Seminar Mitos dan Sejarah Batak di Unimed

Narasumber Pada Seminar Mitos dan Sejarah Batak

Narasumber Pada Seminar Mitos dan Sejarah Batak

Seminar dengan thema ‘Telaah Mitos dan Sejarah Dalam Asal Usul Orang Batak’ yang diselenggarakan oleh Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Medan (Unimed) telah berlangsung di Ruang Sidang FIS Unimed [Jumat 9/1]. Seminar ini menghadirkan 3 narasumber, yakni Prof. Dr. Uli Kozok dari University of Hawai, Prof. Dr. Bungaran Simanjuntak dari Universitas Negeri Medan, dan drs. Ketut Wiradynyana MA dari Balai Arkeologi Medan.

Bungaran Simanjuntak yang tampil sebagai pembicara pertama membawakan makalah dengan judul ‘Korelasi Causal Antara Mitos dan Sejarah Dalam Mengembangkan Sejarah’. Sedangkan Ketut Wiradyanyana yang tampil sebagai pembicara ke dua membawakan makalah dengan judul ‘Identifikasi dan Penelusuran Jejak Peradaban Batak Toba di Pulau Samosir’. Adapun Uli Kozok mambawakan makalah dengan judul ‘Memahami Fakta di Dalam Mitologi Si Raja Batak’.

Meski sebagian peserta menduga seminar ini membahas tentang sejarah asal-usul orang Batak yang dianggap terdiri dari beberapa sub suku bangsa Batak seperti Pakpak, Karo, Simalungun dan Mandailingh, ternyata Batak yang dimaksud dalam seminar terbatas pada apa yang kadang-kadang disebut juga Batak Toba. Adapun Karo, Mandailing, Simalungun, dan Pakpak yang selama ini dianggap juga oleh sebagian orang sebagai bagian Batak ternyata bukanlah Batak yang dimaksud di dalam seminar ini.

Terkait dengan itu, salah seorang peserta seminar yang kebetulan orang Karo merasa senang sekali ternyata seminar ini menganggap Karo bukan bagian Batak.

Semua materi seminar yang dibahas sejak Pukul 14.00 WIB ini melulu menyangkut Batak yang terbatas pada apa yang kadang disebut juga Batak Toba, sementara pembahasan tentang Karo tak ada sama sekali.

“Seminar ini berthema tentang telaah mitos dan sejarah dalam asal-usul orang Batak, namun yang dibahas tak sedikitpun menyangkut tentang Karo. Dengan demikian maka sudah jelaslah bahwa Karo memang bukan Batak,” ujarnya dengan nada tegas dan puas.

Hal menarik yang perlu dicermati dalam seminar ini, yakni dari pemaparan materi yang dibawakan oleh Ketut Wiradnyana. Menurut Ketut, berdasarkan Ilmu Geoglogi, setelah terjadinya kaldera Toba 75.000 tahun lalu, Pulau Samosir kemudian baru muncul ke permukaan setelah 30.000 tahun belakangan. Hal ini kemudian disusul Tuktuk yang muncul ke permukaan setelah 5.000 tahun yang lalu.

“Berdasarkan Ilmu Geologi ini, maka kita mempertanyakan sejak kapankah Pulau Samosir mulai dihuni oleh Manusia? Berdasarkan penggalian yang saya lakukan di Sianjur Mula-mula, maka hasilnya didapatkan sekitar 600 tahun yang lalu,” ujarnya.

Begitupula menurut Ketut, bila dikaji berdasarkan tarombo Si Raja Batak, maka akan didapatkan hasil kehidupan awal orang Batak yang masih sangat muda, yaitu sekitar 700-800 tahun yang lalu.

“Berdasarkan tarombo dari Si Raja Batak, kehidupan orang Batak hingga sekarang terdiri dari 28 sampai 32 generasi. Adapun perkiraan untuk masing-masing generasi terdiri dari 25 tahun. Dengan demikian, maka kehidupan awal orang Batak juga tergolong masih muda, yakni antara 700 hingga 800 tahun,” ujarnya.

Keberadaan kehidupan awal orang Batak ini kemudian diperbandingkan Ketut dengan hasil penggalian yang dia lakukan di Loyang Mandale, Loang Ujung Karang, Aceh Tengah beberapa tahun lalu. Dari penggalian tersebut ditemukan kerangka manusia purba yang diperkirakan telah berusia 5000 tahun.

“Berdasarkan hasil serangkaian tes yang dilakukan, DNA kerangka manusia purba yang ditemukan tersebut identik dengan DNA orang Gayo dan Karo,” paparnya.

Tidak jauh berbeda dengan pendapat Ketut, Uli Kozok juga berpendapat hampir sama bahwa keberadaan orang Batak memang masih muda sekitar 600 tahunan. Pendapat ini juga kemudian dikuatkan oleh Dr. Ichwan Azhari saat memberikan komentar pada sesi tanya jawab.

Sumber: http://www.sorasirulo.com/2015/01/09/seminar-mitos-dan-sejarah-batak-di-unimed/

About karobukanbatak

Suku Karo adalah suku asli yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Deli Serdang, Kota Binjai, Kabupaten Langkat, Kabupaten Dairi, Kota Medan, dan Kabupaten Aceh Tenggara. Nama suku ini dijadikan salah satu nama kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Kabupaten Karo. Suku ini memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Karo. Suku Karo mempunyai sebutan sendiri untuk orang Batak yaitu Kalak Teba umumnya untuk Batak Tapanuli. Pakaian adat suku Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas.
This entry was posted in Sejarah and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s