Uis Karo dan Karo Bukan Batak

Saya ada sedikit saran dalam membiacarakan uis Karo ini, khususnya dalam hubungannya dengan ulos Batak dan Karo Bukan Batak (KBB).

Saran pertama, sebaiknya kita sama-sama berangkat dari titik nol dan berhanyut dengan proses PENCARIAN INFORMASI dan PENGKAYAAN PENGETAHUAN tentang yang dipersoalkan. Jangan paksakan kesan pribadi yang mungkin saja tingkatnya sangat rendah untuk dianggap sebagai data/ informasi menjadi sebuah kesimpulan.

Misalnya, pendapat senina Ginting mergana Coffee: “Beda uis gara dengan yagg simalungun apa? Saya lihat sama aja.” Nadanya adalah untuk dijadikan penangkis sebuah argumen (Karo Bukan Batak). Padahal, saya yang sudah bertahun-tahun meneliti semua tenunan tradisional di Sumatra tidak menemukan sebiji textil pun yang sama antara Simalungun dan Karo. Lain halnya kalau mirip-mirip. Dan jangan lupa, kemiripan tidak selalu terletak pada objek tapi juga pada otak si pemandang (subjetifitas).

Saran ke dua, tidak adanya orang Karo bertenun bukanlah barang baru. Justru sekarang ini sudah ada satu dua orang Karo yang bertenun. Sudah sejak awal-awalnya orang Karo tidak bertenun. Tapi, orang-orang Karo di Binjai, Sunggal, Laucih, Delitua dan Patumbak mengembangkan pertanian kapas yang menjadi bahan dasar dari tenunan tradisional itu. Daerah ini disebut Sinuan Bunga (Penanam Kapas). Di bagian lebih atas, seperti halnya sekitar Sibolangit, memproduksi gambir sebagai bahan dasar pewarna tenunan, makanya disebut juga wilayah Sinuan Gamber.

Kapas didagangkan dari wilayah Sinuan Bunga ke bagian lebih tinggi dari Taneh Karo setelah diadakan pemintalan oleh orang-orang Karo. Hasilnya adalah Benang Sepuluh dan Benang Dua Puluh (perhitungan yang penting dalam upacara raleng tendi: Siwah Sepulu Sa/ 9 + 11 = 20). (Ingat juga Aron Sepuluh dan Aron Dua Puluh yang terus saling bersaing dalam acara guro-guro aron. Bila yang satunya menjadi aron simantek yang lainnya menjadi aron anceng dengan memainkan drama gundala-gundala atau pergamber-gamber di pinggir kmpung).

Semua desa Karo melakukan pencelupan (ertelep) sebelum mereka mengirimnya lewat Perlanja Sira ke Negeri Ketengahen atau disebut juga Sitolu Huta (Tongging, Paropo, Silalahi). Di sanalah uis Karo ditenun dan nantinya dijemput kembali oleh Perlanja Sira dan menyerahkannya kepada pemesan.

Ketika controleur Middendorp hendak mengembangkan Bank Rakyat di sekitar tahun 1930an (dengan mengirim beberapa raja Karo seperti Pa Pelita ke Padang untuk belajar tentang bank), Pa Pelita si Sibayak Kabanjahe menarik para penenun dari Sitolu Huta ke Kabanjahe dan memberikan tempat tinggal untuk mereka satu kesain baru (sejak itulah banyak orang-orang Situlo Huta di Kabanjahe). Ingat Sitolu Huta (Tongging, Paropo dan Silalahi) bukan Toba dan bukan Samosir. Siapa mereka? Itu pertanyaan lain lagi yang bisa kita bahas di lain waktu.

Sistim seperti ini terdapat hampir di seluruh dunia. Kita ambil saja contoh Pulau Laboya (Indonesia Timur). Tenunan Laboya dimulai di bagian Timur pulau itu dan dilanjutkan ke Laboya Tengah. Penenun-penenun Laboya Tengah tidak boleh menyelesaikan tenunan. Mereka harus menyisakannya untuk diselesaikan di Laboya Barat. Sistim ini terkait dengan konsep The Laboya as a Woven Land yang, ternyata, dianggap punya body phyton (Perhatikan motif kulit ular sawah pada uis gara yang tidak didapati di tenunan Batak).

Sistim yang mirip pernah diperkenalkan oleh antropolog ternama Bronislaw Malinowsky yang meneliti sistim pertukan mwali (ubi rambat) dengan sulava (mutiara) di Trobrian Island (Fiji) yang kemudian dianalisis oleh Marcel Mauss dengan menelorkan the theory of exchange (ini menjadi trend baru di dalam Antropologi Ekonomi yang menjelaskan sistim perbankan masa kini yang ternyata sama dengan primitive exchange. Sebagaimana dikatakan oleh Levi-Strauss, Wall Street itu bukan tempat rasional dan logika tapi tempatnya The Savage Mind (bukunya ini diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda Het Wilde Denken), alias rumah judi. Karena itu, para antropolog merasa berhak berbicara atas krisis finansial yang terjadi akhir-akhir ini dan menuding penyebab utamanya adalah bank-bank multi nasional yang membunuh bank-bank lokal (sebut saja raja-raja kecil).

Kajian paling awal tentang tenunan tradisional di Antropologi dilakukan oleh Marcell Mauss di kalangan Eskimo (yang sekarang akanmengamuk kalau dibilang Eskimo. Mereka menyebut diri mereka Inuit. Mereka sudah duluan dengan gerakan IBE yang mirip KBB; Inuit Bukan Eskimo). Menurut Marcell Mauss, uis Inuit yang disebut Potlach adalah juga alat tukar (sejenis uang) selain untuk melindungi diri dari rasa dingin. Dia selanjutnya mengkaji pertukaran Potlach dalam upacara-upacara ritual.

Penelitian Mauss dijadikan oleh Lévi-Strauss untu mematahkan teori penyebaran kebudayaan secara difusionisme maupun migrasi. Dalam sebuah tulisan saya, saya merespond Lévi-Strauss dengan memperlihatkan perbedaan antara Batak dengan Karo: Di Karo, uis mengalir dari kalimbubu (life giver) ke anak beru (life receiver) (Ingat dalam ngosei). Di Batak, ulos mengalir dari boru ke hula-hula. Ketika saya paparkan ini di Paris, murid-murid Levi-Strauss langsung berkata: “Itu adalah pertanda Karo dan Batak membedakan diri satu sama lain.” (dalam missi mereka mematahkan teori dari orang-orang Jerman yang tetap bertahan pada difusionisme dan evolusionisme sehingga mereka getol mengucapkan Batak sebagai sebuah rumpun budaya).

Tak aneh, Daniel Peret (yang orang Perancis) mengkoyak-koyak rumpun Batak.

Saran berikutnya, jangan menganggap semua uis Karo terinspirasi oleh Batak. Parang rusa[k] asalnya dari Gayo yang di sana berarti parang rusa (tanduk rusa) yang artinya sama dengan parang mbelin di Karo.

Saran saya yang terakhir, mari mengkespresikan pengalaman-pengalaman pribadi kita di sini tapi jangan lemparkan ke forum sebagai sebuah kesimpulan akhir.

Ditulis Oleh Juara R. Ginting dan Dipublikasikan di Group Facebook Jamburta Merga Silima

About karobukanbatak

Suku Karo adalah suku asli yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Deli Serdang, Kota Binjai, Kabupaten Langkat, Kabupaten Dairi, Kota Medan, dan Kabupaten Aceh Tenggara. Nama suku ini dijadikan salah satu nama kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Kabupaten Karo. Suku ini memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Karo. Suku Karo mempunyai sebutan sendiri untuk orang Batak yaitu Kalak Teba umumnya untuk Batak Tapanuli. Pakaian adat suku Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas.
This entry was posted in Opini and tagged , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Uis Karo dan Karo Bukan Batak

  1. indra says:

    sekedar saran,
    kalau bisa penjelasan KBB ini dibuat dalam bahasa inggris, tujuannya agar dapat diketahui secara lebih luas.

  2. Batak Keren says:

    Kampanye KBB dapat mendongkrak kepopuleran Batak dan akan semakin Keren, kemungkinan semakin mendunia;

  3. albert says:

    memng kampanye kbb akan mendongkrak kepopuleran batak tapi orang akan lebih jeli lagi bahwa karo ya karo dan tu mmbuat org lain datang untuk mmpelajari karo lebih genting karna slama ni karo dianggap batak mreka lebih meneliti di samosir sana tapi dengan kbb ni org akan brlari kekaro untuk mmpelajari karo tidak hanya batak yang populer aceh pun akan populer karena suku gayo diaceh dianggap nenek moyang karo dengan adanya temuan bukti 4 kerangka manusia karo purba diaceh yang masih dihuni oleh org karo. skali lagi batak memang akan populer tp org tidak hanya memandang batak lagi tp melihat lebih jeli lagi akan budaya karo apalagi karo masih menyimpan wisata rumah adat berumur ratusan tahun yang hampir ada disemua desa ditanah karo. berbeda dengan suku batak seperti simalungun banyak desa yg tidak ada rumah adatnya. tp karo sgt konsisten memiliki rumah adat tiap desa kalopun ada desa tidak memiliki rumah adat karna memng desa tu dari dulu ga prnah punya rumah adat atau desa tu desa buatan atau desa paling baru, sedangkan saat ni tuk membuat rumah adat karo setidaknya mmbutuhkn dana lbih dari 1,5 M. Karo mmiliki wisata yang banyak bahkn tdak kalah dengan samosir, Karo menerima wisatawan domestik atau mancanegara ada sekitar 5 jt per tahun trutama disekitaran kota berastagi yang disukai wisatawan asal medan. Jadi batak tidak akan semakin keren, tetapi bisa saja disama ratakan oleh karo apalagi karo memiliki tifatul sembiring mantan ketua PKS dan MS kaban ketua umum PBB. Kekuatan karo masih sangat besar apalagi daerah yang dikuasai oleh masyarakat karo tidak hanya di kabupaten karo tetapi mulai simalungun 10%, deli serdang 75%, serdang bedagai 60%, langkat 40%, medan 80%(dulunya areal masyarakat karo) tu mulai dari awal titik jln jamin ginting sampai kepadang bulan tu wilayah tanah karo, asal nama kota medan tu brada dalm bahasa karo artinya sembuh namun toba menyebutkan kata medan”e” tu laval tinggi sedangkan karo e tu laval rendah mknya penyebutan medan tu sperti skarng. dari penjelasan saya tu aja nntinya banyk org yg bakal mempelajari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s