Politik Pembatakan Membuat Karo Tertutup dan Terisolasi

Oleh: MU Ginting

Beberapa dekade belakangan ini, orang Karo mengalami degradasi kepekaan, kepedulian dan keinginan untuk membangun bumi sendiri. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Pertama karena penindasan tekanan kejama Orba yang anti-nasionalis Soekarno sedangkan “Karo adalah satu dengan Bung Karno” (pidato Guruh ketika berkunjung ke Karo).

Sebab penting kedua ialah karena Karo tak pernah terlihat keluar sebagai akibat dari poilitik PEMBATAKAN etnis saingan dalam ethnic competition.

Dengan politik pembatakan, Karo tertutup dan terisolasi dari pengetahuan umum. Karo bungkem atau ‘menerima saja’ dibilang Batak Karo, sehingga yang terkenal dan dikenal orang Bataknya, dan Karonya tak pernah ada yang mengenal. Sampai ada juga rumor atau pendapat umum bahwa orang Karo adalah Batak yang baik, artinya Bataknya yang baik tapi Karonya tetap saja tak ada yang tahu.

Sekarang kita semua bisa melihat sendiri, bagaimana pandangan atau sikap rakyat umum terhadap Karo, jelas sudah banyak perubahan, ke yang positif! Tak perlulah kita menganggap gerakan Karo Bukan Batak (KBB) telah banyak berjasa dalam mengangkat kedepan arti Karo itu, tetapi bisa dibandingkan kalau tak ada kegiatan KBB.

Sekarang yang tak giat dan yang selama ini diam atau ‘apatis’ dalam mengangkat Karo juga bisa membedakan Karo dimasa Orba, masa permulaan reformasi dan sekarang.

Lebih banyak yang merasakan positifnya, artinya bisa menikmati kemuliaan, dignity dan integritas yang ada dalam satu suku yang bernama Karo. Semua kita bisa membandingkan, sekarang dengan beberapa dekade kebelakang. Kita merasakan adanya IDENTITAS KARO, beda dengan identitas etnis lain dan sederajat dengan etnis lain. Tidak ada lagi yang mengganggap Karo sebagai salah satu sub-etnis tertentu.

Berhasilnya dan begitu cepatnya hasil gemilang ini bisa dicapai dalam waktu yang relatif pendek, tak bisa juga dipisahkan dari perkembangan pengetahuan dunia soal suku-suku Sumatera bagian utara ini, termasuk suku-suku di Aceh.

Perkembangan yang saya maksudkan ialah dalam lapangan antropologi dan sejarah, dan juga penemuan arkeologi USU bahwa Karo dan Gayo adalah grup manusia tertua didunia yang penah ditemukan di dataran tinggi Gayo, yaitu sekitar 7400 tahun.

Tak ada grup manusia atau budaya yang lebih tua dari ini. Dari sini terlihat jelas bahwa Karo dan Gayo bukan sub-etnis Batak, karena orang Batak sendiri menurut prof Bungaran Simanjuntak tiba di Sumatra sekitar 2500 tahun lalu, dari Taiwan lewat Pilipina.

About karobukanbatak

Suku Karo adalah suku asli yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Deli Serdang, Kota Binjai, Kabupaten Langkat, Kabupaten Dairi, Kota Medan, dan Kabupaten Aceh Tenggara. Nama suku ini dijadikan salah satu nama kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Kabupaten Karo. Suku ini memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Karo. Suku Karo mempunyai sebutan sendiri untuk orang Batak yaitu Kalak Teba umumnya untuk Batak Tapanuli. Pakaian adat suku Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas.
This entry was posted in Opini and tagged , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to Politik Pembatakan Membuat Karo Tertutup dan Terisolasi

  1. Reza Ginting says:

    Bang, sekarang saatnya bersatu. Cari sekutu. Kalau orang karo jalan sendiri manalah didengar suaranya di pentas nasional. Jadi gubernur pun tak bisa orang karo kalau mau jalan sendiri. Gak banyak jumlah orang karo. Saatnya merangkul etnis lain bang, yg terdekat ya dari orang-orang batak.

    • Boleh-boleh saja kita berkoalisi dengan orang Batak agar sukses di pentas nasional. Tapi dalam hal ini bukan berarti kita orang Karo harus melebur menjadi orang Batak. Intinya sama-sama mengakui saja, bahwa antara Karo dan Batak itu adalah sama-sama suku mandiri yang berasal dari Sumatera Utara

    • RGM says:

      KBB tidak berurusan dengan agenda pencapaian kekuassaan politik dan ekonomi. KBB murni gerakan pencerahan integritas jatidiri sebagai Karo. Tapi bahwa melalui KBB masa depan rakyat Karo lebih bersinar, itu sdh bisa diprediksi.

  2. MUG says:

    Abad 20 sebagai abad multikulturalisme, manusia mencari persamaan supaya bisa bersatu.
    Abad 21 manusia mempelajari perbedaan supaya bisa bersatu. Sekarang tak mungkin ada persatuan kalau tak memahani perbedaan. Atau masih mungkinkah? Kalau masih katakan mungkin berarti tidak jujur, karena perbedaan adalah MUTLAK tak bisa ditambah atau dikurangi seperti apa adanya secara alamiah atau kultural. Menghilangkan perbedaan atau pura-pura tak lihat perbedaan berarti tidak jujur atau ada maksud tertentu dibelakang atau ada ‘agenda tertentu’.
    Misalnya kalau dikoar-koarkan ‘karo sama dengan batak’, jelas tak jujur karena dengan begitu Karo terisolasi tak pernah dikenal orang. Ini agendanya dibelakang.
    MUIG

  3. Amos Tarigan says:

    Kesan pribadi..bahwa pada awalnya sy merespon dengan pandangan negatif diskusi tentang KBB. Semakin sering membaca tulisan ilmiah tentang KBB, sy semakin memahami maksud dan tujuan forum ini yaitu dalam rangka mewujudkan eksistensi Kalak Karo sebagai salah satu Suku di Indonesia yang memiliki sejarah nenek moyang tersendiri, berbeda dengan suku Batak, walaupun kondisi di lapangan sudah banyak terjadi percampuran antara Karo dengan Batak, atau mungkin ada merga Suku Karo tertentu yang berasal / dibawa orang yang merantau dari daerah Batak, namun pada dasarnya yang ingin disampaikan dan diyakinkan bahwa KARO adalah KARO dan bukan BATAK, dengan demikian Suku Karo harus dilihat, diakui dan dihargai dengan paradigma yang baru, berdasarkan sejarah asal muasal suku KARO sendiri, dengan melihat jauh ke ribuan tahun lalu bahwa nenek moyang Suku Karo memang berbeda dengan nenek moyang Suku Batak. Diskusi ini bila ditempatkan dan dibawa dengan benar, dan didukung dengan data / bukti sejarah yang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya, maka dapat dipahami bahwa forum ini tidak ada maksud menanamkan permusuhan, tapi meluruskan sejarah dari opini yg telah terbentuk selama ini bahwa KARO adalah BATAK. Dalam konteks persaudaraan, persatuan bangsa, tentu dengan semua suku di Indonesia termasuk BATAK sangat perlu kita (kalak KARO) galang persatuan dan kesatuan, namun dengan warna paradigma pengakuan bahwa Suku KARO adalah KARO, bukan BATAK. Memang tidaklah mudah dalam merubah paradigma ini di tengah tengah sebagian masyarakat KARO (termasuk saya sendiri), dan teristimewa di tengah tengah masyarakat Indonesia pada umumnya. Perlu disosialisasikan secara kontinu melalui berbagai media sosial tentang bukti bukti sejarah penduduk asli Suku KARO yang sesungguhnya dan tentu perlu adanya Pejuang Sejarah Karo yang tetap Care dan Concern tentang ini. Akan lebih efektif lagi bila Pemerintah ikut tampil/ambil bagian dalam menyampaikan sosialisasi diberbagai mass media tentang sejarah dan bukti2 sejarah penduduk asli Suku KARO, dimana lembaga pemerintah juga bertanggung jawab terhadap kebenaran sejarah Suku Bangsa di Indonesia. Bravo, Bujur. (Bagian dari sejarah : Amos Tarigan, bere Sembiring/Sialoho, bulang Paropo nari, kempu Perangin angin, asli Penduduk dan Warga Negara Indonesia).

  4. doni says:

    Sukuisme sudah mulai di tinggalkan org, dan nasionalisme sedang trendy, selain itu internasionalisme mulai berkembang, namun yang ada di depan mata adalah regionalisme, di 2015 semua kita akan mengucapkan selamat tinggal nasionalisme dan selamat datang regionalisme “good bye nationalism and welcome regionalism, welcome to ASEAN Community, mulai 2015 semua etnis antar bangsa akan. Mulai berinteraksi dan kontak langsung, beberapa budaya mainstream akan masih meraja lela, budaya budaya yg tidak praktis akan di tinggalkan, budaya yg terkesan kolot akan di jauhi, media akan menjadi arena perhelatan antar budaya, bahasa inggris akan masih tuan di dunia kerja dan alat komunikasi praktis di lapangan, selain bahasa mandarin, sementara bahasa indonesia akan bertahan di dunia pendidikan formal dan pemerintahan, bahasa bahasa daerah akan terpinggirkan, dan hanya di pakai untuk acara acara yg menyangkut adat, sayang nya di masa mendatang adat adat akan terganti dengan budaya asing mainstream yg di anggap lebih memberikan solusi terhadap situasi sosial, bahasa batak untuk beberapa dekade akan lestari di ranah adat dan dilingkungan gereja ( ada HKBP) karo juga demikian, namun di prediksi Batak mungkin survive, karna sudah terbentuk berbagai organisasi modern, baik di kalangan tua maupun muda di berbagai kota, sehingga walaupun acara adat tidak setiap hari ada, namun karna sudah terbentuk organisasi modern batak sebagai wadah, membuat batak lebih tahan terhadap penetrasi budaya luar, selain itu org batak kemungkinan akan memaksimalkan media, untuk membentuk opini masyarakat dan menampilkan budaya batak modern yg praktis dan elegan, budaya karo sama seperti batak juga akan survive, namun hanya mungkin mempertahankan yg ada saja, untuk melebarkan sayap dan menyebarkan budaya karo ke non karo akan mendapat perlawanan sengit dari tetangga yaitu budaya melayu, namun karo kemungkinan unggul dan lebih menjual di media karna keunikannya, walau begitu karo akan kalah di ranah politik dengan jumlah massa yg lebih kecil di banding melayu, selain itu etnis jawa akan semakin bertambah banyak dengan perpindahan dari jawa ke arah sumatera atau dari aceh ke medan, hal ini disebabkan dari sumut dianggap sebagai pintu gerbang antar bangsa, di asean, dan lebih menjanjikan secara keamanan dan ekonomi di banding aceh, medan dan daerah sekitarnya akan menjadi arena persaingan berbagai org dari berbagai budaya untuk mencari penghidupan, tanah batak samosir, mungkin akan menjadi garda terakhir terhadap penetrasi budaya luar mengingat posisinya yg di tengah dan di apit oleh etnis etnis lain, namun hal hal yg sakral dari adat kemungkinan akan tergadaikan demi ekonomi dan pariwisata, para investor akan semakin gencar, dan kelak kita akan melihat ada anak muda bernama Dedi Ginting bercakap cakap pake bahasa inggris dan rambutnya mirip F4 di balut baju ala korea, dan yg lebih lucu lagi, kalau kenalan pake kata “enyeoaseo”..hahhahaha, .

  5. RGM says:

    Crimea lepas dari Ukraina dalam referendum kemaren jelas soal etnisitas, yakni etnis dan atau orang yang berbahasa Rusia ingin bergabung dengan Rusia. Rencana utk bikin Protap pisah dari juga jelas berurusan dgn etnis dan budaya. Jadi, soal etnis, agama dan budaya akan selamanya berperan besar dlm menentukan dlm pengambilan keputusan sospolekbud. Tdk perlu alergi dan sembunyi2 utk membicarakannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s