Politik Pecah Belah dalam Membatakkan Karo

Dalam bukunya yang berjudul ‘The Mission to the East Coast of Sumatra in 1823’ (terbit 1826 dan terbit ulang 1971), Jhon Anderson melaporkan adanya terdapat rumah-rumah adat Karo di Desa Lau Cih. Sekarang ini, Sunggal dan Laucih masuk ke wilayah Pemko Medan. Dalam laporan itu dia juga mengungkapkan bahwa sedikitnya terdapat 50 rumah adat Karo di Desa Sunggal.

Dengan realita keberadaan rumah adat Karo di daerah Langkat Hulu dan Deli Hulu pada saat itu, maka anggapan saat ini bahwa Taneh Karo hanya terbatas pada wilayah Kabupaten Karo sekarang adalah hal yang keliru.

Kembali kepada pengertian Batak berdasarkan catatan sejarah para pengembara dan ilmuwan yang ditulis di buku ‘Kolonialisme dan Etnisitas: Batak dan Melayu di Sumatra Timur Laut’ Daniel Perret mendefinisikan Batak sebagai suku pedalaman, kanibal, kasar, pemakan babi, dan tak beradab (uncivilized). Ia kerap dipersabungkan dengan Melayu yang dianggap sebagai suku pesisir, melek budaya, dan beradab (civilized).

Benarkah semua suku Karo tinggal di pedalaman, kanibal, kasar, pemakan babi, dan tidak beradab pada saat para pengembara dan ilmuawan datang mengunjungi Sumatera Utara saat ini kala itu?

Ternyata tidak sepenuhnya suku Karo dapat diidentikkan sebagai Batak. Suku Karo yang tinggal dipegunungan (pedalaman) mungkin saja bisa digolongkan menjadi bagian Batak. Tetapi tentu saja suku Karo yang sudah tinggal menetap di daerah pesisir (Langkat Hulu dan Deli Hulu) tidak lagi termasuk didalamnya.

Terbukti juga para raja-raja Karo yang tinggal di pesisir telah memeluk agama Islam, dan tentu apabila seorang raja telah memeluk agama pada saat itu, maka dapat pula diduga bahwa seluruh masyarakat Karo yang menjadi pengikutnya di daerah pesisir telah memeluk agama (disebut berbudaya dan beradap oleh pengembara dan ilmuawan).

Perang Sunggal (Batak Oorlog)

Pada 1870 ketika Sultan Deli VIII Mahmud Perkasa Alam memberikan tanah subur dalam wilayah Sunggal untuk konsensi perkebunan kepada Maskapai Belanda De Rotterdam dan Deli Maschapij tidak dapat diterima oleh masyarakat Karo yang tinggal di daerah Sunggal.

Karena dukungan dan kemarahan dari rakyat, akhirnya Datuk Badiuzzaman Surbakti dan adiknya, Datuk Alang Muhammad Bahar Surbakti angkat senjata terhadap pemerintah Belanda yang dibantu oleh Sultan Deli Mahmud Perkasa Alam yang dianggap sudah menghianati Sunggal. Dalam hal ini masyarakat Karo yang sudah memeluk agama (berbudaya) kembali disebut sebagai Batak oleh pihak Belanda karena dianggap sebagai perusuh atau penentang kepentingan mereka.

Dalam kenyataan seperti ini, maka jelas terlihat peranan Belanda dalam membentuk pengelompokan Batak dan Melayu adalah untuk tujuan pecah belah. Dugaan politik belah yang dilancarkan oleh pihak Belanda dalam pembentukan kelompok Melayu dan Batak juga terungkap dalam pada buku ‘Kolonialisme dan Etnisitas: Batak dan Melayu di Sumatra Timur Laut’ yang ditulis oleh Daniel Perret. Dalam buku tersebut Perret menyebutkan bahwa pada awalnya “Batak” dan “Melayu” itu tak terpisah. Sebagai kesatuan sosial, mereka terdiri dari beragam asal dan terbuka pada segala pusparupa budaya (kosmopolitan). Meskipun mereka terkelompokkan dalam topografi hulu-hilir/darat-pantai/pedalaman-pesisir, tapi makna hulu/darat/pedalaman tak mengacu pada tabiat kebiadaban atau keterbelakangan budaya. Faktanya, merekalah penonggak sistem perdagangan daerah, antar daerah, dan internasional sejak era prakolonial (hal. 78).

Terkait dengan keberadaan Perang Sunggal (Batak Oorlog), yaitu perang terlama di bumi Nusantara melawan penjajah yang dimulai dari tahun 1872 hingga 1895, maka Tengku Lukman Sinar menyebutkan bahwa tidak ada seorangpun dinobatkan menjadi pahlawan dalam Perang ini, sehingga layak disebut sebagai cacat sejarah. Dia memperkirakan Perang Sunggal yang mendapat medali khusus di Museum KNIL di Bronbeek Belanda, itu terbenam dalam sejarah perjuangan bangsa, karena perang itu disebut Belanda perang Batak Oorlog, sehingga yang muncul sebagai pahlawan nasional hanya Sisingamangaraja XII meski jelas-jelas tokoh Sisingamangaraja XII tidak terlibat sama sekali pada peristiwa tersebut.

About karobukanbatak

Suku Karo adalah suku asli yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Deli Serdang, Kota Binjai, Kabupaten Langkat, Kabupaten Dairi, Kota Medan, dan Kabupaten Aceh Tenggara. Nama suku ini dijadikan salah satu nama kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Kabupaten Karo. Suku ini memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Karo. Suku Karo mempunyai sebutan sendiri untuk orang Batak yaitu Kalak Teba umumnya untuk Batak Tapanuli. Pakaian adat suku Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas.
This entry was posted in Opini and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Politik Pecah Belah dalam Membatakkan Karo

  1. MUG says:

    ‘cacat sejarah’ kata Lukman Sinar, karena yang diangkat jadi pahlawan adalah orang yang sama sekali tidak terlibat dalam perang itu (‘Batak Oorlog’). Bagaimana kok komite pahlawan nasional bisa bikin kekeliruan sebesar itu?
    Apakah cacat sejarah tak bisa diperbaiki?
    Lagi lagi mengubah masa lalu (sejarah). ‘Hanya masa depan yang pasti, masa lalu akan selalu berubah-ubah’.

    MUG

  2. Ridwan says:

    Masyarakat Karo mendiami Kab. Karo, sebahagian kab. Langkat, sebahagia kab. Deli Serdang dan terdapat di daerah Alas (Aceh).

  3. @MUG
    Saya menilai bukan kekeliruan, Pak Ginting. Tapi, lebih kepada kesengajaan dan kompetisi etnis.

  4. benyamin sembiring says:

    Salam,

    Bastanta, nampaknya kam getol sekali ttg masalah KBB ini.
    Coba tolong kasih info, gak usah panjang panjang, secara singkat aja tentang karo itu bukan batak yg kam pahami. Karena sekian banyak yg ku baca argumentasi masalah ini kurang mengena.
    Mungin penjelasan kam bisa lebih kumengerti.
    Anggaplah ini meberikan pencerahan kepadaku supaya lebih paham.

    mejuah juah
    benz

  5. Parah ande bege, tapi seingat saya H. MS. Kaban, MSi yang masih menjabat Menteri kehutanan pada kabinet indonesia bersatu jilid I pada waktu itu getol untuk memperjuangkan agar Datuk Sunggal yang bergelar Sri Indra Baiduzzaman Surbakti untuk diangkat menjadi Pahlawan Nasional bahkan napak tilasnya dan seminarnya sudah dilakukan. Menurut sejarah, perjuangan melawan kolonial Belanda di tanah Karo pesisir ini lebih dahsyat dan panjang dibanding dengan perang yang pimpin Panglima Dipenogor di tanah Jawa, bagaimana kabarnya ya? setahu saya hanya Pa Kisar Bangun bergelar Si Gara Mata yang telah ditetapkan bapak Presiden RI sebagai pahlawan nasional.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s