Samura Kabanjahe Karo Sumut. Ketua Dewan Pembina DR H Susilo Bambang Yudhoyono akan hadir didampingi Ketua Umum Anas Urbaningrum, Sekjen Edhie Baskoro Yudhoyono dan sejumlah petinggi DPP Partai Demokrat.

Perayaan Natal Demokrat kali ini bernuansa budaya Karo, pada pukul 8.00 sampai pukul 14.00 Wib diadakan acara seni budaya di Lau Kawar dan pesta makan cimpa (makan khas Karo).

Seluruh Kecamatan di Karo akan dilibatkan membuat cimpa sehingga terkumpul 10.000 buah cimpa untuk dimakan bersama. Panitia akan memberdayakan masyarakat untuk membuat cimpa dan dibayar di atas harga pasar, diharapkan cimpa Karo tercatat dalam rekor MURI karena akan dihidangkan 10.000 buah cimpa sebagai salah satu bingkisan Natal Partai Demokrat.

“Dari Lau Kawar bergerak ke Stadion Samura Kabanjahe untuk ibadah raya natal P Demokrat,” kata Wakil Ketua Nurita Sinaga mewakili Ketua Umum DR Hinca Panjaitan SH MHum.

Turut mendampingi Seksi Dana Drs Hendrik H Sitompul MM sahabat karib pak RE yang memfasilitasi pertemuan tersebut. Sekretaris Panitita Natal Dormauli Silalahi, Wakil Bendahara Alin Lubis, Kordinator Aksi Budaya Imen Saragih, Wakil Koordinator Aksi Budaya Ginagan Nainggolan dan Koordinator Acara P Silaban.

Menurut Nurita, untuk menyemarakkan Natal didirikan pohon natal raksasa setinggi 16 meter yang dibuat dari bambu di Bukit Kubu dan pohon-pohon natal berukuran kecil akan diletakkan di sekitar Stadion Samura.

Selanjutnya, kata Nurita, Di Lau Kawar akan dilakukan penaburan bibit ikan dan penanaman 10.000 batang bibit bambu di desa-desa se kawasan Lau Kawar.

Selama 10 tahun usia Partai Demokrat sudah dua kali merayakan Natal nasional, pertama di Jakarta kemudian di Kupang keduanya dihadiri Ketua Dewan Pembina SBY, kata Nurita

Apresiasi

Masyarakat Sumatera Utara khususnya kader Partai Demokrat patut memberi apresiasi kepada Ketua Umum Partai Demokrat bersama Sekjen DPP Partai Demokrat Edhie Baskoro yang menetapkan Kabupaten Tanah Karo tepatnya Lau Kawar dan Stadion Samura Kabanjahe Karo tuan rumah Perayaan Natal Nasional Partai Demokrat, yang akan diselenggarakan 12 Januari 2013.

“Kita patut bersyukur, karena Sumut diberi kesempatan dan kepercayaan menjadi tuan rumah perayaan Natal secara Nasional Partai Demokrat tepatnya di Tanah Karo. Kehadiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tentu akan membawa dampak positif bagi perekonomian di Sumut,” kata Ketua Biro Ekonomi Makro & Keuangan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat (PD) Drs Hendrik H Sitompul MM, Senin (19/11) usai bertemu Cawagubsu dari Partai Demokrat DR RE Nainggolan.

Lebih jauh kata Hendrik, untuk perayaan Natal Nasional Partai Demokrat tahun ini, Manado berkeinginan kuat menjadi tuan rumah. Namun karena ada pertimbangan, Ketua DPP Demokrat Anas Urbaningrum memilih Tanah Karo.

“Ini menunjukkan perhatian DPP Partai Demokrat lebih kuat ke Sumatera Utara, kita patut memberi apresiasi,” tambah Hendrik juga Seksi Pendanaan dikepengurusan Panitia Natal Nasional DPP Partai Demokrat

Selain itu, kata Hendrik, pertemuan dengan RE Nainggolan juga membicarakan terkait Pilgubsu. Partai Demokrat telah menetapkan cagubsu pasangan Amri Tambunan – DR RE Nainggolan MM dan telah mendaftar ke KPU Sumut. “Saya pribadi juga mengajak masyarakat di Sumut untuk memilih pemimpin, yang memahami potensi Sumut dan pengalaman memimpin di Sumut,” tegas Hendrik.

Paduan Suara Raksasa

Pertemuan dengan DR RE Nainggolan, panitia meminta masukan agar perayaan tersebut bisa dikemas dengan baik, mengingat RE Nainggolan sudah berpengalaman menangani perhelatan akbar yang hasilnya sangat mengagumkan. Apalagi perayaan Natal tahun ini dikemas bernuansa budaya agar menarik perhatian warga Kristen untuk beramai-ramai merayakan Natal Demokrat di Tanah Karo.

RE Nainggolan mengatakan, Tanah Karo berdampingan dengan Simalungun dan Deliserdang yang ketiga Kabupaten ini Kepala Daerahnya adalah Ketua DPC Partai Demokrat, sehingga harus dilibatkan ikut dikepanitiaan. Dalam mengemas acara harus dipikirkan apa yang bisa jadi kenangan oleh warga Tanah Karo sepanjang hidupnya bahwa di daerahnya pernah dirayakan Natal yang cukup meriah dan berkesan. Ada hal-hal yang bisa kerjasama dengan beberapa Kementerian seperti Kementerian Sosial untuk bakti sosial, Kementerian Kesehatan untuk pengobatan gratis, Kementerian Pertanian untuk pembelajaran bercocok tanam yang baik kepada petani.

Panitia Natal juga diingatkan agar menggelar paduan suara raksasa yang personilnya dari seluruh DPC P Demokrat di Sumut, sekaligus untuk mendorong DPC-DPC hadir merayakan Natal. Perlu ada kembang api raksasa ditampilkan pada malam perayaan Natal, karena di daerah itu sangat jarang ditemui warga desa dan itu akan menimbulkan kesan yang mendalam baik orang tua sampai anak-anak.

“Kami bangga dengan dipercayakannya Sumut jadi tuan rumah Natal Nasional P Demokrat, kami ikut mendukung agar masyarakat merasakan suka cita lewat Perayaan Natal Demokrat,” tambahnya.

Mengingat keseluruhan panitia perayaan Natal Nasional Partai Demokrat yang akan dilaksanakan di Karo ini adalah orang Batak, maka banyak juga masyarakat Karo yang berpendapat bahwa perayaan Natal kali ini adalah bagian dari pesta Batak Cililitan tahap kedua (Baca: Politik Membatakkan Karo Lewat Sosok Jokowi). Pernyataan itu sendiri disampaikan oleh Malem Ukur Ginting (MUG), salah satu aktivis Karo yang tinggal di Swedia.

Berikut adalah pernyataan yang disampaikan oleh MUG tersebut yang dikutip penulis dari Mailing List Komunitas Karo:

Ini kelihatannya jauh lebih besar dari ‘pesta batak cililitan’ 15 sept lalu (tak melibatkan satupun orang Karo). Tapi mengapa dibikin di tanah karo ya? Bukankah ‘pesta batak’ akan lebih tepat di daerah batak misalnya di Tarutung atau Sibolga atau danau toba yang juga tidak kalah indahnya dari daerah Karo? Patut juga jadi pertanyaan. Dan juga Bupati Karo sebagai kepala otonom dimana?

Sumber: http://www.analisadaily.com & http://www.groups.yahoo.com/group/komunitaskaro

About karobukanbatak

Suku Karo adalah suku asli yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Deli Serdang, Kota Binjai, Kabupaten Langkat, Kabupaten Dairi, Kota Medan, dan Kabupaten Aceh Tenggara. Nama suku ini dijadikan salah satu nama kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Kabupaten Karo. Suku ini memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Karo. Suku Karo mempunyai sebutan sendiri untuk orang Batak yaitu Kalak Teba umumnya untuk Batak Tapanuli. Pakaian adat suku Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas.
This entry was posted in Opini and tagged , , , . Bookmark the permalink.

12 Responses to Mengapa Natal Nasional Partai Demokrat Digelar di Karo?

  1. Kenapa mesti di tanah karo? Kok tak ada orang karo jadi panitia?

  2. Benyamin Sembiring says:

    Salam,
    Jawabannya bisa beragam
    1. Mungkin tak ada satu pun orang karo yg terlibat Di partai demokrat, mengingat org karo lebih banyak Di PDIP Dan golkar.
    2. Atau memang org karo belum ada yg dianggap punya kemampuan utk melakukannya
    3. Bagian Dari politic partai demokrat untuk “mendemokratkan” org karo mengingat pilkada sudah didepan mata
    4. Ah……..Mungkin banyak alasan lain tapi marilah coba berpikir positip, paling tidak Ada 10 ribu cimpa yg Akan dibeli Dan Ada peseta kembang api yg sebelumnya tidak pernah Ada Di tanah karo.
    5. Ini Mungkin yg terpenting, coba Di deklarasikan (apa pun Nama Dan bentuknya) bahwa Karo bukan Batak, mumpung Ada presiden Dan pejabat lainnya Dan dikampung sendiri lagi.
    6. Saran sederhana Saya, buat Tshirt bertuliskan Karo bukan Batak, dipake oleh masyarakat yg nantinya berpartisiipasi pada natal itu. Jgn lupa spanduk………..

    May God Bless
    Benyamin Sembiring

  3. arnold.hutauruk says:

    Salam damai sejahtera,
    Semoga acara Natal berlangsung sukses nantinya

    Saya baru bergabung dengan blog ini dan sungguh menarik membaca judulnya yang menggugah dan sensasional (cetar kalau kata Syahrini, hehehe) “Karo Bukan Batak”
    Thread ini sepertinya bukan ajang diskusi ya, karena sepertinya status admin hanya meminta respons dari pembaca, terlihat dari respon Pak Benyamin yang sangat menarik, namun tidak ada respon.
    1.Saya setuju dengan poin Pak Benyamin, karena ini Natal yang diselenggarakan Partai Demokrat, berarti bisa jadi panitianya adalah kader kader demokrat, yang bisa jadi didominasi oleh orang Batak.
    Ada hubungannnya dengan hasil legislatif 2009 Kab Karo merupakan basis PDIP dengan 7 kursi DPRD, diikuti Golkar dan PAN (mengutip media center KPU)
    Bisa dikatakan Demokrat berusaha menarik simpati pemilih Kristiani di Kab Karo untuk PEMILU 2014.
    2. Kutipan Pak MUG yang mengatakan ini “pesta Batak”. Menurut saya dugaan seolah olah ini pesta Batak hanya karena panitianya banyak orang Batak.
    Tidak ada hubungannya sama sekali karena sekali lagi ini Pesta Natal. Dan dugaan saya memang kebanyakan kader Demokrat disana kebanyakan orang Batak kali ya, sehingga jika dihubungkan lagi maka terjadi sentimen dari orang Karo pada PEMILU 2009 sehingga Demokrat tidak mendapat kursi yang dominan di 2009.

    Jadi kesimpulan kenapa pestanya di Karo karena memang untuk persiapan menjaring suara di 2014, dan saya harap admin jangan menjadikan topik Pesta Natal menjadi polemik yang memancing konspirasi.
    Apakah admin mengharap pembaca menilai “karena Karo sangat spesial sehingga terpilih menjadi tempat pelaksanaan”, atau hanya mengharap pembaca berprasangka “apa apaan ini Natal di Karo kok orang Batak pulak yang panitianya?” well hanya admin yang tau, dan di dunia media memang kalo ga ada gesekan maka headline nya ntar kosong heehehehe..

    Sekali lagi Selamat Natal bagi umat Kristiani yang merayakan, mau Karo ataupun Batak, kita adalah domba domba yang selalu rindu dan akan kembal pada gembalanya

    • Jahtra Barus says:

      SeTuju sekali pak Arnold… Karo bukan batak atau batak bukan karo tidak lah masalah… Yang penting Natal membawa damai bagi kita semua, selamat natal buat karo, selamat natal buat batak, selamat natal buat Indonesia….

  4. MUG says:

    Daerah satu etnis tak bisa dipisahkan dari etnisnya dan kultur/budaya etnis yang berdiam di daerah itu sebagai pemilik yang sah dari tanah ulayat bersangkutan. Ini berlaku bagi semua etnis daerah seluruh Indonesia. Begitu juga daerah Karo tak bisa dipisahkan dari etnis Karo dan kultur Karo. Bikin pesta ‘nasional’ (apapun namanya) di daerah Karo tanpa sedikitpun melibatkan etnis Karo, adalah sikap yang sangat ceroboh dan tak menunjukkan sikap ‘saling mengakui, saling menghormati dan saling menghargai’ sesama etnis seluruh nusantara sebagai dasar kebersamaan dan kedamaian atas semua perbedaan, dan juga tak bisa disangkal bahwa sikap ini tidak memperkuat IDENTITAS Karo, tapi sebaliknya akan memperlemah. Memperlemah identitas satu etnis juga sangat berpengaruh besar atas kebahagiaan dan perkembangan perorangan setiap anggota etnis bersangkutan.
    Saling hubungan antara identitas etnis dengan kebahagiaan dan perkembangan satu etnis, akhir-akhir ini sudah sangat banyak dipelajari dan disimpulkan secara ilmiah oleh banyak ahli-ahli etnis seluruh dunia. Dibawah ini saya ikutkan sedikit:

    IDENTITAS ETNIS, kebahagiaan dan perkembangan perorangan.

    Penyelidikan dan pembelajaran saling hubungan antara identitas etnis (kuat atau lemah) dengan kebahagiaan dan kemajuan seseorang sangat menonjol akhir-akhir ini, terutama setelah munculnya era ethnic/cultural revival dunia. Identitas etnis yang kuat sangat berpengaruh positif, dan sebaliknya identitas yang lemah berpengaruh negatif atas dua hal tsb bagi setiap manusia yang berasal dari satu etnis tertentu.

    “Ethnic identity development also has been linked to happiness and decreased anxiety. Specifically, regard for one’s ethnic group may buffer normative stress. Numerous studies show many positive outcomes associated with strong and stable ethnic identities, including increased self-esteem, improved mental health, decreased self-destructive behaviors and greater academic achievement.”(Wikipedia)

    Perumusan ini diselidiki dan disimpulkan misalnya oleh Smith TB, Silva L mengatakan:

    “Ethnic identity was thus more strongly related to positive well-being than to compromised well-being.” (Smith T B.; Silva L) Journal of Counseling Psychology, Vol 58(1), Jan 2011, 42-60.
    Begitu juga Chavous dalam kesimpulannya bilang bahwa student yang kuat identitas etnisnya sangat erat kaitannya dengan kemajuannya dalam mencapai prestase akademis yang tinggi dibandingkan dengan student yang lemah identitas etnisnya.

    “Chavous and colleagues (2003) also found that African American high school students who had a strong ethnic group identity accompanied by group pride and awareness of societal discrimination had more positive academic attitudes and showed higher academic persistence and postsecondary educational attainment than youth who de-emphasized their ethnic identities, felt less group pride, and who were less conscious of the potential for bias against their group.” ( Ethnic Identity and Academic Achievement by By Tabbye Chavous).

    Pengalaman saya sendiri sangat banyak yang sesuai dengan kesimpulan-kesimpulan diatas, begitu ketika Orla dan terutama di era Orba, dimana Karo sebagai etnis minoritas sangat merasakan dampaknya yang negatif. Sekarang banyak diantara orang Karo yang merasakan sebaliknya setelah dimulainya ethnic revival Karo.

    Apa yang menjadi penghalang utama bagi perkembangan Karo sebagai etnis yang berdiri sendiri selama ini ialah konsep nation state yang masih sangat tertanam mendalam dalam diri kita, sehingga kita menganggap konsep etnis bukan hanya bertentangan dengan konsep nation state, tetapi malah kita anggap bermusuhan sehingga konsep etnis, kita usahakan menguburkannya sedalam mungkin. Hal ini misalnya telihat dari ditabukannya suku dengan istilah ‘sukuisme’ yang sangat negatif, dengan semboyan ‘satu nusa satu bangsa’, ‘persatuan dan kesatuan’ dsb, bahkan ini digunakan dengan licik dan berjalan sangat mulus untuk merampok daerah-daerah subur dan SDA etnis-etnis asli daerah. Pada era Orba malah dibantu dengan kekuatan bersenjata rezim Orba dan pada era Orla dengan politk transmigrasinya dalam konteks ‘satu nusa satu bangsa’ tentunya.

    Gus Dur sebagai presiden dan negarawan banyak berjasa dalam perkembangan etnis dan daerahnya. Konsep dan pemikirannya soal pemekaran daerah dan otonomi daerah adalah ide-ide perkembangan yang menggambarkan tingkat perkembangan nation Indonesia dalam era ethnic/cultural revival dunia.

    Salah satu etnis daerah yang sangat gairah mengikuti perkembangan ini ialah etnis Karo. Karo mengikutinya dengan seksama, menyatakan kemandirian kulturnya, dinyatakan dalam bidang seni, budaya, musik/teater, dan juga media-media Karo online maupun offline, nasional dan internasional.

    Pernyataan yang sangat berarti dan sangat menonjol ialah dalam gerakan pencerahan KARO BUKAN BATAK (karena selama ini identitas Karo dikaburkan oleh istilah ‘Batak’). Ini adalah PENCERAHAN dan pernyataan KEMANDIRIAN yang sangat HAKIKI, bukan hanya bagi Karo tetapi juga bagi seluruh etnis-etnis nusantara yang masih belum jelas bahwa Karo sudah ada dari dulu, bahkan sejak 7400 tahun lalu (penemuan fossil berumur 7400 tahun dengan DNA Gayo dan Karo di Kebayaken).

    Dari segi usaha untuk terus memperkuat dan mengembangkan well being Karo sebagai perorangan maupun sebagai etnis, Karo harus terus mengusahakan memperkuat identitas Karo, memperkuat kekhasan Karo dalam semua kemungkinan yang ada. Di daerah-daerah khas Karo sudah waktunya untuk mengadakan disemua sekolah (SD;SMU) pendidikan kultur Karo, identitas Karo, budaya Karo serta perkembangannya. Tentu disini sangat dibutuhkan guru-guru pendidik yang mengerti soal ini, dan juga yang bebas dari konsep negatif nation-state yang lama seperti ‘satu nusa satu bangsa, persatuan dan kesatuan’ dsb dan yang telah digunakan sangat berat sebelah untuk menindas dan menekan etnis-etnis minoritas yang tanahnya subur dan kaya SDAnya. Guru yang ‘colorblind’ sejauh mungkin harus dikurangi atau dipindahkan dari jajaran pendidikan anak-anak sekolah.

    MU Ginting–

  5. benyamin sembiring says:

    Ada yg bisa kasih reportase tentang pelaksanaan Natal Partai Demokrat ini?

  6. Yoja says:

    Saya komen sedikit masalah kegelisahan kalian ttg Karo Bukan Batak.. saya juga brharap aspirasi kalian didengar dan nantinya Karo bisa diakui negara sbg Suku yg berdiri sendiri dan terdaftar di Unesco tapi ingat pakai cara damai yah ga boleh ribut2..
    Saya orang Batak Toba mendukung..
    Tapi satu hal yg mmbuat perjuangN kalian ini kurang mndpt tanggapan seriuss dr Pemerintah krn Orang2 Karo di pmrinthan sndiri mmprkenalkn dirinya sbg org Batak..

    Contohnya Tifatul Sembiring (MenKominFo) di twitternya bbrp bulan yg lalu.. saya sempat baca kalo ga salah ada komen/tweet orang yg memuji dia soal kbijaknnnya ttg pembatasan BBM atau apalah agak lupa.. tweetnya kira2 begini
    “saya salut sama Bapak yg brani bersuara mskpn dtentang bnyk org”
    Dan jawaban beliau kurang lebih sprt ini..
    “Ya itulah salah satu ciri khas orang Batak”

    nah disitu secara gamblang beliau mnyatakn dirinya Batak bhkn tnpa embel2 Karo diblakangnya.. brarti beliau fine2 aja dan bangga jd bag. dr suku bangsa Batak.. knp kalian ga?

    Tapi yasudahlah sprt saya blg diatas mudah2an perjuangan kalian berbuah hasil dan Suku Karo jd Suku yg brdiri sendiri di kemudian hari

    Horas Mejuah-juah

    • Robin G Munthe says:

      Terdaftar di Unesco atau tidak gak penting bagi gerakan KBB, juga tidak mikirin perhatian pemerintah ada atau tidak. Gerakan KBB berfokus lebih kepada internal orang Karo dan ke masyarakat luas yang selama ini terlanjur memahami Karo bagian dari Batak. Gerakan KBB tidak berusaha mendapat perhatian dari Pemerintah, wong pemerintah saja tidak bisa memperhatikan dirinya sendiri kok. Soal Tifatul Sembiring belum tentu dia berucap spt yg anda sebutkan. Yang jelas2 dia pernah sebutkan kpda wartawan (sambil bercanda)adalah tentang PKS sebagai “Partai Kalak Sembiring” sambil memberi keterangan bahwa “kalak” dalam bhs Karo adalah “orang atau keluarga”.

  7. Dermawan says:

    Ini hanya politik partai demokrat mendulang suara di Karo. Terpancing atau tidak, silahkan masing-masing orang Karo. Soal Batak bukan Batak biarlah dulu. Karena Gereja terbesar di Karo juga bernama Gereja Batak Karo Protestan. Apakah jemaatnya harus mengganti nama menjadi Gereja Karo Protestan ? ( GKP) ?. Masalahnya tidak sederhana, karena menyangkut juga hubungan internasional.

    • Robin G Munthe says:

      Dugaan saya kenapa kata “Batak” di GBKP belum diubah hanyalah krn hal2 yg menyangkut “biaya adminstratif dan terlanjur dikenal” saja, bukan menyangkut etnisitas sebagai unsur utama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s