Kemajuan Gerakan Karo Bukan Batak

Persepsi dan relasi baru antara Karo dan Batak (KBB), sudah mulai terlihat walaupun masih terlihat “sebagian agak gagap”. Persepsi baru menumbuhkan relasi baru. Kalau orang Karo ketemu dengan Batak, pertama dalam hati masing-masing ialah apakah orang ini sudah mengetahui existensi KBB. Umumnya terus terbaca oleh masing-masing, karena memang KBB sudah begitu tersebar kemana-mana dan juga ke lubuk hari orang Batak maupun orang Karo.
 
Mengapa KBB begitu mempengaruhi kedua suku ialah karena KBB adalah tuntutan kebutuhan bagi keduanya. Bagi orang Batak perlu mengetahui atau perlu antisipasi karena kebutuhan poltiknya selama ini membatakkan yang lain (4 suku: Karo, Pakpak, Simalungun, Mandailing), dan Karo sangat butuh karena politik pembebasan dirinya sebagai etnis mandiri, punya jati-diri sendiri sebagai Karo, bukan sebagai Batak.  Karena itu perluasan KBB dikalangan dua suku ini sangat cepat dan semakin mendalam dan semakin ilmiah juga pengertian-pengertian yang terkandung didalamnya.
 
Orang Batak pada mulanya sangat enggan untuk mengakui kebenaran KBB, tetapi semakin banyak yang ‘terpaksa’ mengubah sikap dan pandangannya. Ini bisa terjadi karena orang Batak dan kulturnya adalah suku yang bisa cepat mengubah pandangan, begitu mereka melihat pandangan lama sudah tak menguntungkan (“orang Batak menghayati kehidupan sebagai perlombaan dan ingin menang” –  DR RE Nainggolan). Kalau sudah terlihat pasti kalah maka perlu logis saja, tinggalkan. Ini sesuai dengan sifat extroversi orang Batak (stimulasi extern). Dalam praktek banyak yang bajing loncat dari satu partai ke partai lain (yang diduga akan menang). Berlainan dengan orang Karo yang berpendirian relatif tetap dan teguh, seperti kapten kapal yang mau tenggelam dengan kapalnya.
 
Dua sifat ini tentu ada positif negatifnya. Masing-masing suku menyesuaikan diri dan memanfaatkan semaksimal mungkin sifat masing-masing, kapan menguntungkan dan kapan merugikan. Disinilah akan terlihat ‘kepandaian’ menghadapi perjuangan kehidupan (survival) perorangan atau sebagai satu etnis/kultur. Satu kelebihan yang sangat menonjol bagi orang Karo ialah suka berpikir dan berpikir mendalam, sering menemukan kreasi baru dalam pemikiran maupun dalam praktek kehidupan. Ini erat hubungannya dengan sifat introversi Karo (stimulasi intern).  
 
Dengan perubahan perubahan persepsi dan sikap dalam saling berhadapan ini, tentu hubungan pasti semakin rasional atau reasonable, ‘lebih nalar’.

Hubungan ada dan dirasakan perlu kalau memang perlu. Tak tergantung lagi karena kita “sesama rumpun”. Itu sudah tak ada atau sudah semakin tak dipakai. Masing-masing sudah mengetahui dari pengalaman selama ini, rumpun mana yang diuntungkan dan rumpun mana yang dirugikan dengan hubungan “sesama serumpun” yang dibarengi dengan ‘hal-hal bersifat emosional’. Karo sudah mengetahui bahwa dia dirugikan, dan sebaliknya juga orang Batak mengetahui bahwa mereka diuntungkan (politis) dengan emosi serumpun itu. Karo sekarang sangat ofensif ingin mengubah keuntungan dan kerugian sepihak ini menjadi keuntungan bersama, sesuai dengan filsafat hidupnya sikungingen radu megersing, siagengen radu mbiring (win win solution). KBB menguntungkan semua pihak dan pencerahan bagi dunia, dan bahwa Karo adalah salah satu kultur tertua dunia yang berjuang untuk keadilan dan kemenangan bersama kemanusiaan.
 
Adanya KBB telah menumbuhkan kesadaran baru di Karo, dan juga diluar Karo,
sudah banyak kita alami sendiri.  Sebagai Karo kita sudah lebih pandai untuk meneliti mana yang menjadi kepentingan kita sebagai etnis mandiri, yang menjadi prioritas bagi survival Karo. Sudah “tidak mudah diseret-seret dalam berbagai kepentingan” terutama yang tidak ada sangkut pautnya dengan survival Karo. Dan sering juga yang berbahaya bagi existensi kultur/daerah Karo, seperti pemekaran daerah Karo yang bertujuan memecah Karo seperti pemekaran Berastagi. Lain halnya kalau pemekaran dimaksudkan untuk tujuan pemekaran propinsi Karo (5-6 kabupaten/kota sebagai syarat propinsi).
 
Pada era Orba kita ikut berteriak ‘persatuan dan kesatuan’, ‘satu nusa satu bangsa’,  dsb. Pakpak dan Simalungun dan semua etnis/kultur ikut bersemangat tinggi terseret-seret ke pusaran kepentingan Orba yang dibilang kepentingan nasional. Pakpak dan Simalungun dan banyak etnis-etnis minoritas lainnya semakin minggir berada di ujung tanduk kepunahan. Ini adalah soal mana yang prioritas bagi tiap kultur/daerah. Karo sangat dini menyedari persoalan prioritas bagi kelanjutan existensi kultur budayanya dan juga daerahnya. Belakangan sudah terlihat juga adanya pemikiran dan usaha-usaha dari Pakpak dan Simalungun untuk antisipasi kesalahan masa lampau yang sangat berakibat fatal bagi existensi kultur budaya dan daerah mereka. Sudah ada yang mengangkat Pakpak Bukan Batak, begitu juga dari pihak Simalungun. Kita mengharapkan existensi budaya etnis-etnis minoritas ini tetap terpelihara dan semakin makmur. Etnis-etnis daerah inilah yang membentuk nation Indonesia. Kemenangan semua etnis/kultur ini adalah kemenangan nation Indonesia. Sikuningen radu megersing, siagengen radu mbiring.

Sumber: http://groups.yahoo.com/group/tanahkaro/message/37442

About karobukanbatak

Suku Karo adalah suku asli yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Deli Serdang, Kota Binjai, Kabupaten Langkat, Kabupaten Dairi, Kota Medan, dan Kabupaten Aceh Tenggara. Nama suku ini dijadikan salah satu nama kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Kabupaten Karo. Suku ini memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Karo. Suku Karo mempunyai sebutan sendiri untuk orang Batak yaitu Kalak Teba umumnya untuk Batak Tapanuli. Pakaian adat suku Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas.
This entry was posted in Opini and tagged , . Bookmark the permalink.

14 Responses to Kemajuan Gerakan Karo Bukan Batak

  1. rudianto says:

    Dengan tes DNA, Bill Clinton menemukan asal usul nenek moyangnya (kekerabatan terdekat) di salah satu daerah di Eropa, dengan tes DNA, pewaris tahta Inggris sekarang memiliki sedikit darah dari India (ada yang pernah kawin sama orang India).

    Jadi kalau mau menentukan seberapa dekat kekerabatan antar spesies, antar etnis, atau antar 2 orang, maka tes DNA lah jawabnya. Mari kita ambil sampel DNA dari Toba bandingkan dengan DNA Karo…. Baru kita publikasikan di seluruh Jurnal Kesehatan, Sosiologi, Antropologi seluruh dunia… kalo memang ada yang salah harus dibetulkan…

    Perlu juga dipertimbangkan apakah yang dimaksud kemiripan itu adalah DNAatau Budaya (bahasa, kerajinan, atau kebiasaan)?Bisa jadi DNA berdekatan, namun budaya berbeda (karena tempat tinggal). Bagaimana dengan Kakek nenek kawin campur (Toba/Karo), Ibu Bapak kawin campur (Toba/Karo/Melayu/Jawa dll)? Anaknya suku apa ya… Toba atau Karo????????

    Salam Erat (Menjuah-juah/Horas)

  2. Robin G Munthe says:

    Unsur pembentuk sebuah suku bukan DNA semata, tapi juga unsur2 lainnya spt : bahasa, adat istiadat, kebiasaan dan sistem kepercayaan kuno, karakter khas, tata cara kelahiran s/d penguburan, rumah adat, pernak pernik budaya spt kain adat, alat musik dll. Jadi bisa saja ada merga di Karo DNA-nya sama dengan salah satu marga di Batak dan Mandailing, tapi secara sosiohistoris dan budaya mereka berbeda, shg sukunya pun berbeda.

  3. MUG says:

    DNA bisa sama dan bisa juga berlainan. Tetapi yang kita selalu lihat ialah perbedaan yang terlihat dan bisa dirasakan secara manusiawi yaitu ‘sosiohistoris dan budaya’.
    Dan perbedaan bukanlah suatu yang ‘haram’ tapi MOTOR perubahan.
    Kalau DNA diantara orang-orang KBB berlainan sama sekali tidak berarti kalau KBB harus bubar, begitu juga kalau diantara orang Karo banyak yang berlainan DNAnya.

    MUG

  4. nainggolan says:

    karo bukan batak tidak menjadi masalah, atau mandailing bukan batak juga tidak masalah…hanya untuk menjadi gubernur di sumut jangan harap karo atau mandailing kedepan menjadi gubernur karena kita sudah tidak memiliki rasa persatuan memiliki dalihan natolu/rakut sitelu……yang mana dulu gubernur sumut ulung sitepu sangat menjungjung ini…sayang beliau terlibat g30s……..maunya karo menteladani beliau……..

    • Ginting Suka says:

      Sekedar info saudara Nainggolan,G30/S hanya fiktif saja,untuk menambah wawasan saudara Silahkan tonton film dokumentar ” The act of Killing ” siapa sebenarnya yang jadi korban?
      Dan mengapa anda berpendapat suku lain selain toba tidak bisa jadi Gubernur di SUMUT ? Apa yang salah dengan PKI ? apa yang anda tahu tentang PKI (diluar pelajaran sejarah yang didapatkan dibangku sekolah yang isinya didogma oleh pemerintah ORBA ).Saya orang KARO dan bangga jadi orang KARO bukan Komunis tapi menghormati dan menghargai Komunis !

  5. sadarta sinulaki says:

    KBB sebaiknya lebih bersifat ilmiah daripada politis. karena politis kental dengan unsur kepentingan tertentu. yang pasti karo , toba, simalungen, pakpak, mandailing, angkola msg2 punya perbedaan dan persamaannya. klo kata batak mula2 merupakan istilah org kulit putih jaman dulu untuk mereka yang berdomisili di dataran tinggi ( yg punya marga). tp beda dengan sekarang kata batak memang lebih dominan ke etnis toba. yang penting perbedaan dan persamaan itu kita bawa untuk kebaikan dan kemajuan bersama. mejuah2, njuah2, horas, yahobu

  6. joy says:

    GOLKAR = GOLONGAN KARO, bukan golongan batak

  7. Rudianto TOruan says:

    Rekan2 sekalian…. Secara bilologi jarak (jauh-dekatnya) kekerabatan dua mahluk, tentu ditentukan oleh DNA. Bukan kah itu yang dicari tahu oleh kita semua, yakni sejauh mana kekerabatan yang mengaku dirinya Toba dan Karo?

    Sdr Munthe, misalkan ada Sembiring di Kabanjahe dengan Sembiring di Copenhagen, secara budaya, bahasa, kebiasaan, dan sebagainya sudah pasti beda……tetapi karena mereka menggunakan sembiring (yang mana ditentukan kekerabatan) maka tes DNA lah yang paling menentukan…. itu kalau mau “Ilmiah”.

    COntoh kedua, kalau Kakeknya Sembiring, Neneknya orang Jawa, Mamaknya sembiring-Ayahnya menado…. Dia Suku apa ya?… sekali lagi, untuk melihat kedekatan kekerabatan…. tes DNA lah…. kita mengatakan, dia bukan sembiring, tapi ada gen sembiring….. dsb…. Dalam hal ini “tidak relevan lagi Dia Suku Apa” campuran “Sembiring-Jawa-Menado”🙂

  8. batak boy says:

    karo itu bukan batak.. batak adalah toba,silindung,humbang, samosir dan angkola..

  9. Dalam DNA tidak bisa dilacak apakah karo atau batak karena di dalam DNA itu tidak ada label karo atau bukan, kalaupun harus dilakukan sampel DNA-nya harus diambil dari perbandingan manusia purba karo dan manusia purba batak, sulit nyarinya perlu proses yang panjang, tapi ujung-ujungnya nanti kita semua akan berasal dari salah satu nenek moyang kita yang ada di Afrika sono tuh, homo sapiens, pithecantropus erectus, atau yang lain.

  10. capek kali kalian.. yang jelasnya batak adalah adalah orang tapanuli yaitu toba,humbang,samosir silindung,hasundutan,angkola.. karo jangan coba2 mendompeng nama batak..

  11. karo mohon agar kata batak dalam GBKP segera dikembalikan kepada pemiliknya.. yaitu Bangso Batak Na Jogi… bujur..

  12. rubahlah mrnjadi GEREJA KARO PROTESTAN.. Tuhan Memberkati… bujur..

  13. RGM says:

    Kata “Batak” dihapus dari GBKP itu urusan org GBKP sendiri. KBB tidak pernah memiliki agenda menyentuh hal2 yg menjadi domain GBKP. Yg sering terjadi, orang yg anti KBB-lah yg membenturkan KBB dengan GBKP. Tapi org Karo diikat “rakut sitelu tutur siwaluh” shg upaya org yg suka membentur2kan tak pernah berhasil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s