Kata Horas untuk Tanah Karo Dipertontonkan di TV Trans7

Horas adalah salam khas Batak dan merupakan ungkapan rasa gembira serta rasa syukur, dan juga pengharapan atas keselamatan dan berkat dari Tuhan Yang Maha Esa. Horas diucapkan pada saat berjumpa maupun saat akan berpisah baik dalam acara formal maupun nonformal.  Horas juga digunakan sebagai salam pembuka dan penutup dalam setiap acara Batak. Salam “horas” harus dijawab dengan mengucapkan “horas” juga untuk membantu menciptakan suasana yang bersahabat dan bersemangat.

Suku Karo adalah suku  asli yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Deli Serdang, Kota Binjai, Kabupaten Langkat, Kabupaten Dairi, Kota Medan, dan Kabupaten Aceh Tenggara. Nama suku ini dijadikan salah satu nama kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Kabupaten Karo dengan ibu kotanya Kabanjahe. Adapun salah satu daerah Karo yang paling terkenal di Indonesia hingga mancanegara adalah Berastagi.

Berbeda dengan orang Batak yang memiliki salam khas Horas, Suku Karo juga memiliki salam khas tersendiri, yaitu Mejuah-juah. Mejuah-juah adalah ungkapan ekspresi sambutan hangat yang dapat diartikan selamat datang, salam hangat, dan damai sejahtera untuk kita semua, serta menjadi ungkapan-ungkapan lain yang mengandung kehangatan dan persahabatan.

Bila berkunjung ke daerah Karo, maka kata “Mejuah-juah” akan sering Anda dengar, baik ketika sedang berkunjung ke daerah dataran Tinggi Karo atau dikenal dengan julukan Tanah Karo Simalem (Tanah bagi orang Karo yang sejuk), khususnya daerah Kabanjahe dan Berastagi, maupun di berbagai daerah Karo lainnya, seperti di Kabupaten Langkat, di Kabupaten Dairi, dan lain sebagainya.

Terkait dengan judul tulisan ini, yaitu mengapa kata Horas untuk Tanah Karo dan dipertontonkan di TV adalah terinspirasi dari tulisan salah seorang anggota group “Jambur Merga Silima” di Facebook. Pada tulisan yang dikirim oleh anggota group yang bernama “Teger Mamana” itu mempertanyakaan acara ‘Rekreasi Aziz Nunung’ yang disiarkan oleh Trans 7, Sabtu (13/04/2013) sekitar pukul 11.00 WIB.

“Adakah KDKD ku yang di jambur ini yang sedang menonton trans7 acara azis nunung jalan-jalan.yang lokasi suting nya di berastagi.sangat miris saya mendengar ketika ucapan HORAS…di ucapkan kepada petani dan warga sekitar BERASTAGI.” Demikian tulis Teger Mamana.

Dari tulisannya tersebut Teger Mamana sepertinya mempertanyakan kenapa kata Horas diucapkan untuk orang Karo yang tinggal di Berastagi, sementara seperti sudah disebutkan sebelumnya orang Karo, khususnya yang tinggal di Berastagi pada umumnya memiliki salam khas, yaitu Mejuah-Juah? Mengapa justru salam Batak yang diucapkan, sementara salam khas Karo dilupakan di darah Karo sendiri?

Terkait dengan pengucapan kata Horas di Tanah Karo, sepertinya bukan hanya terjadi kali ini saja. Sebelumnya ketika presiden SBY berkunjung ke Kabupaten Karo berkaitan dengan meletusnya Gunung Sinabung pada tahun 2010 lalu, dimana pada saat itu Presiden menyempatkan diri bertemu pengungsi di Jambur Sempakata, Kabanjahe. Seorang wartawan, Juara Ginting pernah mengungkapkan bahwa pada saat itu dia juga melihat serombongan anak-anak berteriak keras dengan menyebutkan kata “Horas!!!! Horas!!!!”

“Itu mereka ucapkan berkali-kali dengan kerasnya. Kentara sekali mereka telah diprogram oleh seseorang atau sekelompok orang dewasa” sebut Juara seperti yang dia tuliskan pada salah satu milist Karo.

“Kukira, ceritaku ini tak menarik bagi orang-orang Karo kebanyakan. Karena, taktik-taktik licik seperti itu agak jauh dari orang Karo sehingga tidak menjadi bahan perhatian dan dianggap bukan sebagai sebuah cerita. Jangan-jangan bahkan dianggap memprovokasi. Sayakah yang memprovokasi atau teriakan horas itu?” sebut Juara mempertanyakan.

Refrensi:
http://www.facebook.com/groups/111151892321343/
http://groups.yahoo.com/group/tanahkaro/message/32135

About karobukanbatak

Suku Karo adalah suku asli yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Deli Serdang, Kota Binjai, Kabupaten Langkat, Kabupaten Dairi, Kota Medan, dan Kabupaten Aceh Tenggara. Nama suku ini dijadikan salah satu nama kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Kabupaten Karo. Suku ini memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Karo. Suku Karo mempunyai sebutan sendiri untuk orang Batak yaitu Kalak Teba umumnya untuk Batak Tapanuli. Pakaian adat suku Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas.
This entry was posted in Opini and tagged , . Bookmark the permalink.

18 Responses to Kata Horas untuk Tanah Karo Dipertontonkan di TV Trans7

  1. Maryhin Sibagariang says:

    Kalau anda mengaku karo bukan batak, berarti anda harus juga merubah nama gereja GBKP. kalau karo bukan batak lalu asal usulnya dari mana?

  2. B.Ginting says:

    karo bukan batak tapi kata batak dapat mempersatukan suku-suku asli di sumut.

  3. . says:

    Hubungan Suku Gayo Aceh dan Suku Batak.
    Kerajaan Lingga atau Linge (dalam bahasa gayo) di tanah Gayo, menurut M. Junus Djamil dalam bukunya “Gajah Putih” yang diterbitkan oleh Lembaga Kebudayaan Atjeh pada tahun 1959, Kutaraja, mengatakan bahwa sekitar pada abad ke-11 (Penahunan ini mungkin sangat relatif karena kerajaan Lamuri telah eksis sebelum abad ini, penahunan yang lebih tepat adalah antara abad ke 2-9 M), Kerajaan Lingga didirikan oleh orang-orang Batak Gayo pada era pemerintahan Sultan Machudum Johan Berdaulat Mahmud Syah dari Kerajaan Perlak. Informasi ini diketahui dari keterangan Raja Uyem dan anaknya Raja Ranta yaitu Raja Cik Bebesan dan dari Zainuddin yaitu dari raja-raja Kejurun Bukit yang kedua-duanya pernah berkuasa sebagai raja di era kolonial Belanda.

    Raja Lingga I, yang menjadi keturunan langsung Batak, disebutkan mempunyai 6 orang anak. Yang tertua seorang wanita bernama Empu Beru atau Datu Beru, yang lain Sebayak Lingga, Meurah Johan dan Meurah Lingga, Meurah Silu dan Meurah Mege.

    Sebayak Lingga kemudian merantau ke tanah Batak leluhurnya tepatnya di Karo dan membuka negeri di sana dia dikenal dengan Raja Lingga Sibayak. Meurah Johan mengembara ke Aceh Besar dan mendirikan kerajaannya yang bernama Lamkrak atau Lam Oeii atau yang dikenal dengan Lamoeri dan Lamuri atau Kesultanan Lamuri atau Lambri. Ini berarti kesultanan Lamuri di atas didirikan oleh Meurah Johan sedangkan Meurah Lingga tinggal di Linge, Gayo, yang selanjutnya menjadi raja Linge turun termurun. Meurah Silu bermigrasi ke daerah Pasai dan menjadi pegawai Kesultanan Daya di Pasai. Kesultanan Daya merupakan kesultanan syiah yang dipimpin orang-orang Persia dan Arab.

    Meurah Mege sendiri dikuburkan di Wihni Rayang di Lereng Keramil Paluh di daerah Linge. Sampai sekarang masih terpelihara dan dihormati oleh penduduk.

    Penyebab migrasi tidak diketahui. Akan tetapi menurut riwayat dikisahkan bahwa Raja Lingga lebih menyayangi bungsunya Meurah Mege. Sehingga membuat anak-anaknya yang lain lebih memilih untuk mengembara.

    DINASTI LINGGA

    1. Raja Lingga I di Gayo.

    Raja Sebayak Lingga di Tanah Karo. Menjadi Raja Karo.
    Raja Marah Johan (pendiri Kesultanan Lamuri).
    Marah Silu (pendiri Kesultanan Samudera Pasai), dan.
    2. Raja Lingga II alias Marah Lingga di Gayo 3. Raja Lingga III-XII di Gayo 4. Raja Lingga XIII menjadi Amir al-Harb Kesultanan Aceh, pada tahun 1533 terbentuklah Kerajaan Johor baru di Malaysia yang dipimpin oleh Sultan Alauddin Mansyur Syah. Raja Lingga XIII diangkat menjadi kabinet di kerajaan baru tersebut. Keturunannya mendirikan Kesultanan Lingga di kepulauan Riau, pulau Lingga, yang kedaulatannya mencakup Riau (Indonesia), Temasek (Singapura) dan sedikit wilayah Malaysia.

    Raja-raja di Sebayak Lingga Karo tidak terdokumentasi. Pada era Belanda kembali diangkat raja-rajanya tapi hanya dua era 1. Raja Sendi Sibayak Lingga. (Pilihan Belanda) 2. Raja Kalilong Sibayak Lingga.

  4. Mejuah-juah. Sangat miris sekali dengan kelicikan-kelicikan ini.

    “Biarlah KARONISASI terjadi di Tanah Karo dan Bataknisasi terjadi di tanah Batak!”

    Pernah ada perdebatan di group FB tentang KARO BUKAN BATAK… antara satu merga Ginting(pro-Karo Bukan Batak/KBB) dengan akun yang ber-merga Ginting, Kembaren, Sembiring, Gurukinayan, Keloko, dan Tarigan yang pro Karo adalah Batak(batak Karo). Si Ginting yang pro-KBB telah tersudut oleh serangan2 yang bertubi-tubi dari 5 akun bermerga Karo dengan mati-matian menyatakan Karo itu adalah Batak yang katanya bukti2 yang mereka suguhkan itu mereka peroleh dari orang tua mereka. Tampaknya sangat meyakinkan sekalai kalau Karo itu adalah Batak karena yang memberi bukti itu adalah orang Karo sendiri(akun bermerga Karo). Cuma, tiba-tiba terjadi keganjalan ketika si Ginting yang telah tersudut itu bertanya kepada ke-5 akun bermerga Karo yang setuju kalau Karo itu adalah Batak. Saya sangat terkejut saat kelima akun bermerga Karo itu menjawab “Maaf, saya tidak ngerti pertanyaan Anda karena saya bukan orang KARO” (??????). Wah-wah-wah… Tapi pake akun bermerga Karo, dan berani bilang dalam sejarah Karo itu adalah Batak, tapi kok tiba-tiba tak sadar membuka kedok sendiri.😛 wkwkwkwk….

    Inilah salah satu kebusukan orang-orang yang ingin membatakan Karo itu. Banyak akun2 di internet yang bermerga Karo dan fasih berbahasa Karo padahal sebenarnya mereka bukan orang Karo… yang meneriakkan KARO ADALAH BATAK! Dan dengan meyakinkan mereka berkata: “Saya orang karo dan saya bangga jadi orang Batak!”. Yang katanya Karo adalah Batak, akan tetapi melulu bukti yang disuguhkan hanya Silsilah/terombo Si Raja Batak yang notabene-nya tidak dikenal dan tidak diakui di Karo.
    Bahkan ada akun yang katanya merga Tarigan dan Bangun yang sebenarnya bukan orang Karo… tapi mengaku-ngaku Karo dang mengirim banyak tulisan yang bohong dan mengarahkan opini public kalau KARO ITU ADALAH BATAK!

    KOK KALIAN PADA SEWOT SEMUA KALAU KAMI orang KARO ‘nggak mau DIBATAKKAN? ANEH? Atau jangan-jangan kalian takut kalau dunia tahu Karo bukan Batak, kebatakan itu bakalan tidak tampak hebat lagi. Karena salah satunya Guru Patimpus Sembiring Pelawi pendiri Kota Medan adalah putra Karo, dan Perang Sunggal yang katanya Batak Orloog itu sebenarnya adalah Perang masyarakat Karo dan Melayu melawan Belanda. Hehehehe…

    Jadi, kepada kita yang benar-benar asli orang KARO harus berhati2 dengan agen2 batak yang bertaktik busuk ini. Memalukan.
    Salam KARO BUKAN BATAK.

    • Bujur ibas pencerahen si berekendu pak Sembiring. Pencerahen-pencerahen si bagenda rupana memang enggo perlu i sosialisasiken man teman-temanta Kalak Karo sidebanna…

    • Jabut says:

      Adi menurut aku, keberaten kalak toba adi kalak karo menyatakan diri labo kalak batak ntah pe la bagian dari batak la lepas ibas situasi politik nari. Bahwa kalak toba selama enda lepas atena bas provinsi sumatera utara nari, e me erbahan provinsi sendiri, provinsi tapanuli. Adi kalak karo la mengakui kalak batak jadina kalak teba kekurangen pendukung ras daerah siatena i masuk ken na ku provinsi si atena ibahan na. Jadi sura-sura na e lalap la tercapai. Sementara selama enda masyarakat i luar sumut nari, sitandaina adi lit mergana go kapna seri kerina, kalak batak. labo tehna adi bas sumut, batak enda identik kel ras kalak tapanuli. Jadi adi pendukung di luar sumut melala, e me kalak si la ngangka. Situasi enda me perempetken kalak toba enda.
      Tapi masyarakat i sumut, yakin aku antar suku tandaina ras tehna nge perbedaan identitas enda.
      Sada nari menurut aku, kalak karo gelah min ula mela ngakui ia kalak karo ntah ija pa pe ia tading. E me sada cara ntah pe kunci na kel adi tandai kalak ateta kita sebagai kalak karo.

      • Bujur ibas pencerahen si enggo turikenndu, tentu informasi yang kam sampaikan akan sangat berharga bagi kita orang Karo dimana saja berada. Sekali nari mbue bujur

  5. dody bangun mergana says:

    Payo kel katandue bang,aku i jakarta tading
    Mekatep kel rekan rekan sekantor e ngatakenca aku kalak batak tp lbo pernah kukataken ue,mis kujelasken perbedaanna.aku kalak karo titik
    Mejuahjuah

    • Bujur man kam Dody Bangun yang sudah sudi memberikan sedikit pengalaman terkait keberadaan kita sebagai Suku Karo yang sering dianggap sebagai orang Batak di luar Sumut. Hal yang kam lakukan sudah tepat sekali, dimana kita harus mengatakan kepada mereka orang diluar Sumut bahwa kita bukan Batak, tetapi Karo.

  6. juanda sembiring says:

    Saya jg krng setuju bila karo dikatakan batak,, karna semakin merugikan org karo.
    salah satu contoh lagu piso surit yg di aransement oleh viky sianipar.
    jika memang punya niat baik untuk mengenalkn budaya karo mengapa tidak ada kata karo dalam video tersebut.
    dan penjelasan ke publik bahwa lagu yg di aransemen oleh viky adalah lagu batak.
    lihat contoh komentar di video youtube ini

    ini adalah budaya leluhur,, harga mati buat smua suku.
    salam dari juan sembiring.
    mejuah-juah man banta kerina.

  7. charles sitepu says:

    Adi arah aku sada ngenca ise si tek man si pustaka sibadia ntah Tuhan yesus eme saudara sekandungku,ersentabi aku man kam kerina senina kalimbubu tah pe anak beru kami,ula min si perdebatken enda ada masalah sejarah semua bisa berubah2 tapi adi er Tuhan,labanci berubah,saya memang agak keras ke suku karo ya,maklum karna aku juga karo,adi banci min mari dage si cidahken karo enda baci melebihi kalak batak,engkai maka I tv lit kata horas walau pun acara karo,mari kita lihat orang2 karo yg terkrnal sembiring ,kaban tah ise pe,pernah ga dia mengatakan aku orang karo???jadi jgn harap karo ini bisa di kenal kalo kita tertutup,memang miris lebih terkenal batak karo dari pada karo,tapi aku ambil positifya,aku dirantau orang mengenal aku batak,tapi klu kenalan pasti dia bilang abang ini beda lho sama batak lain bahasanya halus tidak kasar mau berbaur tdk pilih kasih,dgn senyum aku mengatakan aku orang karo,oo ternyata orang karo itu ada ya,inilah situasi yg sangat rancu ibarat melepaskan rante btak dari karo yg sudah terlanjur tidak ada putusnya,aku bangga jadi kalak karo

  8. gidion sianturi says:

    Ya udh kalian suku org karo ga mau dibilang batak karo ya udh ga ush ribut…gt aja repot

  9. gio says:

    Sebenarnya permasalahan nya ini adalah mengapa di tanah karo, salam yang di ucapkan horas, mengapa bukan mejuah-juah? Menurut hemat saya mengapa begitu, ya karena masyarakat indonesia pada umumnya mengenal daerah sumatera utara dengan salam horas. Mengapa demikian, karena pada umumnya kita orang karo tidak kurang menonjolkan khas dari kita sendiri. Tidak perlu kita menyalahkan orang lain, koreksi aja diri kita dulu.
    Mejuah-juah man banta kerina…

    • RGM says:

      Itulah sebabnya mulai sekarang akan kita koreksi. Ada salam lain di Sumut yaitu : Mejuahjuah. Ada suku lain di Sumut yang selama ini dikategorikan Batak padahal bukan, yaitu Karo. Kita akan koreksi orang, media cetak dan elektronik yang sdh salahkaprah mengucapkannya agar menjadi benar dan pada tempatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s